Rara
Apa yang salah dengan dirinya? Bersikejab tanya itu menggelayut di benakku. Jujur, aku ini kritis. Hal-hal yang tampaknya mengganjal, tak sungkan aku komen atau sekedar mengatakan ketidaksetujuan. Itu kenapa terkadang betapa malasnya jika harus berdebat, meski hal sepele.
Nama perempuan itu Rara. Aku biasanya menyapanya dengan panggilan Ra. Kau tahu, profesiku hanyalah seorang sopir. Di sebuah perusahaan distributor ternama di kota ini. Hampir separuh hariku dihabiskan di lapangan; mini market, swalayan, mall, toko kelontongan bahkan grosiran. Jadi kau jangan heran jika di penjuru kota aku mengenal banyak orang, bahkan lekuk-lekuk yang menggurati wajahnya pun melekat di kepalaku. Seakan aku peta berjalan atau GPS yang senantiasa online. Sungguh nama-nama jalan, gang bahkan lorong tersempit aku lewati. Itu yang disebut jalan tikus.
Oh, ya. Jika kau berada di kotaku, lalu mampir ke sebuah gedung dipupuri orange bercampur krem terang. Nah, itulah tempat Rara bekerja sebagai checker bukan ceker ayam loh. Profesi itu tugasnya cek barang masuk, padu padannya kerani. Mungkin tugasnya kurang lebih seperti itu. Dia berparas cantik, kulitnya putih. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai menutupi bahu dan punggung. Kadang-kadang ia menguncir kuda. Tampaklah betapa lurus dan kemilaunya akibat rebounding. Perempuan modern cenderung seperti itu. Mungkin ia kurang puas dan sesekali aku melihatnya dicampuri warna kemerahan. Meski perawakannya kecil dan terlihat kurus, ia tampak pas dengan postur demikian. Sebabnya ia mengenakan baju kerja umumnya. Tapi jins yang terbilang mahal itulah membuatnya berbeda. Tampak luwes dan enak dipandang. Bibirnya mungil, tipis, kemerahan. Lipglos yang memberikan kilatan mempesona. Mata dan pipinya tampak berbinar di sana. Ada rona membuat mata ini betah memandangnya.
Sayangnya, itu kemarin. Tepatnya sebelum Idul Fitri menjelang. Banyak orang-orang kehilangan dia. Bukan hanya aku sebagai kaum Adam, tapi pun kaum Hawa seperti dirinya. Ia telah pudar dan lenyap ditelan waktu. Bayang-bayang mencengkeram ingatanku.
"Kaukah Ra, Ra..Ra? Ya... bukan?"
"Lha, apa kau amnesia? Ini diriku Gie," tukasnya tersenyum. Manis. Dan yang tak pernah aku lupa adalah lekuk di pipinya. Lebar dan dalam. Seolah-olah aku berenang-renang di sana.
"Aku tak yakin," kataku melanjutkan.
"Apa aku harus menamparmu?"
Aku terperanjat. Kali ini suaranya rendah namun cukup merambati pembuluh nadiku. Ada ruang yang dalam, hening dan rindang. Entah apa.
"Bu--buukan! bububukan itu maksudku."
"So... what?!? You call me Ra. Rara."
Ekspresiku kian terasa aneh. Senyum kecil terbit dan terbenam di wajahnya.
"Adem. Penampilanmu itu."
"Biasa aja kok! kamu aja yang baru liat."
Hening.Meski di kanan kiri orang-orang terlihat sibuk. Tapi hatiku sungguh ada perasaan tak menentu, ada haru tak terduga. Semoga kau benar-benar berhijarah, doaku membatin.
"Jadi, cewek itu susah ya. Pake hijab, dibilang sok alim. Ndak pake digodain mulu."
"Lha?" aku menggaruk kepala yang tak benar-benar gatal. "Kamu insaf?" selorohku kemudian.
Ia tak lansung menjawab. Bibirnya terkatup rapat. Aku menyesal melontarkan itu. Tiba-tiba aku menyurutkan niat menatap lebih lama. Aich... betapa teduh matanya. Ya Tuhan timbul-tenggelam aku menunggu kalimat selanjutnya. Sayangnya ia masih menahan suaranya.
"Sebenarnya bukan masalah aku insaf ato tidak," ia memecah kebisuan. "Tapi sejak aku kecil hingga dewasa, kenapa baru Ramadhan kemarin Hijab ini membungkus kepalaku. Kenapa juga orang-orang di sekitarku justru mencecar pertanyaan yang sungguh menyiksaku."
Air mata leleh dari kelopak matanya. Ia coba menyekanya, tapi sayang terlanjur merembes ke pipi dan hidung. Berulang kali tisu disapukan. Tak membantu. Aku tak tahu apa semestinya kuperbuat. Orang-orang di gudang mulai sepi. Mereka menghambur keluar ketika adzan menggema. Jam istirahat. Aku terjebak. Faktur yang tadi di jemarinya pun basah. Duh, tak banyak yang kulakukan kecuali membiarkan semuanya selesai.
"Kau tertekan? Sebab apa? Toh kau perempuan baik di mataku, tak ada yang salah. Hanya saja sebuah hijab telah membuatmu berubah."
"Maksudmu apa?"
"Kau yang sekarang begitu bersahaja dan itu kenapa mungkin mereka merasa kehilanganmu yang dulu."
"Aneh?"
"Tidak juga, hanya kau perlu kerja keras untuk itu."
"Kau seperti puzzle?" Tawanya mulai ada. Renyah.
"Bagiku Rara yang kemarin sudah tiada. Dan lahirlah kau yang sekarang. Berhijab dan santun."
Berulangkali senyum itu melesat di mataku.
"Makasi, Gie. Susah ya istiqomah dan menjadi seperti muslimah sesungguhnya."
Ia menghapus sisa-sisa air mata. Saat itu aku hanya diam dan merekam semua kata-katanya. Suatu saat akan kutulis dan kujelaskan sebuah alasan. Kenapa aku mengingatmu dalam embun yang memenuhi malam. Kenapa aku mencatatkan namamu dalam sebuah Diary. Rara.
21/07/16
Komentar
Posting Komentar