Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Sungai Batanghari

DI SEPANJANG SUNGAI NEGERI JAMBI asap bersungut memerahmarunkan rembulan, cakrawala menggurun di kota beradat. Gentala Arasy bersitegap menekuri embun--sekiranya hujan turun. ampun! luruh Batanghari menyeka air mata genangan sampah; serupa sampan pelanpelan merayapi di sepanjang sungai negeri Jambi alamak! 01/09/15 Gie Dua Puisi yang sederhana bukan?  Ya begitulah aku sebagai orang Jambi meratapi dan betapa meresahkan semua persoalan ‘klise’ yang cenderung berlarut-larut itu. Setiap hari aku merasakan pemandangan yang tak sedap dan terasa mengenaskan. Menurut pengamatanku, itu bukanlah kesalahan penuh sang pemerintah. Itu adalah hasil perbuatan si masyarakatnya. Tengoklah sejenak ke Angso Duo—sebuah pasar tradisional yang berada di dekat sungai Batanghari. Keadaannya sekarang sebenar dan seharusnya lebih baik dari tiga tahun lalu—misalkan. Tapi pada kenyataannya begitu kumuh dan memprihatinkan. Bukan dari struktur jalan yang sudah banyak dibenahi pa...

Resensi Buku Puisi Rina Heryani

Jejak Cinta Seorang Pendidik Oleh: Sugianto (Gie) JUDUL                  : Beranda Cinta Ibu PENULIS              : Rina Heryani PENERBIT           : Gambang Buku Budaya KOTA TERBIT    : Yogyakarta TAHUN TERBIT : 2015 CETAKAN           : Pertama DESKIPSI FISIK  : 153 halaman ISBN                     : 978-602-6776-00-6 Cinta … Rasanya itu ungkapan yang sesungguhnya di balik cover coklat muda antologi puisi terbaru Ibu Rina Heryani. Jika buku pertama dipersembahkan untuk Putri sulungnya, (yang sekarang) sedang menempuh pra studi di Jerman. Maka di antologi kedua ini pun tak lepas dari rasa rindu yang berlapis itu. Dibalut hijab sewarna kenanga sambil menjereng senyumnya si ibu yang berprofesi s...

Resensi Novel M. AAN MANSYUR Pustaka Penulis Adalah kesepiannya Oleh: Gie JUDUL                 : Lelaki Terakhir Yang Menangis Di Bumi PENULIS             : M. Aan Mansyur PENERBIT           : GagasMedia KOTA TERBIT    : Jakarta Selatan TAHUN TERBIT : 2015 CETAKAN           : Pertama DESKIPSI FISIK  :  260 Halaman ISBN                      : 979-780-816-5 Penulis manapun rasanya tak memungkiri ungkapan Tan Malaka dalam Mandilog bahwa  “Sudah tentu seorang pengarang atau penulis manapun juga adalah murid dari pemikir lain dari dalam masyarakatnya sendiri atau masyarakat lainnya. Sedikit ia dipengaruhi oleh guru, kawan sepaham, bahkan oleh musuhnya sendiri.” Sadar dan sesadar-sadarnya seringkali ia mengutip nama dan quote dari ‘gurunya’ itu. Dan begitulah yang terjadi pada novel M. Aan Mansyur yang berjudul “Lelaki Terakhir Yang Menangis Di Bumi”. Ia seakan tak habis-habisnya mengutip dan menerapkan dalam setiap literatur tulisannya. Serupa Desaingner handal, ia mempercantik rancangannya dengan aneka rupa, warna dan asesoris yang mengagumkan. Tak terlepas dari dirinya seorang pustakawan dan predator buku sejati maka terbitlah novel ini dan bukannya ‘yang terakhir’. Rasanya pun aneh jika menyaksikan rekam jejak seorang penulis sekaliber Aan Mansyur jika tak memiliki quote. Mungkin ini kebiasaan yang terjadi pada setiap pengarang—selalu mengutip untuk diterapkan—maka ia pun menjadi golongannya (pengarang juga). Novel inipun ceritanya sederhana dengan bumbu-bumbu percintaan dan pergulatannya yang hebat. Dan betapa bukan menjadi rahasia umum jika Indonesia adalah masyarakat yang budaya bacanya ‘payah’. Itu yang sejatinya ingin disampaikan penulis dari Makasar ini. Meski banyak hal yang tersirat di sana-sini yang begitu berceceran. Dengan cerdasnya ia membuat pembaca terkadang bingung dan kecele sambil menarik nafas panjang. Bukan hanya ngos-ngosan tapi pun garuk-garuk kepala yang tak gatal. Aneh bukan? itu kenapa buku ini berada di tangan penggemarnya. Siapapun mungkin akan berkata pada dirinya sendiri tentang apa yang dilakukannya atau apa yang sedang ia kerjakan ini berguna atau tidak? Atau kenapa ia berada pada situasi yang tak menjanjikan dalam hidupnya. Bahkan mungkin keadaan yang seperti titik nadir terjadi sebuah loncatan yang disebut ‘Keajaiban”. ketika membuka halaman pertama mungkin pembaca akan menilai ini adalah novel yang berat sekaligus menjemukan. terlebih bagi seseorang yang tak terbiasa pada lompatan alur; maju mundur. pembaca akan dibawa pada percakapan aku dan si jiwa. tanpa perlu menampilkan sosok Wisran dan mencari kea rah mana ia membimbing pembacanya memasuki labirin pikirannya. Akan terlihat ia adalah gen yang berbeda dari kebnayakan, dan itulah yang terasa pada karya Aan Mansyur. Pertama membuka halaman, pembaca yang sedang bergiat mencari tokoh panutan atau buah pikiran yang didapati penulis akan kentra di sini. Berupa catatan-catatan kaki yang berjumlah sangat banyak, ini cukup merepotkan. Ini kenapa ia mencoba memasukkan dirinya “cerdas” dan pegungkapan yang banyak. seperti ungkapan Tan Malaka, ia menjadi banyak tahu. Tapi sayangnya pembaca yang tak jail atau tak terlalu suka dengan catatan kaki akan terasa melelahkan. Biasanya pembaca akan secepat mungkin mengaahabiskan bab per bab dari sebuah novel, dengan tujuan ia tahu jalan cerita dan ending dari yang dibacanya. Seseorang bisa saja terjebak pada situasi yang ‘melelahkan’ tadi. Namun sayangnya pembaca akan disuguhi itu sampai pada halaman yang ke seratus sekian. Sedikit mengelus dada bahwa ia bisa melewati ‘njlimetnya’ novel romantik idealis ini. Proses yang tak sebentar menggarap sebuah cerita akan membuatnya terasa hidup dan membawanya menjadi mimpi terbaik. Pertama ia membawa kita pada persoalan masa kecil dan kampung halaman. Terus dibawa pada sebuah makna persahabatan, kasih sayang, toleransi bahkan mitos yang hidup di belahan bumi nusantara. Bahwa jimat adalah seringkali menjadi benteng bagi seseorang. Mungkin ini pengaruh dari kepercayaan nenek moyang tentang animisme dan dinamisme. Sampai di jaman modern ini pun anak cucu tak lepas darinya. Menarik untuk diikuti pengembaraan dalam setiap kata yang dituturkannya. Berhasil pula ia bercakap-cakap dengan pembaca sambil mengenalkan dirinya. cukup halus ia tuliskan nama Aan mansyur dengan segala kelihaiannya itu. Sekedar harapan bahwa ia cukup piawai menorehkan namanya dalam sederet nama penyair Indonesia sekarang. Bahkan ia tak bisa menyembunyikannya lewat puisi yang diulisnya sendiri, sambil mencangkokkan segepok penyair dunia yang dianggapnya sebagai ‘Ibu atau kekasih’ dalam khayalannya. Nama seperti Silvia Plath, Anne Sexton, Naomi Shihab Nye, Mary Oliver adalah beberapa dari banyaknya penyair yang mempengaruhinya. Dan itulah yang terjadi pada buku ini. Ia mengajak pembaca pada ‘guru-guru’nya dan membredeli kelakuan pemuda masa kini—yang tak bisa dipungkiri dari rasa haus kepada cinta, cita-cita dan kehanacuranya sendiri. Bisa dikatakan satire bagi mahasiswa yang kritis namun tak berimbang dengan apa yang diperjuangkan. Apa yang diharapkannya pada Nanti pada akhirnya berujung pada ‘kesepian-kesepiannya’. Ia bertutur melalui bibir Rahman, “Lihatlah bintang, bahkan ketika jatuh ia terlihat indah. Kadang-kadang dalam hidup ini, kita hrus seperti bintang, jatuh demi membuat seseorag tersenyum dan berdoa.” Seiring dengan berlalunya waktu maka semua cinta akan musnah oleh waktu. Itu yang terjadi. betapa Jiwa menuliskan begitu dalam dan menyakitkannya. Segala kecerobohannya tentang harapan dan perempuannya itu. Ketika si ibu bertanya tentang kisah cintanya maka di sanalah ia mencoba menjadi ‘lelaki  terakhir yang menangis di bumi’ setidaknya itu yang ingin diluapkan kepada cinta. Ia terus memikirkan Nanti bahkan ketika sudah menjadi janda sekalipun—harapannya timbul tenggelam. Mirisnya ia terjebak pada percintaan demi percintaan yang pernah ia lakoni. Seperti priode hidup manusia; lahir, balita, remaja, dewasa, tua dan mati. Maka seperti itu pula cinta itu, bermula dari pandangan mata, perkenalan, percintaan yang dibumbui adegan-adegan dewasa—meski seseorang belumlah dewasa, pertengkaran, perpisahan dan permusuhan. Oh cinta… dimanakah? Sampai pada akhir kisah di buku ini pembaca akan masih terjebak pada kebingungan-kebingungan. Itu yang terjadi. Setiap orang berhak menfsirkan cinta ittu sendiri dalam khayalan dan realita. Semuanya kembali ke diri si pembaca.  Jambi, 08/11/15 Diposkan 8th November oleh Sugianto Jhonson      Lihat komentar Memuat

Pustaka Penulis Adalah kesepiannya Oleh: Gie JUDUL                 : Lelaki Terakhir Yang Menangis Di Bumi PENULIS             : M. Aan Mansyur PENERBIT           : GagasMedia KOTA TERBIT    : Jakarta Selatan TAHUN TERBIT : 2015 CETAKAN           : Pertama DESKIPSI FISIK  :  260 Halaman ISBN                      : 979-780-816-5 Penulis manapun rasanya tak memungkiri ungkapan Tan Malaka dalam Mandilog bahwa  “Sudah tentu seorang pengarang atau penulis manapun juga adalah murid dari pemikir lain dari dalam masyarakatnya sendiri atau masyarakat lainnya. Sedikit ia dipengaruhi oleh guru, kawan sepaham, bahkan oleh musuhnya sendiri.” Sadar dan sesadar-sadarnya seringkali ia mengutip nama...

Resensi Novel Rini Ristianti

Jambi, 201015 Gugur Tumbuh Sakura Muda Oleh: Gie Sugianto Judul                : Wajah Sakura Di Cermin Dila Penulis             : NR. Ristianti Penerbit           : AE Publishing Kota Terbit      : Jakarta Tahun Terbit    : 2015 Cetakan            : Ke-1 Deskripsi Fisik : 226 hlm ISBN                : 978-602-1189-55-9 Seketika hatiku terbang ke bunga sakura, Jepang… yaps ingatanku mengarah ke sana. Begitu setidaknya kesan pembaca ketika melihat cover di Novel NR. Ristianti ini. Pembaca akan terpedaya ketika memasuki awal bab yang nyatanya berada di sekitaran pulau Jawa tepatnya Bandung. Adalah Dil...

ASAP INI MEMBUNUHKU

Jambi, 17/09/15 ASAP INI MEMBUNUHKU Oleh: GIE Sugianto “Merokok bisa membunuhmu”  Itu adalah slogan yang ada di antara iklan rokok. Lazim dan pada kenyataannya itu adalah benar. Dan perlu saya garisbawahi bahwa dengan menjadi perokok seseorang sudah menjadi penyokong bagi petani dan pengrajin tembakau sekaligus pabrik-pabrik yang ada di Indonesia. Saya tidak menyarankan merokok, itu hanya segelintir fakta yang menyenangkan. Lalu bagaimana yang terjadi jika asap ‘rokok’ itu memenuhi sebuah ruang udara di sebuah kota, pulau bahkan sebuah negeri? Bisakah itu disebut sebagai bagian dari hal yang menyenangkan? Ehm… saya rasa tidak. Di sini, ya di kota ini—Jambi tercinta. Sebuah kota beradat yang rupanya kecolongan asap. Maka iklan itu berubah menjadi “Asap bisa membunuhmu.” Ini yang paling tepat. Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan lebih dari sebulan kita seakan menjadi bulan-bulanan asap. Gejala yang paling terasa adalah tenggorokkan sakit, mata perih dan tentunya...

Menulislah

Awal-muasal ku menulis Aku bergelut dalam tulis-menulis sejak SMU. Yang ditulis saat itu adalah puisi dan sampai sekarang pun, puisi masih jadi pengobat di kala jenuh dan batin menghimpit. Jika ditanya kenapa aku menulis? Jawabannya adalah bisa berbagi dan menginspirasi melalui karya yang aku buat. Meskipun pada dasarnya aku tidak tahu tujuan menulis itu apa dan ke mana? Tapi seiring waktu berjalan, pengalaman dan pergaulan yang kian bertambah maka tujuan pasti tetap ada. Lantas bagaimana aku bisa tahu bahwa ini adalah karya tulis? Ah, sederhana. Karena aku cukup menuliskan keresahan-demi keresahan yang melanda di jiwa. Sebelum menjelajah lebih jauh, maka bolehlah aku memperkenalkan diri. Aku terlahir di Jambi pada 20 Oktober 1984 dengan nama lengkap Sugianto. Dalam keseharian dipanggil “Gi” maka nama pena yang sering bertebaran di beberapa Antologi adalah “Gie”. Nama ini aku bubuhkan dalam jejaring sosial, terutama FB. Dari media inilah cikal bakal kelahiran tulisan-tulisan...

Kebahagiaan

Kebahagiaan Letaknya Di mana? Oleh: Gie “Terkadang untuk menemukan kebahagiaan, maka mustilah membunuh kebahagiaan itu sendiri,” Begitu suatu kali status saya di FB. Ada yang setuju, ada pula yang tidak. Ya, terserah. Bagi negara yang mulai tumbuh dan berkembang demokrasinya, semuanya hal yang lumrah. Bagi yang menerima karena paham itu hal yang sangat biasa, tapi bagi yang tak bisa menerimanya, “Bagaimana mungkin kebahagiaan itu bisa dibunuh? Itu sesuatu yang mustahil. Sedangkan kebahagiaan itu bersumber dari Tuhan. Itupun munculnya dari hati, bukan dari hasil apa-apa yang diusahakan manusia, kita hanya menerima.” Tulis mereka yang tersulut emosinya. Seperti yang sudah-sudah, saya menulis status di FB bukanlah sumpah sampah serapah. Bagi saya media sosial apa pun bentuknya; twiter, instagram, fb, BBM dll, adalah sebuah identitas. Kalau ada yang mengeluh, memaki bahkan menghina si anu dan si itu, itu terserah. Tergantung siapa yang membuat. Bearti demikianlah bodohnya i...

Puisi

Keriap-Kerlap Bintang-Gemintang (I) aku ingin melihatmu, yang cahaya.  berpendaran kilau-kilauan yang membuat hatiku berdecak. seakan-akan ingin kukatakan, “hei, dari mana kau dapatkan semuanya?” atau,”hah, aku aku tak yakin jika itu semata-mata alamiah.” engkau yang diam mendengarnya: tersenyum masygul. aku penuh harap-cemas, menduganya. (II) lagi,lagi ya lagi dan lagi. arus mebawa gelombang yang memercikkan cahaya. meski sebenarnya aku terus berlayar dan mengarungi rinduku,”sampai kapan engkau bersembunyi  dariku?” aku tak harus bertapa  menggeriapmu, bintangku. kebekuan bernyali meruntuhkan beranda, gelap. kaucari  pelita yang bersitahan dari gerus tsunami dan gemuruh badai? kausampaikan pada semesta tentang lautnya yang beku. (III) seberkas cahayamu matamu, aneh. tergolek menjumputi sisa-sisa tenaga di sebuah telaga. meratapi kengerian yang mulai merongrong ditelan prahara—silih berganti pada sepasang musim. kemarilah engkau, duduklah bersamaku...

Gie

Gambar