ASAP INI MEMBUNUHKU
Jambi, 17/09/15
ASAP INI MEMBUNUHKU
Oleh: GIE Sugianto
“Merokok bisa
membunuhmu”
Itu adalah slogan yang ada di antara iklan rokok. Lazim dan pada
kenyataannya itu adalah benar. Dan perlu saya garisbawahi bahwa dengan menjadi
perokok seseorang sudah menjadi penyokong bagi petani dan pengrajin tembakau
sekaligus pabrik-pabrik yang ada di Indonesia. Saya tidak menyarankan merokok,
itu hanya segelintir fakta yang menyenangkan. Lalu bagaimana yang terjadi jika
asap ‘rokok’ itu memenuhi sebuah ruang udara di sebuah kota, pulau bahkan
sebuah negeri? Bisakah itu disebut sebagai bagian dari hal yang menyenangkan?
Ehm… saya rasa tidak. Di sini, ya di kota ini—Jambi tercinta. Sebuah kota
beradat yang rupanya kecolongan asap. Maka iklan itu berubah menjadi “Asap bisa
membunuhmu.” Ini yang paling tepat. Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan lebih
dari sebulan kita seakan menjadi bulan-bulanan asap. Gejala yang paling terasa
adalah tenggorokkan sakit, mata perih dan tentunya dada terasa sesak. Keadaan
diperparah ketika waktu beranjak pagi, siang dan senja menjadi hal yang paling
memilukan. Betapa tidak, kita seolah tak boleh melihat adanya sinar matahari
atau leluasanya udara menjelajahi cakrawala.
Akibat dari semunya
itu adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Yang paling rentan pada usia
itu adalah anak-anak dan balita. Puskesmas dan rumah sakit dari hari ke hari
sejak kabut asap melanda seakan tiada boleh tutup—seharusnya. Pasien datang
tiada henti dari berbagai penjuru. Dengan keluhan yang sama: asap. Bukan hanya
anak-anak, tapi orang dewasa pun kewalahan menghadapai ganasnya kabut ini. Hampir
di tiap sudut kota orang-orang berontak dan meminta turunnya hujan, sholat istiqah
pun digelar seakan sebuah pesta besar. Berbondng-bondong menuju tanah lapang.
Orang-orang selalu memohon agar hujan segera turun, asap bukan hanya membuat
anak-anak harus berhenti bermain sejak sekolah membuatnya berada di luar
lapangan.
Sayangnya kian hari
makin memperihatinkan kota ini dan beberapa kota yang menjadi imbasnya.
Perekonomian seakan runtuh, dedaunan lusuh, keruh Sungai Batnghari memendar ke
udara, ah parahnya. Di luar itu sebenarnya banyak hal yang mencederai Jambi
dengan segepok masalah yang belum tuntas. Kualitas air sungai yang
dipertanyakan Wakil Presiden Jusuf Kalla itupun belum rampung? Sampai genangan
sampah yang menyerak di tepian Ancol itupun tak juga kelar. Kerja keras yang
rasanya melelahkan. Ini—kabut asap—dari tahun ke tahun seakan menjadi selebrasi
rutin, unik dan dramatik, hidup di Jambi bearti harus siap bertempur melawan
asap. Istilah seorang warga ketika diwawancarai sebuah stasiun teve,”Jika
Jepang pengekspor motor, maka Jambi pengekspor asap,” Jambi kota beradat, Jambi
pun kota berasap.
Tiap tahun petugas
dan relawan rasanya tak kurang mengurusi titik api. Mereka berjibaku
mengerahkan seluruh tenaga sekaligus jiwanya. Kadang memadamkan api butuh
kesiapan mental agar tak terjebak bahkan tercerap asap itu sendiri. Rasannya
mungkin bosan mendengar pembakaran dan pembalakan hutan di negeri Jambi
tercinta. Rasanya pun jenuh menangkap dan menjerat si pelaku. Rasanya pun geram
menahan amarah di dada. Sambil berdoa, “Ya Rabb, kapan semua ini berakhir?”
kemarau saja sudah sangat menyiksa bagi sebagian kota di pulau lain. Tapi asap
bercampur abu halus mengingatkanku pada hujan abu ketika gunung meletus. Asap
berhamburan memadati halimun, sementara abu sisa pembakaran beterbangan ke
langit, sialnya turun ke halaman dan jalanan
kota ini—setiap hari. Bagaimana rupa paru-paru ini? Bagaimana mungkin
kota yang dihuni hutan lebat, justru di berangus oleh ‘manusia’ rakus. Tak
cukupkah hutan lindung ditumbuhi sawit? Tak cukupkah gelondongan kayu yang raib
akibat illegal loging? Tak kasiankah pada iklim yang berpusing tak tentu?
Semuanya seperti bumerang yang kembali ke asal.
Kota ini serupa tempat di sebuah film horror yang dipenuhi kegelapan,
ketakutan dan rasa takut. Kapan keluar dari zona ini?
Bisakah? Tentu.
Dengan catatan pola pikir kita diubah. Bumi ini sudah terlampau panas dengan
adanya polusi udara yang dihasilkan pabrik dan kendaraan bermotor. Ozon sudah
kian tipis, itu yang membuat cuaca ekstrim menyerang bumi pertiwi. Musim yang
dulu dikenal penghujan dan kemarau, kini
hilang entah kemana, sekalipun ada—masih dikenali lewat bulan-bulan
tertentu—tetap saja peralihannya tak tentu dan tak bisa diprediksi seperti
sedia kala. Musim-musim yang bisa diprediksi lewat rasi bintang—dulu—kini
hanyalah sebuah ilmu yang hanya bisa dipelajari lewat ilmu astronomi. Semuanya
berubah; kalender dan galaksi yang berisi rasi bintang itu seakan tiada lagi
setia menandai musim. Alhasil garis khatulistiwa menjadi sebuah garis yang
beredar dalam peta. Dan itu tak benar terjadi pada kenyataan iklim yang ada di
bumi pertiwi. Duh.. Gusti.
Cinta… rasanya ini
dipunyai setiap orang yang ada dalam sebuah tempat yang namanya bumi. Ada apa
dengan dia, kenapa disebut-sebut? Toh dia tak ada hubungan dengan cuaca dan
isinya. Katamu. Yap, bolehlah berpendapat demikian. Tapi justru itu penentu
sekaligus pemicu—jika ingin bumi ini lestari. Sekarang coba bayangkan jika
seseorang mencintai sesuatu. Tentu ia akan menjaga, merawat bahkan rela menjadi
berkorban ketika yang dicintainya terluka. Menjadi pecinta bearti siap dengan
segala resiko yang konon katanya adalah hal yang paling menggetirkan dalam
hidup. Sesungguhnya pertarungan bukankah mempertahankan eksistensi cinta itu
sendiri? Hutan ini, sungai ini, tanah ini, gunung ini bahkan langit ini? Apakah
kita cinta? Rasanya jikapun ada rasa cinta itu hanyalah sebatas ungkapan di
bibir saja.
Segelintir orang
sudah begitu tamak mencengkeram bumi ini. Uang,uang dan uang. Alhasil hukum
alam bekerja dengan sendirinya. Ia kembali pada orang yang terlanjur manis pada
alam ini. Asap telah sampai ke Singapura dan Malaysia. Ia sudah mengendap-endap
menempati ruang terbaik di negeri itu. Ia menjadi semacam kutukan yang menjadi
momok. Berapa dan betapa ‘sakitnya’ kita jika membiarkan ini berlarut-larut.
Naifnya kita yang cenderung prihatin adalah si bule yang penjajah itu. Kasihan.
Dan kenapa kita selalu terlambat dalam segala hal, termasuk menangani persoalan
pelik nan klasik ini?
Komentar
Posting Komentar