Lapak

Intermezo Ketika Pelanggan Dan Pembeli Rendesvouz

Tak sedikit yang bertanya suka dan duka jualan buku. Baik secara online maupun offline. Tentu ada kecendrungan sisi menyenangkan bagi pecandu buku. Terlebih tumpukan di rak dipenuhi ribuan jenis dan pengarang ternama. Mungkin berlama-lama di sana membuatnya kerasan. Lupa waktu, makan dan orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Eh, tapi di tempat ketika buku berada biasanya sepi. Bagi yang tak terbiasa mungkin membosankan. Apa enaknya coba berjam-jam di antara rak, kertas, kaver yang beraneka rupa. Apa serunya juga berdiam diri dan membiarkan suara-suara yang lain kalah. Atau apa juga asiknya mengotak-atik imajinasi dengan penulis favorit?

Di antara puluhan bahkan ratusan pertanyaan (orang yang bukan pecandu buku) selalu ada sebuah alasan kenapa (si pecandu buku) melakukan aksi nyelenehnya itu. Itu mungkin yang disebut dengan alasan kuat kenapa seseorang harus mencintai buku (bagi gamers ya monggo kasih alasan). Dalam sebuah lagu yang berjudul "Posesif" penyanyinya NAIF. Ada liriknya berkata "Mengapa aku begini//Jangan kau pertanyakan". Mungkin bisa menjelaskan betapa rasa 'suka' nya itu sulit dijelaskan dengan ungkapan penyair manapun. Tapi bukan bearti ia berkata begini maksudnya begitu, seperti karangan Eyang Sapardi.

Maka, bisa disimpulkan si pecandu buku 'dikoyak sepi'. Pada kenyataannya begitu, dipungkiri atau tidak. Liatlah toko konvensional tak seramai toko online. Eranya sudah berubah kali ya. Semuanya serba digital termasuk media sebesar Kompas pun mengekor. Sebab mau tak mau ia harus melek zaman. Eh, kencan pun beralih ke digital. Tak percaya? Tanya diri dan sekelilingmu.

"Mas, jualan buku kan gak kayak jualan kue. Bisa basi. Enak dan gaknya di mana wa?" Seorang pelanggan ini mengganti kata 'ya' menjadi 'wa'. Beneran loh, nyata.
"Enaknya, dapet uang juga dapet pengetahuan. Rak-rak buku penuh. Kadang si pelapak malah kalap sendiri. Harusnya dijual, eh, malah dikonsumsi sendiri. Gak enaknya, ya kebanyakan orang cuma numpang lewat. Pas udah nemu bukunya apik tapi mahal, kebanyakan mikir puluhan kali. Jadi kadang aku juga mikir, kok ya mau orang jadi penulis. Padahal tahu di negeri ini sebuah buku adalah kebutuhan yang ke sekian. Tapi aku pribadi menganggap profesi penulis begitu keren. Bisa ya orang mengeksekusi kata demi kata menjadi untaian yang indah, manis dan bermakna. Sayangnya penulis sekaliber Orhan Pamuk menyadari hal itu. Bahwa seni janganlah dijadikan sebuah profesí. Karena akan mengalami kekecewaan ketika sebuah tulisan yang tak melulu dibayar dalam bentuk materi. Maka orang-orang yang menjadikan seni sebagai tujuan hidup dan mendedikasikannya adalah orang-orang yang kaya (lahir dan batin) jika tidak, maka ia adalah orang yang gila." Aku menjelaskan seperti seorang pakar.
"Masak sich?" Ia tak percaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OM TELOLET OM...!!!

Mentor

Mental Anak Rantau