Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2016

PHP

PHP Sekarang orang dari orang, demi orang dan orang ke orang yang bukan orang-orangan, kenal saya sebagai pelapak online. Kebetulan produknya buku dan baju (khusus ini pengiriman dan barang lansung dari Bali). Teman-teman boleh intip akun Art Souvenir. Itu berbeda ketika dua tahun lalu. Saya benar-benar aktif di grup kepenulisan. Mulai dari belajar tekhnis, EYD, Plot, Alur sampai bedah puisi. Betah berasik-masyuk menyantap sajian diksi dan pola kalimat yang meliak-liuk itu. Pun tak lelah menimba ilmu dari pakarnya, buku dan beragam referensi Google. Maka tak heran jika waktu itu inbox dipenuhi chat-chat penulis mulai dari yang indie sampe yang sudah melalang buana. Pun sharing ilmu yang tak lelah saya gali, cari dan geluti. "Mas, ajarin nulis puisi dunk." "Mas, tolong cerpen ini apa sich yang kurang." ato "Mas, proyek novel kapan kita rampungkan?" Tapi belakangan semuanya mulai surut, redup dan mungkin terkubur. Bukan karena tak minat, tapi kesibukan...

Kisah di mesjid

Tadi tepatnya seusai sholat maghrib, seorang jamaah menghampiriku. Dia tersenyum, sambil berkata, "Mas, rumahnya di mana? Orang baru ya?" Duh, jujur aku malu. Pertama, aku kenal dia tapi dia tidak. Maksud ndak? Kedua, dia bersemangat meski usianya ndak jauh beda. Ketiga, bahasanya santun seakan-akan seluruh irama yang ia lantunkan selalu indah. "Ndak terlalu baru Kang, hanya jarang nongol." Ia manggut-manggut. Sesampai di perjalanan pulang, kata-katanya terus mengiang di telinga dan benakku. "Rajin-rajin Mas, ke mesjidnya. Biar ndak sunyi." Benar. Ini cuma kalimat sederhana. Tapi perlahan; riuh-rendah jiwaku bergemuruh. Ada sesuatu yang menyentak, memberontak dan membludak. Aku malu. Bukan karena pakaianku tak serupa yang mengenakan kaos, biasanya kemeja atau baju koko. Tapi karena rumah yang jaraknya tak sampai 10 menit. Aku mengabaikan kumandang adzan. Seakan-akan telinga dan hatiku kedap suara. Seolah-olah rumah ibadah hanya didatangi ketika Ramadha...

Rara

Apa yang salah dengan dirinya? Bersikejab tanya itu menggelayut di benakku. Jujur, aku ini kritis. Hal-hal yang tampaknya mengganjal, tak sungkan aku komen atau sekedar mengatakan ketidaksetujuan. Itu kenapa terkadang betapa malasnya jika harus berdebat, meski hal sepele. Nama perempuan itu Rara. Aku biasanya menyapanya dengan panggilan Ra. Kau tahu, profesiku hanyalah seorang sopir. Di sebuah perusahaan distributor ternama di kota ini. Hampir separuh hariku dihabiskan di lapangan; mini market, swalayan, mall, toko kelontongan bahkan grosiran. Jadi kau jangan heran jika di penjuru kota aku mengenal banyak orang, bahkan lekuk-lekuk yang menggurati wajahnya pun melekat di kepalaku. Seakan aku peta berjalan atau GPS yang senantiasa online. Sungguh nama-nama jalan, gang bahkan lorong tersempit aku lewati. Itu yang disebut jalan tikus. Oh, ya. Jika kau berada di kotaku, lalu mampir ke sebuah gedung dipupuri orange bercampur krem terang. Nah, itulah tempat Rara  bekerja sebagai checker...

Pak Yai

Pak Yai Alhamdulillah. Begitu aku mengucap syukur berulangkali. Setelah Ramadhan aku memimpikan akan rajin ke masjid, tercapai juga. Tak mudah loh, bertarung dengan musuh yang paling kuat sejagad raya. Siapa? Dia adalah dirimu sendiri. Sepuluh orang mungkin bisa kau taklukkan dengan kepalan tinjumu. Tapi jiwamu, siapalah yang mampu jika bukan si pemilik-Nya. Kau hanya berkenan merawat; rela tak rela, kau harus sepenuh hati. Pun ketika ia harus pergi dijemput dan kembali ke muasal. Ya Rabbi, ampuni, kasihani dan sayangilah diri ini yang papa. Aku heran, tak biasanya mesjid serame ini. Sampai 3 shaft didominasi anak-anak dan orang tua alias 'mbah-mbah" hihi... Makin hari aku makin jadi pusat perhatian ketika ada orang baru (hahaha... menurutku saja) Bukan karena aku 'sok cake' tapi ya itu tadi, dirikulah yang muda. Dalam artian manusia berusia 15-30 itu langka yang di mesjid. Tengok saja, atau kau boleh jewer dan getok (kepalamu sendiri loh! bukan kepalaku, hihi). Seb...

Add Teman

"Mas, aku udah add temen-temen di akunmu," seorang pelanggan perempuan meng-inbok. "Lha?" "Iya, wah... mereka penulis semua," tulisnya antusias. "Makasi ya Mas, atas sarannya." "Semoga terjalin persahabatan yang indah." Inbok ditutup. *** "Mas, aku sebel dech ama temen-temenmu itu," kata orang yang sama 3 jam yang lalu. "Lha, kenapa emang?" Mendadak aku menjadi pangeran kepo. Ini orang kok curhat ke aku. Padahal ndak terima keluh-kesah loh. Apalagi ngegosip. Bawel nich orang. "Bis nya, kalo mereka nyetatus kalo ndak puisi. Ya seputar masalah mereka." "Apakah itu?" Aku makin penasaran sama pelanggan yang ini. "Apalah kalo bukan bahas tulisan yang dimuat atawa pamer buku terbaru." "Kan bagus, ada warna, kreatifitas bro!" "Mas, aku mau tanya," katanya kemudian. "Jangan sulit, sulit yah." "Ndak kok, cuma aneh, kok Mas betah berteman dengan ...

Semua Pasti Berlalu

Teman-teman sekantorku heran. Mereka bilang saya ini ndak punya hati dan perasaan. Lha kok bisa? Hiks... hiks... Katanya loh! iya kata mereka. "Gie itu kayak patung kalo punya masalah?" cerita seorang temen. "Diem aja, agak misterius gitu. Tertutup." Ndak lama yang lain menimpali,"Mosok?" "Kamu ndak percaya?" Yang ditanya cuma geleng-geleng. Mantep. "Kalo bikin status, aku suka. Puitis." Seorang perempuan ikut nimbrung. "Orang kayak dia bearti pendiem," tutur seorang yang bermata belok sembari mengunyah permen. "Dari sudut mana penilaiaanmu, ndak valid." Orang yang protes ini, manyun. "Lha, iya kan diungkapkannya cuma lewat kata-kata. Coba kau tengok, pernah tak dia gamang." "Hihihi... kasian ya, pasti ndak pernah punya pacar." Mereka tertawa masal. Saking hebohnya, si belok tadi  lupa pada permen yang dikulum-kulum. Tertelan. Tersedak. Tapi sayangnya, suara tawa makin meledak-ledak. ...

Fiksi Mini

Kaca jendela masih tertutup rapat. Susah payah dibukanya. Sial. Terhalang oleh lelaki berbadan tambun. "Kau kenapa?"katanya setengah terpejam. "Cepat buka, cepat buka!"hentaknya. "Kau mau diri?" Kedua bola matanya membesar. "Ndut, KAU JANGAN BANYAK OMONG!"katanya kesal setelah merasa payah menukar posisi duduk; dari tengah ke kiri. "Berhenti kau botak!" Bentaknya pada pria yang memegang setir. "Aduh..." lelaki tambun merasakan ada benturan keras di jidat, setelah merasakan tubuhnya terayun ke depan. "Kau ini kenapa?" Tanyanya masih tak mengerti. Tangannya menggamit sesuatu. "Brakk." Pintu terbuka. "Kau kenapa?"pertanyaan diulang. "Dia kentut." Juli 16

Puisi

KETIKA KAU DAN AKU BERPAGUTAN Ketika matamu yang berbinar itu rindang. Aku pernah berlarian mengejarnya, memungut ranting yang mungkin patah. Kau dan aku berpagutan, meski kau tak pernah mengatakannya. Tapi itu adalah sesuatu yang hebat. 13 Mei 16

Puisi

Pendulum Rindu menyibak perdu diparuh rindu pendulum matamu bergelantung rimbun serupa tempias ombak melumuri karang--ia pecah. Maret 16