Mental Anak Rantau

Mental Anak Rantau

Apa yang membedakan orang yang merantau dan penduduk asli? Secara fisik tetaplah sama, lha wong sama-sama di Indonesia. Apa hayo? Ada yang tahu? Yang ndak tahu, bolehlah kiranya saya jabarkan cerita dari kota kecilku, ya kota tercinta.

Pernah, ini nyata loh, bukan hoax apalagi sekedar gosip atawa ghibah. Eh... begini kawan-kawan ceritanya. Baca ya, duduk manis, sambil nyemil juga boleh asal jangan senyum-senyum sendiri. Dikasih tanda jempol, oke, ndak dikasih bearti pelit. Hihi...

Hari itu entah hari apa, rasanya pantas dicantumkan dalam hari bersejarah--dalam hidupku. Benarlah kiranya, langit yang menaungi kami menjelma kabut dan gumpalan awan kelabu. Satu persatu nama-nama pilihan itu memasuki sebuah ruangan. Ini pasti bukan meeting apalagi sekedar briefing tapi WARNING. Astaghfirllah.

Aku bekerja di sebuah perusahaan distributor. Simpelnya, jenis perusahaan ini tak memiliki produk sendiri. Ada beberapa merek dagang yang bernaung di sini, tergantung seberapa mampu perusahaan itu mengelola. Sekedar info, karyawannya biasa tak sedikit. Dan biasanya punya anak cabang di beberapa kota.

Ada yang bertanya-tanya, ada apa gerangan? Singkat cerita, ternyata terjadi regenerasi karyawan. Artinya ada yang bertahan di perusahaan induk pun ada yang tidak. Beberapa orang, termasuk si penutur; cemas, gelisah dan tak menentu--ke mana nasib melempar kami. Rasanya aku melihat wajah-wajah itu dipenuhi tanda tanya super ganda. Ah, entahlah apa menyebutnya.

Hanya dua pilihan. Pertama, bertahan di perusahaan induk namun tak menjamin dipertahankan sebagai karyawan. Kedua, keluar 'out of box' alias diterima di perusahaan rekanan, namun masih meraba-raba kiranya di posisi dan sistem kerja yang pasti berbeda. Ratusan orang berpikir cepat, mau tak mau harus menentukan nasibnya sendiri, di ujung tombak.

Pada akhirnya pun ada orang yang bertahan pun ada yang 'menyerah'. Curhat pun tumpah seperti selonsong peluru dari senapan mesin. Berjam-jam kami duduk, ngobrol, ngudut dan saling menguatkan. Ya Allah, eratnya kami. Setelah bertahun lamanya saling berjabat erat pada akhirnya pun harus BERPISAH. Mungkin air mata tak tumpah, tapi hati ini sungguh didera ikatan batin yang kuat.

Aku mendapati pelajaran yang hebat di situasi ini. Aku pun mulai memilah-milah pendapat, lebih tepatnya pola pikir. Mana yang anak rantau dan pribumi, mana yang berkeluarga dan belum, mana yang tua dan muda, mana yang jomblo dan bukan. 😃😄

Di sinilah letak pembedanya. Ternyata, anak rantau, betapa pun kecil badannya, jiwanya besar dan hatinya kuat. Ia seperti bisa mengeliminasi rasa kerdil bayangan di benaknya. Ia seperti bisa sangat fokus pada solusi dan bukan tertumpu pada masalah. Ia menjadi pemikir hebat tanpa harus berlarut-larut pada kecemasan yang akut. Ia seperti punya jawaban mujur pada setiap pertanyaan nan rumit. Begitulah ia--anak rantau--menjadi leader di kampung barunya. Ia senantiasa punya harapan hidup ketika yang lain justru punah. Ia tak mudah kalah apalagi menyerah.

Ya Allah, betapa beruntungnya setiap saat aku menemukan hikmah. Perlahan-lahat jiwaku yang rapuh menjadi kuat dan seperti berjalan di tanah yang lapang pun langit membentang. Aku menenggadah dan berucap,"terima kasih."

Salam Hangat dari saya 

MasGie Si Pelapak Buku

Pin d475608c
Wa 085268472332

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OM TELOLET OM...!!!

Mentor