Puisi
Penyair Kota Ini
(Puisi ini pernah dipublikasikan oleh Majalah Puisi edisi 1, 20 Oktober 2016. Medan)
Oleh:
Sugianto
/i/
Penyair
kota ini adalah semerbak kuncup-kuncup bunga
Yang
mencatatkan namanya dalam sebuah buku memoar dan ditembusi oleh tetesan tinta
emas.
Pelanggan
puisi pun bertanya tentang aneka warna kelopak bunga, lalu malu malu penyair
itu pun menjawab bahwa keadaan sudah merdeka,
“Ini hari-hari tanpa ideologi dan ukiran
prasati. Ini adalah masa di mana percakapan dan perjalanan diterjemahkan oleh
mesin mesin digital. Ini adalah investasi yang tumbuh dan tenggelam oleh
derasnya sistem data.”
Penyair
kota ini adalah sekelompok kurcaci yang bergerombol di istana kecil.
Yang
meruntuhkan istananya di bawah tekanan kerajaan kerajan baru. Wong cilik pun
bertanya tentang sebuah keadilan yang meledak-ledak di antara hotel berbintang.
Mereka terus bertanya tentang malam yang resah pada sebuah kata dituliskan
dengan hati nan hampa.
Penyair
kota ini adalah simbol dari huruf huruf yang tak terlacak pada buku pelajaran.
Padamu
penyair kota ini
Kau
tak mencintai puisi dengan sepenuh hati
Percaya
atau tidak
Di
sana tak lagi mengenang telaga bening yang menghapus dahaga musafir
tak
pula rinai tanda hujan turun
Di
sana tak tumbuh benih
Di
sana, di matamu.
/ii/
Penyair kota ini adalah tempias
yang baru saja pecah dari langit
Ia tak tahu, apakah akan kuat
bersama badai atau lenyap ditelan bayang-bayang yang meradang di tengah terik
matahari
Ia pun tak tahu, apakah orang orang
akan melihatnya sempurna sebagai gigir yang mencekam akibat derasnya hujan atau
hanya bertahan dari gerusnya cahaya di antara warna warni pelangi
Penyair kota ini sempat singgah di
candi candi yang menua
Bebatuanya lapuk dimakan usia,
sementara lumut menggerogoti tanpa ada yang peduli sejarah masa lalu. Ada yang
duduk di berandanya, berdiri di antara undak undaknya, lalu membidik sebuah
fokus. Mereka berfoto. Ramai ramai menertawakan nasib kehidupan di masa lalu
yang tertinggal di belakang. Jauh sebelumnya ia semestinya ada di situ,
menyaksikan siang malam silih berganti.
Ingatkah ia ketika Ken Dedes
memberi isyarat pada Ken arok agar seluruhnya sempurna. Nyatanya tak pernah ada
Prasyarat itu sirna serupa
nama-nama kerajaan yang perlahan runtuh ditelan prahara politik
Penyair kota ini semestinya paham
pada kata benda, kata kerja atau kata kata yang kian bersesakakan minta disusun
dalam kamus. Disejajarkan pada makna yang sulit dijangkau oleh lidah orang
orang tak berbudi.
Tahukah ketika kami diajari mengeja
huruf dari papan tulis yang berkapur
Atau ketika dihukum di tengah
panasnya matahari, berlari lari keliling lapangan, lalu tegak hormat bendera.
Ya, kami juga diberi cubitan kecil sesekali digetok dengan mistar.
“Mana PR mu?” tanya guru kami waktu
itu.
“Lupa Bu, kami keasikkan bermain
layang-layang.” Kami menjawab lantang tanpa perlu mengadukan kepada orang tua
yang gigih mencai sesuap nasi
/iii/
Penyair kota ini dibacakan sebuah
puisi tentang percakapan buruh dan derita rakyat kecil. “Orasi yang basi, ya
pucat pasi,”dengusnya.
Mereka sibuk pada gadget yang bisa ditulisi
tanpa perlu deklamasi.
Jambi, 02 Oktober 2016
Sugianto adalah penggiat literasi
yang suka menjajakan buku di FB dengan akun Gie. Minat yang besar pada sastra
menjadikannya kadang suka ngobrol berlama-lama tentang puisi. Saat ini
berdomisili di Jambi dan terus berjuang demi bangkitnya literasi di kotanya.
Komentar
Posting Komentar