Cerita
PEREMPUAN BERHIJAB
DI SEBUAH minimarket aku bertemu perempuan muda. Dari penampilannya aku tahu, dia seorang SPG. Di antara wajah tirusnya, ia tampak elok dibalut jilbab merah marunnya. Aku tak tahu, apakah aku saja yang menduga-duga atau daya tarik lain yang membuat diri ini berani beradu pandang, memilah kata-kata. Semacam prosa panjang, aku mengatur alur agar ia maju mundur. Lalu kususun klimaks dan antiklimaks.
"Bang, produknya apa?" Ia bertanya.
"Kosmetik kok," kubalas seperlunya.
Ia melirik ke arah pakaian, lalu tertuju ke faktur.
"Sepertinya familiar," ungkapnya setelah mengamati faktur yang kupegang.
"Hmm ..."
Kami terdiam sejenak.
"Oia, Bang ada lowongan gak buat cewe?" Ia menyeletuk.
"Kayaknya ada, tapi aku ndak janji."
"Kenapa?"
"Soalnya tadi ada dua orang yang memasukkan berkas," Tukasku, "coba aja." Lanjutku kemudian.
"Yaaa ..." ia menghela nafasnya, "buat apa memasukkan lamaran jika gak lowongan. Ngabisin waktu dan biaya." Tambahnya.
Aku mengaminkan ungkapannya itu.
"Gini aja, Wa mu berapa? Boleh aku mintak, nanti kukasih infonya."
"Tapi ..." mimiknya tampak pesimis.
"Apa ada ya SPG yang berhijab? Ada juga cuma beberapa outlet. Kalaupun ada stand, itu juga terbatas."
Lagi-lagi aku menyetujui pemikirannya. Ternyata, di jaman now ada segelintir perempuan yang menyayangkan auratnya--hijab--ketimbang materi. Agaknya karena sosok seperti ini begitu langka. Alih-alih penampilan, materi adalah sebab musabab jilbab dinomorduakan. Di rumah tampak santun dan syar'i. Namun karena tuntutan kerja, maka yang tampak membalut kepalanya dengan kain itu ditanggalkan. Ya kadang menjadi dilema. Tapi bisa juga karena tak mengerti hakikat jilbab seutuhnya.
Ya Rabb ... jaga mereka dan berikanlah kebaikan pada setiap penampilannya itu.
Setiba di kantor aku menemui atasanku.
"Benar, saya memang sedang mencari lima orang buat stay di minimarket."
Mendengar itu aku jumawa.
"Wah, ada ya Bu lowongan?"
"Yupss ..."
"Termasuk perempuan berjilbab?"
"It's no include." Mimiknya berubah.
"Yang dipriotaskan bertubuh lansing, berambut panjang, minimal sebahu. Kau tahu, tak semua outlet menerima perempuan berhijab. Maaf ..."
Aku berjalan gontai, menekuri lantai keramik. Di mataku dinding dan langit-langit tampak retak.
02/01/18
Komentar
Posting Komentar