Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Selamat Jalan Horison

Dalam sebuah film yang berjudul "Betapa Lucunya Negeri Ini" atawa kumpulan puisi Taufik Ismail "Aku Malu Jadi Orang Indonesia". Dan beragam bentuk satire yang sungguh miris. Negeri yang punya 13.000 pulau dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, lalu 1100 an suku bangsa dan 748 bahasa daerah. Bayangkan betapa besarnya Nusantara yang terjalin erat dari Sabang sampai Merauke. Dan betapa kayanya kita dengan sumber daya alam yang melimpah ruah. 350 tahun dijajah Belanda, sampai sekarang toh masih seakan tiada pernah habis. Indonesia negara besar punya segudang cerita yang tak pernah surut dieksplorasi. Namun sayangnya itu hanya 'dongeng'. Ketika menyaksikan modrenitas tumbuh tanpa dibarengi semangat nasionalisme, maka lihatlah betapa runtuhnya keindonesiaan itu. Ragam suku bangsa, bahasa dan budaya menjadi segepok data yang cuma menumpuk dalam buku sejarah atau pusat statistik BPS. Tapi ya apa anak-anak negeri ini tahu dan minat pada seabrek bilangan yang...

Lelaki Berjanggut

Sudah dua hari lelaki tua itu duduk dan berzikir seusai sholat. Tubuhnya seperti dimakan usia dan pikiran yang luar biasa. Ia tak bergeming, kecuali ada yang menyapa dan menyalami. Seperti datang dari dunia yang terlampau asing untuk dipertanyakan. Atau sebuah layar yang tak pernah puas kau bentangkan. Berkibar. Padahal angin tak melulu bertiup kencang. Atau cakrawala yang anggap jendela, lihatlah di sana, ada apa? Sekelebat pikiranku bertanya-tanya tentang dia. Haji Mukhlis. Dia yang dulunya kuat, ramah dan dermawan. Ketika bertemu senantiasa menyapa, "Assalamualaikum." Anak-anak pasti berhamburan, menyerbu, ketika sepeda mini merah melintas. Lelaki berjanggut keperakan, besorban dan senantiasa berjubah putih. Percis yang diceritakan padamu tentang orang-orang Arab. Bukan, bukan menjauh anak-anak itu. Mereka menyerbu seketika, menyalami dan sekedar menyapa ketika ia menuju mesjid. "Sunah, Nak! Kelak orangtua manapun bangga jika anak-anaknya tumbuh serupa dirinya. Haj...

Buku-Buku Aan Mansyur

Kemaren ada yang tanya, gini. "Mas, punya Buku Aan Mansyur ndak?" "Punya," Sejam kemudian, di chat lagi. "Itu loh Mas, yang di film AADC?" Aku mikir sebentar, sambil mengingat-ingat puisi yang dikasih ke Cinta, ditulis Rangga di pesawat. Lalu timbul-tenggelam di benaknya, 14 tahun yang lampau. Perempuan manis yang menggerai rambut panjangnya. Dan pernah melarutkannya dalam lautan puisi. 'Aku seperti menyelami kesedihan lama yang hidup bahagia dalam pelukan puisi-puisi Pablo Neruda. Aku bagai menyelami sepasang kolam yang dalam dan diam di kelam wajahmu.' Keren. Hidup. Dan tahulah ia kenapa puisi itu ada. "Mas e... chatku bales dunk!!!" Ternyata akupun teringat film yang mengangkat nama besar Chairil Anwar dalam buku 'AKU' yang ditulis Tsuman Djaya. "Mas e, udah seharian loh aku nunggu. Ndak dibales juga. Jujur aja, ada apa ndak?" Chat rupanya bertubi-tubi muncul. Jiaahh!!! aku lupa balesnya. "Ya, ada mbk...