OM TELOLET OM...!!!



Om Telolet Om...!!!

 

 

Add caption

 




Sampai  detk ini—entah Untuk yang ke berapa, akupun tak tahu. Lihat bagaimana fenomena itu bekerja dan efek viral dari sebuah media sosial. Tahu kenapa? Mungkin ‘ia lelah’. Ya hanya itu yang bisa aku katakan dengan fenomena “OM TELOLET OM”. Bagi yang belum kenal  frase ini, maka baiknya aku ceritakan dulu apa artinya, sebelum semuanya salah kaprah. Jiaaahh....!!! 


Sebenarnya pemberitaan tentang klakson yang menyerupai suara terompet sudah lama, tepatnya setelah lebaran kemaren kira-kira dua bulanan yang lalu. Tapi... kenapa baru sekarang yah tenarnya? Tanya kenapa, mungkin karena orang-orang banyak yang suka dan merek terhibur—dalam hal ini sesuatu yang baru. Sesuatu itu adalah kebersamaan, dan mungkin yang saat ini kita lupa. Bahwa anak-anak siapapun punya dunianya  sendiri. Dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia orang dewasa. Mungkin benar orang dewasa menciptakan games canggih berupa Playstation, hape Android an sederet fitur canggih modrenisasi. Tapi kau harus ingat bahwa rasa kebersamaan itu yang sulit ada bandingannya. Kalaupun ada maka di sanalah kau temukan sebuah keindahan yang tiada tara. Sayangnya kebersamaan seperti  adanya dalam sebuah permainan tradisional. Saat ini perlahan-lahan semuanya hampir punah pada apa yang disebut gadget.


Ceritanya—alkisah Om Telelot Om—mungkin sederhana. Ketika anak-anak itu bosan pada liburan panjang, atau sederet permainan yang monton. Apalah artinya sebuah permainan tanpa sebuah teriakan, apa serunya itu tanpa sebuah  kebersamaan tadi. Atau berapalah harga sebuah permaian yang tanpa embel-embel menghabiskan uang. Maka tepatlah kiranya jika menunggu di pnggiran jalan sambil menanti bus lewat seraya mengklakson, “Telolet” serta-merta anak-anak berhamburan ketika mendengarnya. Saban sore sebelum matahari tenggelam rasanya asik juga mendengar sebuah suara yang cukup menghibur. Tanpa komando anak-anak itu berteriak “Om Telolet Om” spontan saja. Ini menjadi hiburan tersendiri, ini menjadi suatu sore yang indah, ini menjadi sebuah momen yng paling dinanti. 



Bayangkan... jika mereka sendiri di dalam ruangan tapi tak merasa kesepian; berbicara sendiri, teriak sendiri, tertawa sendiri bahkan dongkol sendiri ketika bertemu gadget. Yaps... mereka merasa ada kawan untuk sekedar menghabiskan waktu senggang. Ada kawan untuk berbagi  cerita tanpa melukai siapapaun. Dan sebuah rasa yang meldak-ledak tanpa harus menuliskannya di status Fesbuk. Tanpa harus mengeluaran biaya besar dan tanpa harus dicurigai sebagai sebuah degradasi  moral, mental dan jiwa-jiwa luhur dari seorang bocah. Maka teriakan demi teriakan itu menyebar bagai virus ke seantero dunia. Om Telolet Om.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mentor

Mental Anak Rantau