Semua Pasti Berlalu
Teman-teman sekantorku heran. Mereka bilang saya ini ndak punya hati dan perasaan. Lha kok bisa? Hiks... hiks... Katanya loh! iya kata mereka.
"Gie itu kayak patung kalo punya masalah?" cerita seorang temen. "Diem aja, agak misterius gitu. Tertutup."
Ndak lama yang lain menimpali,"Mosok?"
"Kamu ndak percaya?"
Yang ditanya cuma geleng-geleng. Mantep.
"Kalo bikin status, aku suka. Puitis."
Seorang perempuan ikut nimbrung.
"Orang kayak dia bearti pendiem," tutur seorang yang bermata belok sembari mengunyah permen.
"Dari sudut mana penilaiaanmu, ndak valid."
Orang yang protes ini, manyun.
"Lha, iya kan diungkapkannya cuma lewat kata-kata. Coba kau tengok, pernah tak dia gamang."
"Hihihi... kasian ya, pasti ndak pernah punya pacar."
Mereka tertawa masal. Saking hebohnya, si belok tadi lupa pada permen yang dikulum-kulum. Tertelan. Tersedak. Tapi sayangnya, suara tawa makin meledak-ledak.
Bushet dah, aku membatin.
"Bro apa sich rahasiamu. Kok ya bisa nyante gitu, apalagi soal jodoh. Hayo kapan? Pasti ndak pernah punya pacar, ngaku aja."
Si belok tertawa hebat.
Beneran, guys. Aku diam seribu bahasa.
"Semua pasti berlalu, Semua pasti berlalu," ungkapku mengulang-ulang kira-kira 10 kali, seperti pesan guruku. Cuma itu yang bisa aku jelaskan teman-teman. Kata Pak Yai loh.
"Hidup cuma sekedar ngumbe, nikmati aja bro."
Aku sok bijak lanjutku.
"Hallaaah... Bilang aja kamu gengsi ngakuin status jomblomu," Ketus orang yang sedikit ceriwis.
"Gengsi sich ndak juga. Toh punya pacar disebarluaskan buat apa? Ndak ada untungnya. Cukup disimpan di hati dan ndak perlu diumbar. Toh Allah a'la wa jala Maha Tahu.
Dalam hati aku puas berkata demikian. Tapi di mata yang anti ke aku pasti sinis se-jagad.
Oh...
Komentar
Posting Komentar