Pak Yai

Pak Yai

Alhamdulillah. Begitu aku mengucap syukur berulangkali. Setelah Ramadhan aku memimpikan akan rajin ke masjid, tercapai juga. Tak mudah loh, bertarung dengan musuh yang paling kuat sejagad raya. Siapa? Dia adalah dirimu sendiri. Sepuluh orang mungkin bisa kau taklukkan dengan kepalan tinjumu. Tapi jiwamu, siapalah yang mampu jika bukan si pemilik-Nya. Kau hanya berkenan merawat; rela tak rela, kau harus sepenuh hati. Pun ketika ia harus pergi dijemput dan kembali ke muasal. Ya Rabbi, ampuni, kasihani dan sayangilah diri ini yang papa.

Aku heran, tak biasanya mesjid serame ini. Sampai 3 shaft didominasi anak-anak dan orang tua alias 'mbah-mbah" hihi... Makin hari aku makin jadi pusat perhatian ketika ada orang baru (hahaha... menurutku saja) Bukan karena aku 'sok cake' tapi ya itu tadi, dirikulah yang muda. Dalam artian manusia berusia 15-30 itu langka yang di mesjid. Tengok saja, atau kau boleh jewer dan getok (kepalamu sendiri loh! bukan kepalaku, hihi).

Sebelum Mbah Solihin mengimami jemaah. Dari jarak 20-an meter aku liat sosok yang luar biasa. Entah kenapa ia tampak mencolok di antara tetua dan si anak. Tubuhnya tegap dan wajahnya bersih, kumis tipis dengan sapuan brewok lebat. Ia memerhatikan sesuatu entah apa. Seperti hendak mengimami tapi diurungkan. Matanya berpendaran, kami bertemu pandang. Sekelebat ia tangkap sesuatu yang tak aku mengerti pun tak kusangkal. Seusai rukuk, sujud, salam dan sholat berjamaah pun rampung. Plong! dadaku. Luar biasa indahnya Islam menghambur di relung jiwaku. Ada sekelumit tanya menyeruak di dada.

Sebelum kakiku menuju pintu samping. Dicegatnya aku. Oh! orang yang tampak asing tapi berwibawa itu. Dari bentuk wajahnya, aku menebak orang ini keturunan Arab-Bugis. Itu terlihat dari cara berpakaian dan songkoknya. Ia tersenyum dan menyeretku ke sebuah tiang. Orang Jawa bilang, leyeh-leyeh. Beberapa orang biasanya si tua-tua tengganai sich, mereka mengkaji sebuah tafsir. Tak banyak, hanya seorang yang membacakan beberapa ayat, kemudian yang lain menyimak, lalu yang lain lagi menerjemahkan dan menafsirkannya.

"Mas Gagah," serunya. "Rene, kita ngobrol sebentar." kami pun duduk berjejer. Harum dan itu sangat berkeliaran di sekitar hidung. Parfum apa nich orang, aromanya lembut dan merambati udara namun tak semena-mena.
"Sampean wong Jowo toh?"
"Lha, aku kira situ orang Bugis," selorohku sambil tersenyum. Aku mulai beradaptasi, toh dari raut wajahnya ia tak berada jauh dari umurku. Meski aku sempat iseng bertanya, kenapa ia memelihara kumis, janggut dan berjubah.
"Heuheu... Saya Jawa tulen, Mas e. Karena sewaktu bujang doyan keluyuran, sampailah ke Sulawesi, lalu nekat mempersunting anak daeng. Dan kadang-kadang logat Bugis dan tradisinya sering terbawa, itu habbits loh!"
Kami tertawa kecil.

"Sampean jangan panggil aku Mas Gagah, kayak di novel yang pernah aku baca ae."
"Lha, memang ada ya?"
"Nggih Pak Yai,"pungkasku.
"Loh, kan ndak apa. Liat Mas, yang sholat jamaah udh pada tua. Orang-orang 'Gagah' kayak sampean udah langka. Makanya aku heran, kok ya aneh Samm... pean." Ada penekanan di sana.
"Iya Pak Yai."
"Ada maunya ya? ayo ngaku, Gusti Allah Maha Melihat loh! ndak bisa bohong."
Ia meledekku.
"Guyon loh!"
Aku nyengir.
"Njaluk doane Pak Yai, uripe penak, urusane lancar, murah rejeki, enteng jodoh."
"Wani piro?" Pertanyaan ini mencuatkan tawa kecil kesekian kali.
"Mas, mantepkan saja niatnya. Ibadahnya kudu kenceng. Sampean udah tepat ke sini, rumah Allah. Toh, memang Dia tempat meminta, berkeluh-kesah dan mengadu."

Tak lama, beduk ditabuh. Adzan Isya berkumandang. Indah. Aku pamit mengambil wudu. Tapi ketika memasuki mesjid, aku kehilangan orang yang kuajak ngobrol tadi. Pak Yai, di mana sampean? Entah apa yang merayapi pundakku. Allahu Akbarr. Aku menangis, air mataku tumpah saat itu. Tak ada yang tahu. Tiba-tiba jiwaku basah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OM TELOLET OM...!!!

Mentor

Mental Anak Rantau