Kisah di mesjid
Tadi tepatnya seusai sholat maghrib, seorang jamaah menghampiriku. Dia tersenyum, sambil berkata, "Mas, rumahnya di mana? Orang baru ya?" Duh, jujur aku malu. Pertama, aku kenal dia tapi dia tidak. Maksud ndak? Kedua, dia bersemangat meski usianya ndak jauh beda. Ketiga, bahasanya santun seakan-akan seluruh irama yang ia lantunkan selalu indah.
"Ndak terlalu baru Kang, hanya jarang nongol." Ia manggut-manggut.
Sesampai di perjalanan pulang, kata-katanya terus mengiang di telinga dan benakku.
"Rajin-rajin Mas, ke mesjidnya. Biar ndak sunyi."
Benar. Ini cuma kalimat sederhana. Tapi perlahan; riuh-rendah jiwaku bergemuruh. Ada sesuatu yang menyentak, memberontak dan membludak. Aku malu. Bukan karena pakaianku tak serupa yang mengenakan kaos, biasanya kemeja atau baju koko. Tapi karena rumah yang jaraknya tak sampai 10 menit. Aku mengabaikan kumandang adzan. Seakan-akan telinga dan hatiku kedap suara. Seolah-olah rumah ibadah hanya didatangi ketika Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, Maulidan. Duh, betapa hancur jiwa ini. Nelangsa menyelinap di dada. Tiba-tiba teringat pada shaft-shaft yang kemarin penuh. Seketika tertawan pada waktu penjuru udara disesaki sholawat dan dedoa. Sekelebat aku terbawa pada ruang dan waktu. Di mana aku?
Dan aku pun kembali merekam ingatan lampau. Ya, aku pernah mendengar suara lelaki itu. Sosok bersahaja yang hidup puluhan tahun lalu. Seorang lelaki sederhana namun kaya--meski bukan ningrat. Dia adalah A.A Navis. Ia menulis cerpen yang hingga kini terus hidup dan mengembara. Judulnya "Robohnya Surau Kami". Dulu aku membacanya biasa saja. Alih-alih istimewa, bahkan aku tak tahu estetika sastra itu apa?
Aku tertegun, sambil merasakan betapa robohnya surau kami sudah melewati dimensi.Dekade dan peristiwa. Lalu aku teringat lelaki tetua tadi. Ia bilang, "Sunyi." Tahulah aku arti dari kata yang menakutkan itu. Seperti surat kaleng yang menawarkan teror dan tentunya kecaman. Aich... akupun merasakan sebuah fragmen yang terpecah belah di diriku. Ingin merenggutnya, namun sayang aku terlampau lupa bahkan amnesia ketika harus menyebut nama Tuhan. Padahal lah aku membutuhkan agar jiwaku tak terlanjur 'sunyi'.
Komentar
Posting Komentar