Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Sharing

Gambar
Jambi, 13 Des. 17 Pernikahan Itu ... Cinta itu berwujud seperti apa sih? Saya sungguh tak mengerti. Ada yang bilang, sosoknya sungguh menyenangkan seperti kelopak mawar yang sedang merekah. Namun ada juga yang mengatakan memag mawar tapi berduri. Hah... iya mawar kan penuh duri, batinku. Penyair pernah mengidentikan dengan kata-kata yang indah dan penuh metafora. Lantas apakah ia salah dengan segala kekutan kata yang dimilikinya? Rasanya tidak. Alih-alih cinta itu mawar, duri, mawar berduri atau duri-duri mawar, toh, ia tetap ada di kehidupan manusia. Kita berhak menunjukkan dan berkata seperti seharusnya apa yang dikehendaki.  Suatu kesempatan seorang teman datang ke rumah, ia sudah menikah dan punya anak yang menggemaskan. Umurnya kira-kira dua tahun, bocah lelaki yang didambakan seorang ayah tentunya. Biasanya ia datang dengan anak isterinya, sambil berkata, “Ini keponakanmu, ia sudah bisa mengucapkan nama-nama hewan loh,” katanya. Aku hanya tersenyum sambil memb...

Puisi

Gambar
Penyair Kota Ini Oleh: Sugianto /i/ Penyair kota ini adalah semerbak kuncup-kuncup bunga Yang mencatatkan namanya dalam sebuah buku memoar dan ditembusi oleh tetesan tinta emas. Pelanggan puisi pun bertanya tentang aneka warna kelopak bunga, lalu malu malu penyair itu pun menjawab bahwa keadaan sudah merdeka,   “Ini hari-hari tanpa ideologi dan ukiran prasati. Ini adalah masa di mana percakapan dan perjalanan diterjemahkan oleh mesin mesin digital. Ini adalah investasi yang tumbuh dan tenggelam oleh derasnya sistem data.” Penyair kota ini adalah sekelompok kurcaci yang bergerombol di istana kecil. Yang meruntuhkan istananya di bawah tekanan kerajaan kerajan baru. Wong cilik pun bertanya tentang sebuah keadilan yang meledak-ledak di antara hotel berbintang. Mereka terus bertanya tentang malam yang resah pada sebuah kata dituliskan dengan hati nan hampa. Penyair kota ini adalah simbol dari huruf huruf yang tak terlacak pada buku pelajaran. Padamu pe...

Resensi Buku

Gambar
http://puan.co/2017/11/2515/ intip ke situ yah... Ketika Perempuan Berbicara Tentang Hidup Oleh: Sugianto Penulis: Ida Fitri Judul: Cemong Penerbit: Basabasi ISBN: 978-602-61246-2-3 Cetakan : Pertama, September 2017 Ketebalan: 184 hal; 14x20 Sebagai pendatang baru dalam khasanah sastra Indonesia, Ida begitu piawai membawa Aceh dengan segudang cerita. Ia bukan hanya berbicara tentang teror, ketakutan, kekhawatiran dan harapan yang mungkin kandas. Tapi ia membawa nuansa baru yaitu sebuah kebangkitan yang terus berkobar dan penuh semangat. Dalam sekumpulan naskah yang ditulis ia tak melulu berbicara tentang Aceh dan kultur yang melekat di dalamnnya. Ia seakan mengajak pembaca ‘bertamasya’ ke seluruh dunia miliknya. Boleh jadi ia adalah pelancong ulung yang mencatatkan sederet kisah getir, manis dan mengaggumkan. Bisa juga itulah cara dia dalam mengekspresikan Aceh dalam segepok kisah. Sebagai perempuan, bisa saja kan mengalami prasangka, masa lalu, im...