Puisi
Penyair Kota Ini (Puisi ini pernah dipublikasikan oleh Majalah Puisi edisi 1, 20 Oktober 2016. Medan) Oleh: Sugianto /i/ Penyair kota ini adalah semerbak kuncup-kuncup bunga Yang mencatatkan namanya dalam sebuah buku memoar dan ditembusi oleh tetesan tinta emas. Pelanggan puisi pun bertanya tentang aneka warna kelopak bunga, lalu malu malu penyair itu pun menjawab bahwa keadaan sudah merdeka, “Ini hari-hari tanpa ideologi dan ukiran prasati. Ini adalah masa di mana percakapan dan perjalanan diterjemahkan oleh mesin mesin digital. Ini adalah investasi yang tumbuh dan tenggelam oleh derasnya sistem data.” Penyair kota ini adalah sekelompok kurcaci yang bergerombol di istana kecil. Yang meruntuhkan istananya di bawah tekanan kerajaan kerajan baru. Wong cilik pun bertanya tentang sebuah keadilan yang meledak-ledak di antara hotel berbintang. Mereka terus bertanya tentang malam yang resah pada sebuah kata dituliskan dengan hati nan hampa. Penyair ko...