Lelaki Berjanggut


Sudah dua hari lelaki tua itu duduk dan berzikir seusai sholat. Tubuhnya seperti dimakan usia dan pikiran yang luar biasa. Ia tak bergeming, kecuali ada yang menyapa dan menyalami. Seperti datang dari dunia yang terlampau asing untuk dipertanyakan. Atau sebuah layar yang tak pernah puas kau bentangkan. Berkibar. Padahal angin tak melulu bertiup kencang. Atau cakrawala yang anggap jendela, lihatlah di sana, ada apa? Sekelebat pikiranku bertanya-tanya tentang dia. Haji Mukhlis.

Dia yang dulunya kuat, ramah dan dermawan. Ketika bertemu senantiasa menyapa, "Assalamualaikum." Anak-anak pasti berhamburan, menyerbu, ketika sepeda mini merah melintas. Lelaki berjanggut keperakan, besorban dan senantiasa berjubah putih. Percis yang diceritakan padamu tentang orang-orang Arab. Bukan, bukan menjauh anak-anak itu. Mereka menyerbu seketika, menyalami dan sekedar menyapa ketika ia menuju mesjid.
"Sunah, Nak! Kelak orangtua manapun bangga jika anak-anaknya tumbuh serupa dirinya. Haji Mukhlish." Begitu yang kami dengar dari mak, bapak, nenek dan sesepuh kampung. Dongeng yang senantiasa hidup di sanubari.

Ia masih muda saat itu. Anak-anaknya belum cukup kuat bermain dengan kami yang nakal. Mencuri dan mencari kesempatan ketika ia lengah atau tak berada di rumah. Alam memang sebayaku, duduk di kelas 4 SD. Sementara Aisyah belum genap berumur 6 tahun. Tapi sayangnya mereka tak terlalu seberani, sebebas dan senantiasa bermain. Entah apa yang ditanamkan Pak Haji Mukhlis pada dua pangeran dan putrinya itu. Tetap. Anak-anaknya tumbuh dalam asuhan yang berbeda dengan kami. Itu kenapa kami merasa ada jarak yang terlampau rumit diukur, ketika kapan dan di mana kami (bisa) menghabiskan waktu bersama.

Kabar itu benar! Lelaki berjanggut itu sakit. Mungkin ia lelah mengurusi kebun-kebunnya yang terlampau banyak. Hampir 8 tahun kami tak melihatnya memenuhi shaf mesjid, sekedar mengimami atau duduk bercerita tentang kisah-kisah nabi. Sepeda ontelnya pun entah di mana sejak bermunculan kendaraan bermotor. Ada yang bilang sudah menjadi ronsok di gudang, tepatnya sebelah dapur rumah. Pun tak sedikit yang berkata 'dijual'. Entahlah. Kami tak melihat sosoknya di sekitaran kampung. Tak sekali pula ucapan hangat itu keluar dari bibirnya, "Assalamualaikum."Lalu siapa sosok yang menjadi panutan anak-anak? Siapa tokoh yang sering menjadi pertimbangan dengar pendapat? Siapa pula yang kami rindukan ketika suara indahnya menggema ketika adzan berkumandang?

Haji Mukhlish. Ya nama yang dulu menggaung di kampung ini. Sekarang di sampingku. Sudah dua hari kulihat ia rajin seperti sediakala. Duduk dan berzikir meski tak banyak bicara. Mungkin sudah tua atau ia memang malas mengeluarkan kata-kata kecuali zikir dan doa.Kami tak tahu. Sejak magrib ia senantiasa berada di sampingku. Mula-mula aku bingung ketika jemaah mengatakan agar aku mengapit lengan beliau. Agak aneh juga tak berada ia di shaf imam. Seperti ketika menjadi pelantun ayat-ayat nan fasih. Puluhan tahun yang lalu. Kenapa dia, adakah kerinduannya pada Tuhan tak seperti seharusnya? Akupun berdebat dengan pikiran, hati dan jiwa yang kadang memberontak.

"Bimbinglah, Pak Haji, Gie. Apit lengannya, lalu sejajari dengan tubuhmu. Agar ia bisa berjamaah bersama kita. Matanya tak lagi awas."

Pertanyaanku terjawab. Ya Rabb, ia buta. Kenapa? Buru-buru kugumamkan bacaan sholat lirih. Sebelum terlampau jauh merancau.

Seusai sholat Isya aku manut saja ketika diapitnya.Bersebelahan. Orang-orang berebut meraih tangannya. Bersalaman. Pun aku.
"Nak! Kau masih muda?"
"Ya Pak Haji, namaku Gie."
Ia manggut-manggut dengan ekspresi yang sulit kutangkap. Seperti pernah mengenali atau justru asing di benaknya. Aku benar-benar diam. Tak sepatah terucap.
"Kau sudah menikah, Nak?"
"Belum Pak Haji,"
"Kenapa? Usiamu cukup dewasa bukan?"
"Begitulah, rasanya akupun tak sadar kalau sudah kepala tiga." Aku tertawa pelan, tertahan. Menertawakan diri.
Ia seperti melihat sesuatu ketika jemarinya erat mencengkeram tanganku.
"Tunggu," imbuhnya. "kau kuat, Nak!" lanjutnya kemudian.
"Apa maksudnya Pak Haji, aku ndak paham."
"Nak, kau pernah bermimpi?"
Pertanyaan itu memang sederhana, tapi sulit dijawab dan rasanya tak mudah seperti aku tuliskan kalimat ini.
"Mimpi apa? Yang mana? Kapan Pak Haji?" Aku merenung hebat. Mungkin ini memang pemimpi. Sampai-sampai dari denyut nadipun terasa. Bahwa mungkin itu terbaca ketika keluar dari pori-pori. Sebab itu ia mengapit lenganku dan merasakan itu berdetak dasyat. Tapi benarkah?
"Nak, semakin matang usia manusia, semakin sulit menentukan pilihan. Tak ada yang pula rumit kecuali kau memilihnya. Itu pasti beda ketika kita remaja atau beranjak dewasa. Semau dan seperti kau merasa paling benar.Percaya atau tidak kau memang rumit."
Lha, aku hening sejenak. Mimpi apa semalam? Mimpi apa yang menerorku sampai aku harus menelaah perkataannya.
"Ndak usah terlalu serakah atau kau pasti menyerah pada apa yang kauambil. Jika memang hakmu pasti kembali dan ikhlaslah. Karena tabah saja tak cukup." Ia menambahkan.
Keringatku bercucuran padahal angin yan berputar cukup kencang. Aku mengulang, memutar, merekam semua ingatan lampau. Seingatku aku memang pemimpi ulung. Cita-citaku banyak. Tugasku seabrek. Ceritaku menggunung dan cintaku pun membludak. Sampai bosan jika berceloteh itu: CINTA.
Aku ingat. Aku mimpi, pernah. Puluhan tahun lalu, ketika beranjak dewasa. Bukan mimpi biasa. Ah, kenapa aku harus mengingat dan menceritakannya. Sekarang?
Mimpiku itu singkat, sederhana tapi membekas dan aku tak tahu maksudnya apa. Toh, tak ada dalam buku mimpi yang kupunya. Sampai suatu ketika harus membuka primbon.
Aku melihatnya dari kejauhan. Seorang lelaki besorban, berhidung mangir, parasnya bersih bercahaya. Duduk di antara dua sujud, kemudian sesuai mengucapkan salam.  Ia tersenyum padaku, dan yang membuatku terpana adalah ketika mengedarkan pandangan pada orang-orang di belakangnya. Seperti jubah putih itu, seluruh jemaah adalah perempuan. Cantik, rupawan dengan mukena seputih cahaya yang menerangi ruangan. Aku tertegun. Bagaimana bisa?

"Kelak Nak, kaulah itu."
"Pak Haji..." pungkasku, "I-iyakah? Pak Haji merasakan dan melihatnya juga?"
"Setiap manusia pasti punya pilihan dan kau tak bisa sendiri menentukan nasib meski sudah ditulis di Lauhful Mahfudz. Seperti sholat berjamaah, Gusti Allah bersama hamba-Nya."
Aku diam. Menekur dalam.
"Calonmu yang mana?"
Aku seperti dijewer dan ditampar keras.
"Perempuan itu menunggumu, memastikan kata-katamu."
"Hmm... iya Pak Haji, di-dia. Tapi..."
Kami seperti bertelepati. Bahasa kalbu, dari hati ke hati.
"Lelaki adalah pejuang, Nak. Kau kuat, Nak."
Aku mengingat-ingat wajah perempuan berlesung pipi itu. Sambil menggerai kemilau rambutnya ia seakan memanggil, "Bang."
Aku ini lelaki. Aku harus memperjuangkanmu. (Dalam hati aku menyebut-nyebut namanya. Bukan nama biasa, tapi sekumpulan abjad yang indah.)

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OM TELOLET OM...!!!

Mentor

Mental Anak Rantau