Mentor
Saya boleh cerita gak? Sebentar doank kok. Gak sedang promo atau keluh kesah, cuma curhat. Cius 🙌🙏
Nah, foto foto buku ini cuma sekedar ilustrasi. Saya garisbawahi jangan fokus pada gambar. Dulu ya sampe saat ini juga sich. Doyan banget sama bacaan, jadi gak melulu fiksi ya. Apa aja yang menarik minat saya dalam membaca. Sejarah, sains, agama, antropologi dan sosiologi. Ketika SMU ternyata pengetahun bertambah ketika membaca buku asing. Gak tahu kenapa ada Nietzhe di sana.
"Tuhan telah mati ..." apa coba yang sampean pikirkan jika masih awam? Tentu keadaan yang membuat seseorang yang tak percaya akan keberadaan zat yang Maha Hidup tadi bukan? Berti orang ini menganggap hidupnya adalah tuhan itu sendiri. Dan banyak hal yang membenturkan kepala saya yang sampai sekarang (seharusnya mempelajari filsafat secara akademik). Padahal saya jika nanti suatu waktu kuliah, kemungkinan besar memilih pertanian. Kenapa? Ada banyak hal alasan tapi yang pasti karena saya tak suka membatasi diri. Saya mungkin terlalu serakah. Pada akhirnya saya tahu, filsafat itu lebih cerewis. Sampai pada pertanyaan, "Apa dan mengapa aku?" Haduh, berat ini.
Sekarang pada buku buku ini saya merasa sempit untuk mereka--buku. Dulu seminggu bisa lahap 5-6 buku. Tapi pas udah kerja gini, ya boro boro segitu. Ada suatu waktu saya bosan, dan membagikan sebagian buku ke beberapa orang di seantero negeri ini. Saya pikir itu akan mengurangi jumlah buku di rak. Namun ternyata, semakin hari justru semakin numpuk. Entah berapa puluh juta. Jika untuk pesta pernikahan, mungkin paling 'wah'. Saya terlalu gila pada buku.
Saya terlalu banyak teori kata seorang teman. Mungkin terlalu banyak membaca, jadi kadang kadang terlalu berspekulasi pulak. Udah beberapa minggu aku menutup keinginan baca. Kenapa? Saya butuh mentor untuk mengeluarkan apa apa yang diserap. Lucu juga jika saya terus menerjemahkan sendiri pikiran liar ini. Bisa fatal bin ngawur.
Komentar
Posting Komentar