Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

OM TELOLET OM...!!!

Gambar
Om Telolet Om...!!!     Add caption   S ampai   detk ini—entah Untuk yang ke berapa, akupun tak tahu. Lihat bagaimana fenomena itu bekerja dan efek viral dari sebuah media sosial. Tahu kenapa? Mungkin ‘ia lelah’. Ya hanya itu yang bisa aku katakan dengan fenomena “OM TELOLET OM”. Bagi yang belum kenal   frase ini, maka baiknya aku ceritakan dulu apa artinya, sebelum semuanya salah kaprah. Jiaaahh....!!!  S ebenarnya pemberitaan tentang klakson yang menyerupai suara terompet sudah lama, tepatnya setelah lebaran kemaren kira-kira dua bulanan yang lalu. Tapi... kenapa baru sekarang yah tenarnya? Tanya kenapa, mungkin karena orang-orang banyak yang suka dan merek terhibur—dalam hal ini sesuatu yang baru. Sesuatu itu adalah kebersamaan, dan mungkin yang saat ini kita lupa. Bahwa anak-anak siapapun punya dunianya   sendiri. Dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia orang dewasa. Mungkin benar orang dewasa menciptakan games c...

Resensi

Perempuan Lajang Di Sudut Perkotaan Oleh: Sugianto Judul               : Si Parasit Lajang Penulis            : Ayu Utami Penerbit          : KPG Tahun Terbit : 2015 ISBN                 : 978-979-91-0538-7 Cetakan           : ke 3 Sebelum membaca sebuah buku yang tak tipis namun tak juga terlalmpau tebal, aku menduga ini novel. Siapapun tahu, bahkan seseorang yang baru mengenal sastra. Ya si perempuan manis yang terkesan cuek ini adalah novelis kenamaan. Dari tangan dan pikirannnya yang brilian itu lahir Saman, Larung, Bilangan Fu dll. Kesemuannya adalah novel; dalam bentuk prosa dengan rentetan cerita penuh imajinasi. Lantas apakah buku Si Parasit Lajang adalah serupa? Jawabannya a...

Puisi

Penyair Kota Ini (Puisi ini pernah dipublikasikan oleh Majalah Puisi edisi 1, 20 Oktober 2016. Medan) Oleh: Sugianto /i/ Penyair kota ini adalah semerbak kuncup-kuncup bunga Yang mencatatkan namanya dalam sebuah buku memoar dan ditembusi oleh tetesan tinta emas. Pelanggan puisi pun bertanya tentang aneka warna kelopak bunga, lalu malu malu penyair itu pun menjawab bahwa keadaan sudah merdeka,   “Ini hari-hari tanpa ideologi dan ukiran prasati. Ini adalah masa di mana percakapan dan perjalanan diterjemahkan oleh mesin mesin digital. Ini adalah investasi yang tumbuh dan tenggelam oleh derasnya sistem data.” Penyair kota ini adalah sekelompok kurcaci yang bergerombol di istana kecil. Yang meruntuhkan istananya di bawah tekanan kerajaan kerajan baru. Wong cilik pun bertanya tentang sebuah keadilan yang meledak-ledak di antara hotel berbintang. Mereka terus bertanya tentang malam yang resah pada sebuah kata dituliskan dengan hati nan hampa. Penyair ko...

Selamat Jalan Horison

Dalam sebuah film yang berjudul "Betapa Lucunya Negeri Ini" atawa kumpulan puisi Taufik Ismail "Aku Malu Jadi Orang Indonesia". Dan beragam bentuk satire yang sungguh miris. Negeri yang punya 13.000 pulau dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, lalu 1100 an suku bangsa dan 748 bahasa daerah. Bayangkan betapa besarnya Nusantara yang terjalin erat dari Sabang sampai Merauke. Dan betapa kayanya kita dengan sumber daya alam yang melimpah ruah. 350 tahun dijajah Belanda, sampai sekarang toh masih seakan tiada pernah habis. Indonesia negara besar punya segudang cerita yang tak pernah surut dieksplorasi. Namun sayangnya itu hanya 'dongeng'. Ketika menyaksikan modrenitas tumbuh tanpa dibarengi semangat nasionalisme, maka lihatlah betapa runtuhnya keindonesiaan itu. Ragam suku bangsa, bahasa dan budaya menjadi segepok data yang cuma menumpuk dalam buku sejarah atau pusat statistik BPS. Tapi ya apa anak-anak negeri ini tahu dan minat pada seabrek bilangan yang...

Lelaki Berjanggut

Sudah dua hari lelaki tua itu duduk dan berzikir seusai sholat. Tubuhnya seperti dimakan usia dan pikiran yang luar biasa. Ia tak bergeming, kecuali ada yang menyapa dan menyalami. Seperti datang dari dunia yang terlampau asing untuk dipertanyakan. Atau sebuah layar yang tak pernah puas kau bentangkan. Berkibar. Padahal angin tak melulu bertiup kencang. Atau cakrawala yang anggap jendela, lihatlah di sana, ada apa? Sekelebat pikiranku bertanya-tanya tentang dia. Haji Mukhlis. Dia yang dulunya kuat, ramah dan dermawan. Ketika bertemu senantiasa menyapa, "Assalamualaikum." Anak-anak pasti berhamburan, menyerbu, ketika sepeda mini merah melintas. Lelaki berjanggut keperakan, besorban dan senantiasa berjubah putih. Percis yang diceritakan padamu tentang orang-orang Arab. Bukan, bukan menjauh anak-anak itu. Mereka menyerbu seketika, menyalami dan sekedar menyapa ketika ia menuju mesjid. "Sunah, Nak! Kelak orangtua manapun bangga jika anak-anaknya tumbuh serupa dirinya. Haj...

Buku-Buku Aan Mansyur

Kemaren ada yang tanya, gini. "Mas, punya Buku Aan Mansyur ndak?" "Punya," Sejam kemudian, di chat lagi. "Itu loh Mas, yang di film AADC?" Aku mikir sebentar, sambil mengingat-ingat puisi yang dikasih ke Cinta, ditulis Rangga di pesawat. Lalu timbul-tenggelam di benaknya, 14 tahun yang lampau. Perempuan manis yang menggerai rambut panjangnya. Dan pernah melarutkannya dalam lautan puisi. 'Aku seperti menyelami kesedihan lama yang hidup bahagia dalam pelukan puisi-puisi Pablo Neruda. Aku bagai menyelami sepasang kolam yang dalam dan diam di kelam wajahmu.' Keren. Hidup. Dan tahulah ia kenapa puisi itu ada. "Mas e... chatku bales dunk!!!" Ternyata akupun teringat film yang mengangkat nama besar Chairil Anwar dalam buku 'AKU' yang ditulis Tsuman Djaya. "Mas e, udah seharian loh aku nunggu. Ndak dibales juga. Jujur aja, ada apa ndak?" Chat rupanya bertubi-tubi muncul. Jiaahh!!! aku lupa balesnya. "Ya, ada mbk...

PHP

PHP Sekarang orang dari orang, demi orang dan orang ke orang yang bukan orang-orangan, kenal saya sebagai pelapak online. Kebetulan produknya buku dan baju (khusus ini pengiriman dan barang lansung dari Bali). Teman-teman boleh intip akun Art Souvenir. Itu berbeda ketika dua tahun lalu. Saya benar-benar aktif di grup kepenulisan. Mulai dari belajar tekhnis, EYD, Plot, Alur sampai bedah puisi. Betah berasik-masyuk menyantap sajian diksi dan pola kalimat yang meliak-liuk itu. Pun tak lelah menimba ilmu dari pakarnya, buku dan beragam referensi Google. Maka tak heran jika waktu itu inbox dipenuhi chat-chat penulis mulai dari yang indie sampe yang sudah melalang buana. Pun sharing ilmu yang tak lelah saya gali, cari dan geluti. "Mas, ajarin nulis puisi dunk." "Mas, tolong cerpen ini apa sich yang kurang." ato "Mas, proyek novel kapan kita rampungkan?" Tapi belakangan semuanya mulai surut, redup dan mungkin terkubur. Bukan karena tak minat, tapi kesibukan...

Kisah di mesjid

Tadi tepatnya seusai sholat maghrib, seorang jamaah menghampiriku. Dia tersenyum, sambil berkata, "Mas, rumahnya di mana? Orang baru ya?" Duh, jujur aku malu. Pertama, aku kenal dia tapi dia tidak. Maksud ndak? Kedua, dia bersemangat meski usianya ndak jauh beda. Ketiga, bahasanya santun seakan-akan seluruh irama yang ia lantunkan selalu indah. "Ndak terlalu baru Kang, hanya jarang nongol." Ia manggut-manggut. Sesampai di perjalanan pulang, kata-katanya terus mengiang di telinga dan benakku. "Rajin-rajin Mas, ke mesjidnya. Biar ndak sunyi." Benar. Ini cuma kalimat sederhana. Tapi perlahan; riuh-rendah jiwaku bergemuruh. Ada sesuatu yang menyentak, memberontak dan membludak. Aku malu. Bukan karena pakaianku tak serupa yang mengenakan kaos, biasanya kemeja atau baju koko. Tapi karena rumah yang jaraknya tak sampai 10 menit. Aku mengabaikan kumandang adzan. Seakan-akan telinga dan hatiku kedap suara. Seolah-olah rumah ibadah hanya didatangi ketika Ramadha...

Rara

Apa yang salah dengan dirinya? Bersikejab tanya itu menggelayut di benakku. Jujur, aku ini kritis. Hal-hal yang tampaknya mengganjal, tak sungkan aku komen atau sekedar mengatakan ketidaksetujuan. Itu kenapa terkadang betapa malasnya jika harus berdebat, meski hal sepele. Nama perempuan itu Rara. Aku biasanya menyapanya dengan panggilan Ra. Kau tahu, profesiku hanyalah seorang sopir. Di sebuah perusahaan distributor ternama di kota ini. Hampir separuh hariku dihabiskan di lapangan; mini market, swalayan, mall, toko kelontongan bahkan grosiran. Jadi kau jangan heran jika di penjuru kota aku mengenal banyak orang, bahkan lekuk-lekuk yang menggurati wajahnya pun melekat di kepalaku. Seakan aku peta berjalan atau GPS yang senantiasa online. Sungguh nama-nama jalan, gang bahkan lorong tersempit aku lewati. Itu yang disebut jalan tikus. Oh, ya. Jika kau berada di kotaku, lalu mampir ke sebuah gedung dipupuri orange bercampur krem terang. Nah, itulah tempat Rara  bekerja sebagai checker...

Pak Yai

Pak Yai Alhamdulillah. Begitu aku mengucap syukur berulangkali. Setelah Ramadhan aku memimpikan akan rajin ke masjid, tercapai juga. Tak mudah loh, bertarung dengan musuh yang paling kuat sejagad raya. Siapa? Dia adalah dirimu sendiri. Sepuluh orang mungkin bisa kau taklukkan dengan kepalan tinjumu. Tapi jiwamu, siapalah yang mampu jika bukan si pemilik-Nya. Kau hanya berkenan merawat; rela tak rela, kau harus sepenuh hati. Pun ketika ia harus pergi dijemput dan kembali ke muasal. Ya Rabbi, ampuni, kasihani dan sayangilah diri ini yang papa. Aku heran, tak biasanya mesjid serame ini. Sampai 3 shaft didominasi anak-anak dan orang tua alias 'mbah-mbah" hihi... Makin hari aku makin jadi pusat perhatian ketika ada orang baru (hahaha... menurutku saja) Bukan karena aku 'sok cake' tapi ya itu tadi, dirikulah yang muda. Dalam artian manusia berusia 15-30 itu langka yang di mesjid. Tengok saja, atau kau boleh jewer dan getok (kepalamu sendiri loh! bukan kepalaku, hihi). Seb...

Add Teman

"Mas, aku udah add temen-temen di akunmu," seorang pelanggan perempuan meng-inbok. "Lha?" "Iya, wah... mereka penulis semua," tulisnya antusias. "Makasi ya Mas, atas sarannya." "Semoga terjalin persahabatan yang indah." Inbok ditutup. *** "Mas, aku sebel dech ama temen-temenmu itu," kata orang yang sama 3 jam yang lalu. "Lha, kenapa emang?" Mendadak aku menjadi pangeran kepo. Ini orang kok curhat ke aku. Padahal ndak terima keluh-kesah loh. Apalagi ngegosip. Bawel nich orang. "Bis nya, kalo mereka nyetatus kalo ndak puisi. Ya seputar masalah mereka." "Apakah itu?" Aku makin penasaran sama pelanggan yang ini. "Apalah kalo bukan bahas tulisan yang dimuat atawa pamer buku terbaru." "Kan bagus, ada warna, kreatifitas bro!" "Mas, aku mau tanya," katanya kemudian. "Jangan sulit, sulit yah." "Ndak kok, cuma aneh, kok Mas betah berteman dengan ...

Semua Pasti Berlalu

Teman-teman sekantorku heran. Mereka bilang saya ini ndak punya hati dan perasaan. Lha kok bisa? Hiks... hiks... Katanya loh! iya kata mereka. "Gie itu kayak patung kalo punya masalah?" cerita seorang temen. "Diem aja, agak misterius gitu. Tertutup." Ndak lama yang lain menimpali,"Mosok?" "Kamu ndak percaya?" Yang ditanya cuma geleng-geleng. Mantep. "Kalo bikin status, aku suka. Puitis." Seorang perempuan ikut nimbrung. "Orang kayak dia bearti pendiem," tutur seorang yang bermata belok sembari mengunyah permen. "Dari sudut mana penilaiaanmu, ndak valid." Orang yang protes ini, manyun. "Lha, iya kan diungkapkannya cuma lewat kata-kata. Coba kau tengok, pernah tak dia gamang." "Hihihi... kasian ya, pasti ndak pernah punya pacar." Mereka tertawa masal. Saking hebohnya, si belok tadi  lupa pada permen yang dikulum-kulum. Tertelan. Tersedak. Tapi sayangnya, suara tawa makin meledak-ledak. ...

Fiksi Mini

Kaca jendela masih tertutup rapat. Susah payah dibukanya. Sial. Terhalang oleh lelaki berbadan tambun. "Kau kenapa?"katanya setengah terpejam. "Cepat buka, cepat buka!"hentaknya. "Kau mau diri?" Kedua bola matanya membesar. "Ndut, KAU JANGAN BANYAK OMONG!"katanya kesal setelah merasa payah menukar posisi duduk; dari tengah ke kiri. "Berhenti kau botak!" Bentaknya pada pria yang memegang setir. "Aduh..." lelaki tambun merasakan ada benturan keras di jidat, setelah merasakan tubuhnya terayun ke depan. "Kau ini kenapa?" Tanyanya masih tak mengerti. Tangannya menggamit sesuatu. "Brakk." Pintu terbuka. "Kau kenapa?"pertanyaan diulang. "Dia kentut." Juli 16

Puisi

KETIKA KAU DAN AKU BERPAGUTAN Ketika matamu yang berbinar itu rindang. Aku pernah berlarian mengejarnya, memungut ranting yang mungkin patah. Kau dan aku berpagutan, meski kau tak pernah mengatakannya. Tapi itu adalah sesuatu yang hebat. 13 Mei 16

Puisi

Pendulum Rindu menyibak perdu diparuh rindu pendulum matamu bergelantung rimbun serupa tempias ombak melumuri karang--ia pecah. Maret 16