Resensi
Perempuan Lajang Di Sudut Perkotaan
Oleh: Sugianto
Judul :
Si Parasit Lajang
Penulis :
Ayu Utami
Penerbit : KPG
Tahun Terbit : 2015
ISBN :
978-979-91-0538-7
Cetakan : ke
3
Sebelum membaca sebuah buku yang tak tipis namun tak juga terlalmpau
tebal, aku menduga ini novel. Siapapun tahu, bahkan seseorang yang baru
mengenal sastra. Ya si perempuan manis yang terkesan cuek ini adalah novelis
kenamaan. Dari tangan dan pikirannnya yang brilian itu lahir Saman, Larung,
Bilangan Fu dll. Kesemuannya adalah novel; dalam bentuk prosa dengan rentetan
cerita penuh imajinasi. Lantas apakah buku Si Parasit Lajang adalah serupa?
Jawabannya adalah tidak. Ia sama sekali lain dari semua buku yang pernah ia
tulis. Seakan-akan ‘membongkar’ siapa dirinya, alih-alih autobiografi di sini
ia jujur, kritis dan cenderung sensual.
Ada baiknya peresensi memulai apa dan siapa “Si Parasit Lajang”?
Terdengar satire, negatif dan hampir tak ada nilai yang tertanam di sana. Kecuali
kegelisahan perempuan yang dicekam sebuah dunia yang tak tahu ke mana arah
melangkah. Begitulah setidaknya yang tergambar di pikiran-pikiran. Sebuah
praduga yang sama sekali lain dari apa yang pernah aku pelajari. Meski bukanlah
sebuah prosa yang didramatisir atau terlalu ‘baper’, di buku ini lebih dari
itu. Bahkan peresensi merasa, tulisan demi tulisan di dalamnya menunjukkan
sebuah citara rasa, gurih dan menggugah. Sampai suatu waktu tak rela
meninggalkan buku yang sesungguhnya membuat betah berjam-jam bersamanya.
Siapa sangka buku ini memuat tulisan-tulisan pendek yang begitu memukau.
Sungguh bukanlah cerpen atau esai yang mengerutkan dahi. Tapi dari sini pembaca
seakan diajak menakar akal sehat sambil bertanya, “Apa dan mengapa?”. Sebuah
dunia diperuntukkan bagi orang-orang yang gemar berpikir dan menyentil isu-isu
global, ide sederhana, tujuan mulia bahkan nilai kehidupan itu sendiri. Duhai,
betapa beruntungnya menemukan buku menawan ini. Hampir bukan sebuah skenario yang
memeiliki sunpense, klimaks dan antiklimaks. Tapi entah mengapa, pembaca seakan
diajak berjalan-jalan ke masa kecil hingga menuntunnya dalam sebuah kedewasaan.
Antara masa lalu dan masa kini, antara jaman kuno dan moderenitas.
Penuturannya begitu kompleks dan dominan ke pemikirannya yang bisa
dikatakan ‘masa bodo’. Sederet persoalan yang tampak luput di depan mata:
kondom. Sungguh takjubnya pada si penulis perempuan ini. Seperti ketika ia
mendefinisikan si parasit itu sendiri. Maka sesungguhnya parasit tidaklah selalu
merugikan—yang diadaptasi pada perempuan
karir di Jepang. Seperti yang diketahui khalayak, perempuan di sana adalah
pekerja keras seakan tak kenal lelah.
Perempuan itu adalah orang yang masih betah tinggal bersama orang tua;
tanpa membayar listrik, makan dan sewa rumah. Toh mereka mampu hidup. Seperti
katanya,”Tepat! Itulah saya, si parasit lajang. Numpang di rumah orang tua, tak
bayar listrik, pagi bermain, siang bekerja, malam menulis, tanpamikir memberi
maka anjing atau mencuci mobil. Siapa saya bagi ibu kecuali benalu—Hal 24. Di
Jepang, perempuan tipe ini begitu disayang oleh orangtuanya. Bagaimanapun
seorang bapak tak akan rela anaknya berkeluyuran di jalan-jalan yang tak tentu
arah. Maka jelaslah bahwa ini adalah sebuah anugerah. Karena masih singgle dan
ia menumpang maka istilah ‘parasit lajang’ pun mencuat di antara banyak tulisan
pendek tapi mengaggumkan.
Kisah-kisah mengharukan, lucu, lugu, lugas dan nyaris sedih terasa sanagt
tak membosankan. Bahkan jika halamannya
berjumlah 500, maka tak keberatan pembaca membacanya. Tapi peresensi
tidak menyaranka pembaca di bawah umur. Dalam artian belum dewasa, karena
sungguh ini adalah bacaan asik namun vulgar. Diakui atau tidak, teryata si
penulis begitu terpedaya pada sex. Entah apa yang membuanya seringkali
membicarakan hal yag sebaian orang dianggap tabu. Namun di banyak kesempatan ia
begitu piawai seakan dialah dokternya. Dan kau tak perlu menayakan apa itu alat
reproduksi dan apa pula alat kontrasepsi? Toh pembaca diajak dewasa menyingkapi
masalah—sex—adalah bukan hal sembrono, tapi sebua jembatan bagi seseorang
ketika memasuki jenjang remaja.
Dalam kaidah agama bai masyarakat ketimuran, sex adalah sesuatu yang
tabu. Dalam pengertian tak perlu didramatiisir dengan segala macam demo
‘kondom’ misalkan. Namun di masyarakat barat, sex adalah sebuah ilmu
pengetahuan yang perlu dipelajarai dan disebarluaskan. Maka dapat disimpulakn
betapa ada jarak terlapau signifikan antara dua budaya itu. Jika satunya
mengatasnamakan agama, yag lainnya mengatakan itu adalah sebuah informasi yang
bermanfaat. Namun demikian, penulis tak pernah ‘mencoba’ memaksakan kehendak
pembaca. Ia mencoba berpikir dengan sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan
kaum perempuan.
Setidakaya ketika menyelesaikan buku ini, pembaca melihat sebuah
ketegaran dari perempuan modern. Seakan ditarik pada segepok persoalan yang tak
kunjung selesai—silih berganti—tapi mampu dihadapinya dengan jiwa pemberani.
Tak jarang Ayu menyentuh rezim di jamannya: orde baru. Di mana kekuatan
militer begitu tangguhnya, mencekam dan menakutkan. Tapi di lain waktu ia pun
memuji kebesaran seorang jenderal yang ta sekaipun terlintas berpoligami. Jika
ditarik secra logika, itu semua adalah keaneha yang terjadi jika di jaman
sesudahnya. Betapa seorang pejabat negara mempunyai kekayaan melimpah dengan
istri-istri yang rupawan. Padahal di jaman orba kehidupan beruamhah tagga
diatur dalam undang-undang. Maka dikenallah istilah keluarga berencana, sebuah
program yang saat ini hampir tak lagi dicanangkan.
Komentar
Posting Komentar