PHP
PHP
Sekarang orang dari orang, demi orang dan orang ke orang yang bukan orang-orangan, kenal saya sebagai pelapak online. Kebetulan produknya buku dan baju (khusus ini pengiriman dan barang lansung dari Bali). Teman-teman boleh intip akun Art Souvenir. Itu berbeda ketika dua tahun lalu. Saya benar-benar aktif di grup kepenulisan. Mulai dari belajar tekhnis, EYD, Plot, Alur sampai bedah puisi. Betah berasik-masyuk menyantap sajian diksi dan pola kalimat yang meliak-liuk itu. Pun tak lelah menimba ilmu dari pakarnya, buku dan beragam referensi Google.
Maka tak heran jika waktu itu inbox dipenuhi chat-chat penulis mulai dari yang indie sampe yang sudah melalang buana. Pun sharing ilmu yang tak lelah saya gali, cari dan geluti.
"Mas, ajarin nulis puisi dunk."
"Mas, tolong cerpen ini apa sich yang kurang."
ato "Mas, proyek novel kapan kita rampungkan?"
Tapi belakangan semuanya mulai surut, redup dan mungkin terkubur. Bukan karena tak minat, tapi kesibukan menjadi pelapak membuatnya jadi no ke sekian. Haalaahhh...
Menjadi penulis yang kaubutuhkan adalah puasa internet, gadget dan aplikasi. Ini berbeda ketika statusmu adalah pelapak. Kau harus ekstra aktif setiap detik, menit, jam dan sepanjang hari. Bukan karena kau tak punya kerjaan, tapi karena kauharus melayani calon buyer, pelanggan dan teman yang terus menyatronimu.
Itu kenapa saya sebisa mungkin hadir di beragam aplikasi ch@ting. Pun gadget yang mumpuni, bisa ber-BBM-an, TWITER, IG, What Shap, LINE, Messenger tapi SMS udah jarang. Hihi...
Saya bersyukurlah mendapat pelajaran yang luar biasa dari bisnis (kecil-kecilan) ini. Semoga bukan hanya keuntungan pribadi, tapi lebih ke khalayak luas. Dan sungguh, tak percayanya saya. Ternyata pelanggan bukan hanya dalam negeri, tapi luar negeri. Tapi hampir 90% pelanggannya adalah perempuan. Kenapa ya? apa si pria minat bacanya minim, kalaupun ada mereka bukan remaja atau young adult tapi lebih dewasa dan penulis yang sudah mapan. Ah, pantas saja si cowok memang langka. Minoritas.
Dan ketika ada yang tanya, "Gie, mana naskahmu?" atau "Jangan lupa buat catatan buku ini." Aku cuma meng-OK. Tapi hingga detik yang sudah isya ini aku tetap dicap PHP.
Hahh...
Komentar
Posting Komentar