Selamat Jalan Horison
Dalam sebuah film yang berjudul "Betapa Lucunya Negeri Ini" atawa kumpulan puisi Taufik Ismail "Aku Malu Jadi Orang Indonesia". Dan beragam bentuk satire yang sungguh miris.
Negeri yang punya 13.000 pulau dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, lalu 1100 an suku bangsa dan 748 bahasa daerah. Bayangkan betapa besarnya Nusantara yang terjalin erat dari Sabang sampai Merauke. Dan betapa kayanya kita dengan sumber daya alam yang melimpah ruah. 350 tahun dijajah Belanda, sampai sekarang toh masih seakan tiada pernah habis. Indonesia negara besar punya segudang cerita yang tak pernah surut dieksplorasi. Namun sayangnya itu hanya 'dongeng'.
Ketika menyaksikan modrenitas tumbuh tanpa dibarengi semangat nasionalisme, maka lihatlah betapa runtuhnya keindonesiaan itu. Ragam suku bangsa, bahasa dan budaya menjadi segepok data yang cuma menumpuk dalam buku sejarah atau pusat statistik BPS. Tapi ya apa anak-anak negeri ini tahu dan minat pada seabrek bilangan yang kaku, beku dan menguras otak sekedar (untuk) tahu.
Ketika saya membaca novel Dyah Pitaloka, waktu itu terpikir benarkah demikian? Seorang Gajah Mada yang melumpuhkah Raja Sunda. Maka segala mitos pun muncul di benak. Sebuah alasan mengapa suku Sunda dilarang mengawini suku Jawa. Dari silsilah ternyata ada hubungan kekerabatan begitu erat antara nenek moyangnya. Dalam agama pun dibahas mendalam kenapa hubungan sedarah dilarang menikah. Ilmu kedokteran pun tak menganjurkan sebuah keluarga yang berasal dari garis keturunan yang sama. Dari sana--sebuah novel--akhirnya tertarik menggeluti sejarah, sains, filsafat, Agama dan kesemuanya itu adalah literatur yang berkesinambungan.
Siapapun pasti bosan ketika sejarah disajikan dalam bentuk ilmiah Cliford Geraltz "Abangan, Priayi dan Santri". Atau betapa lelah mengingat angka dan tahun perjuangan Pangeran di Ponegore, Gerilyanya Jendral Sudirman, Pengasingan Soekarno di Pulau Ende. Kesemuanya dijawab ketika buku "Gara-Gara Indonesia" muncul di publik. Seorang Historivator Agung Pribadi meringkasnya dalam kalimat yang mudah dicerna oleh akal, "O, begitu, masak iya."
Percayalah pembesar negeri ini pasti sangat super sibuk jika mengurusi semua itu. Persoalan demi persoalan kian menumpuk, apalagi sebuah kisah klasik yang tak kunjung usai: korupsi. Pada akhirnya disadari atau tidak, mau tak mau campur tangan politik kian mendominasi.
Dan uniknya Indonesia punya kisah masa lalu dan bukan masa depan. Ndak percaya? Tengoklah karya-karya barat yang cenderung imajinatif. Sementara kita terus berkutat pada mitos. Alangkah menariknya ketika si Vampire keren tampil perlente. Namun kau bandingkan dengan pocong atau suster ngesot yang compang-camping. Seakan-akan diri ini berkata, "Duh, orang barat matinya aja masih keren. Lha?"
Dan sejuta cerita menarik namun menjadi dongeng. Adalah dulu sebuah majalah Sastra high class Horison. Kini kisah itu cumalah kenangan...
Komentar
Posting Komentar