Puisi
Keriap-Kerlap Bintang-Gemintang (I) aku ingin melihatmu, yang cahaya. berpendaran kilau-kilauan yang membuat hatiku berdecak. seakan-akan ingin kukatakan, “hei, dari mana kau dapatkan semuanya?” atau,”hah, aku aku tak yakin jika itu semata-mata alamiah.” engkau yang diam mendengarnya: tersenyum masygul. aku penuh harap-cemas, menduganya. (II) lagi,lagi ya lagi dan lagi. arus mebawa gelombang yang memercikkan cahaya. meski sebenarnya aku terus berlayar dan mengarungi rinduku,”sampai kapan engkau bersembunyi dariku?” aku tak harus bertapa menggeriapmu, bintangku. kebekuan bernyali meruntuhkan beranda, gelap. kaucari pelita yang bersitahan dari gerus tsunami dan gemuruh badai? kausampaikan pada semesta tentang lautnya yang beku. (III) seberkas cahayamu matamu, aneh. tergolek menjumputi sisa-sisa tenaga di sebuah telaga. meratapi kengerian yang mulai merongrong ditelan prahara—silih berganti pada sepasang musim. kemarilah engkau, duduklah bersamaku...