Malam Puisi Jambi (MPJ)







Malam (Baca) Puisi Jambi


Beberapa minggu yang lalu, tepatnya 14 Februari 2017. Aku menghadiri sebuah acara yang gelar rutin diadakan setiap bulan. Apakah itu? Malam Puisi Jambi atau yang dikenal dengan MPJ. Acara ini rutin digelar tiap bulan, penggagasnya perempuan muda bernama Umi.  Sebagai mahasiswa di UNJA, ia terbilang aktif sebagai penyair perempuan muda. Setiap bulannya ia senantiasa menjadi penggerak sekaligus eksekutor di pengelaran ini. Beberapa orang boleh tampil sebagai pembaca puisi yang lincah, bisa juga menjadi pendengar yang baik di antara iringan musik akustik. Ya. "Siapapun boleh hadir dan bacakan puisimu!" Begitulah semboyan yang dianut komunitas ini. Katakanlah demikian.
Apakah semuanya pemuisi? Rasanya tidak, tapi sebagai keprihatinan sekaligus rasa cintanya kepada makhluk yang bernama puisi, maka acara ini dihelat tiap bulan di cafe, hotel dan seiring waktu ternyata sudah berjalan 3 tahun di Jambi, sementara di tingkat nasioal berumur 4 tahun. Rasanya tak diragukan lagi sebagai cikal-bakal penyair muda. Mereka inilah yang sebagai ujung tombak pepuisian di sebuah kota kecil bernama Jambi—semestinya. Namun sayangnya dengan beberapa catatan yang memilukan. Apa itu? Orang-orang menyebutnya sebagai rasa tak peduli. Ini yang perlu digarisbawahi.
Dalam hal puisi, apapun jenisnya adalah sebagai perenungan, refleksi diri dan bisa jadi kritik sosial. Apakah puisi dikatakan serius? Ya, bisa jadi. Kenapa tidak. Toh membuat puisi bukanlah hanya sebagai pelepas lelah atawa hanya sekedar suka-suka. Tak ada yang hanya meninginkan puisinya sebagai suka-suka jika disebut sebagai penyair. Jika dulu katakanlah penyair besar Chairil Anwar yang begitu intens dengan sebuah puisi “AKU” sampai-sampai ia harus bersitegang denga seniornya H.B Jassin. Ia tak mengatakan sebuah puisi itu jelek atau gagal. Tapi puisi yang baik adalah selalu meberikan angin segar, hawa baru dalam setiap hati pembaca. Ia senantiasa menjadi pembaharu dan hidup dala benak pecintanya. Bukan hanya sebagai ajang ‘bagus-bagusan’. Dan... pada akhirnya, Chairil menjadi pendobrak itu.
Dalam malam itu, di sebuah Cafe menjadi saksi bahwa hal-hal yang senantiasa serius tak melulu menjadi hal menakutkan. Ia bisa santai dan bersahabat layaknya manusia. Itu yang sebenarnya ingin dikatakan Umi dalam setiap hajatannya. Bahkan sebagai pendatang baru saya tak sekali saja ditawarinya untuk tampil di muka. “Mari Mas Gie, bacakan puisinya,” tawarnya waktu itu. Beberapa penyair muda berbakat lainnya pun muncul. Sebut saja Ilham dan Niko sebagai penyair muda dari kaum Adam yang menonjol. Ada juga si bule Om Danny yang terlanjur cinta pada kota ini dan puisi itu sendiri. Pun tak ketinggalan si pelapak buku yang doyan nongkrong di Taman Jomblo. Namanya Mas rajib, ia tak segan membawa setumpuk buku sekedar diliat-liat, dibuka, dibaca atau dipinjamkan. Bisa dibilang betapa cintanya ia pada budaya baca dan mencoba berbagi bahwa membaca adalah hal yang menyenangkan, namun sungguh kadang juga bisa‘berbahaya’.
Mau tak mau, menjadi seorang penyair adalah membudidayakan baca-tulis itu sendiri. Boleh dibilang berdarah-darah mencintai sesuatu yang kebayakan orang-orang di kota ini tak suka. Bisa jadi hobi membaca menjadi sebuah momok, asing dan minoritas. Benarkah demikian? Dan pada kenyataannya menjadi penulis di negeri ini adalah memiliki sebuah kehilangan.
Acara yang cukup meriah itu memang menjadi saksi—seharusnya—kebangkitan puisi pada era Ari Setya Ardi, Yupnikal Saketi, Acep Syahril dan generasi tua lainnya. Semestinya mereka berbangga pada regenerasi yang mencintai puisi. Jika ada di sana, bolehlah jika mereka diajak duduk manis atau duet mendeklamasikan puisi. Tapi sayangnya, kadang-kadang kekuatan puisi memang tak memiliki arti apapun, kecuali hanya sebuah unsur yang dianggap tak penting alias pelepas lelah. Ya sudahlah. Puisi tetaplah puisi, bagaimanapun bentuknya. Ia senantiasa ada yang mencintai sepenuh hati pun menjaganya dalam lubuk terdalam. O...
Ada sebuah penampilan manis dari adik perempuan bernama Anna. Ia mengingatkan saya pada sebuah nama di era Hitler, Anna Frank. Dengan balutan jilbabnya, perempuan muda ini tampil elegan dan di antara gaun biru toska. Rasanya tak ada penampilan yang mengetarkan hati selain penampilan dia. Tapi entah kenapa ada yang salah ketika ia membacakan puisi. Bukan hanya si pembaca, melainkan penonton pun seolah hanyut dalam sihir kekatanya itu. Aku ingat diksinya kalau tak salah begini bunyinya “Seandainya kau ada di sini, aku rela menjadi paru-parumu demi keberadaanmu”. Manis dan mendalam bukan? Tapi lagi-lagi saya mengatakan ada yang salah. Apa ya?
Sesungguhnya tak ada yang salah pada puisi itu, yang miris adalah ketika selesai ia membacakannya, ia jusru diperolok, ditertawakan. Dan berkata, “Kenapa kau menangis?” pertanyaan yang sangat tak perlu, menurut hemat saya. Padahal upaya untuk menghidupkan puisi itu tidaklah mudah. Perlu kerja ekstra keras dan pikiran cerdas membuatnya terasa ada yang menggeletar. Secara awam, puisi itu hayalah puisi cinta dua anak manusia. Namun siapa sangka jika puisi itu mengadung nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Toh, siapa tahu? Saya berkata dalam hati dan bercerita pada teman waktu itu adalah bukan waktu yang tepat. Dalam arti ia salah kamar. Tak semestinya di antara orang-orang yang tak mencintai puisi ia menjadi termewek-mewek, katakanlah demikian. Acep Zam-Zam Noor dalam sebuah artikel mengatakan bahwa puisi yang bagus adalah puisi ‘bulu kuduk’. Artinya, jika sebuah puisi dibacakan maka bulu kuduk bisa berdiri mendengarnya. Ia memiliki aura yang sungguh magis hingga sebuah bulu roma begitu terangkat merasakan kehadirannya.
Sejatinya puisi itu indah. Orang bisa membyangkan apa saja tentangnya. Larut di dalamnya. Tapi... entahlah, memang ada yang salah dengan puisi saya kira. Tapi apa? Mungkin kiranya begini, puisi di cafe adalah sebuah puisi yang bersifat melankolis nan lembut. Tak melulu berapi-api layaknya puisi perjuangan atau orasi pollitik. Oh, ya saya ingat. Ketika ada orang yang tertawa geli menyaksikan puisi itu dipentaskan adalah puisi parodi (bolehlah kiranya berkata demikian) atau yang dikenal dengan puisi mbeling. Pelopornya Jeihan, Remy Silado. Mungkin jika boleh saya katakan kepada mereka tentang puisi cafe pantaslah sekiranya puisi ini ditampilkan. Penonton bisa tertawa sepuasnya tanpa ada orang yang kesulitan mencernanya.

 Karya: Jeihan

SUTARDJI

Seorang lelaki sambil buka baju
Berteriak lantang
Aku sutardji calzoum bachri
Turunan bangsa bahari
Ini dadaku

Dari kejuhan sekelompok anak
Berteriak:
Itu tidak lucu, tanpa susu!

1974


Atau 

KARYA: Remi Silado


WAKTU DOA ULANG TAHUN

Terima kasih tuhan atas hidangan ini

Berhubung botty tiba tiba kentut
Terpaksa
Amin kami ganti dengan
Jancuk.

Malam Puisi Jambi (jika boleh dikoreksi) lebih tepatnya jika diganti menjadi Malam Baca puisi, tukas Rini seorang penyair perempuan sekaligus pengamat literasi di Jambi. Logikanya begini jika sebuah malam yang didedikasikan puisi, maka tentulah indah jika di dalamnya dipenuhi diskusi dan memknai puisi itu sendiri. Namun jika sebuah malam yang dijadikan ‘hanya’ sekedar baca puisi, maka eloklah kiranya jika kita menyebutnya Malam Baca Puisi. Tapi sebagai penikmat dan pengagum puisi, aku angkat topi pada keberaniannya yang mainstream itu. Kenapa? Di antara ingar-bingar kota ini ada seorang perempuan dengan segala daya dan upaya 'menggebrak' Jambi dengan puisi. Taniah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OM TELOLET OM...!!!

Mentor

Mental Anak Rantau