Sharing
Jambi,
13 Des. 17
Pernikahan Itu ...
Cinta
itu berwujud seperti apa sih? Saya sungguh tak mengerti. Ada yang bilang, sosoknya
sungguh menyenangkan seperti kelopak mawar yang sedang merekah. Namun ada juga
yang mengatakan memag mawar tapi berduri. Hah... iya mawar kan penuh duri,
batinku. Penyair pernah mengidentikan dengan kata-kata yang indah dan penuh
metafora. Lantas apakah ia salah dengan segala kekutan kata yang dimilikinya?
Rasanya tidak. Alih-alih cinta itu mawar, duri, mawar berduri atau duri-duri
mawar, toh, ia tetap ada di kehidupan manusia. Kita berhak menunjukkan dan
berkata seperti seharusnya apa yang dikehendaki.
Suatu
kesempatan seorang teman datang ke rumah, ia sudah menikah dan punya anak yang
menggemaskan. Umurnya kira-kira dua tahun, bocah lelaki yang didambakan seorang
ayah tentunya. Biasanya ia datang dengan anak isterinya, sambil berkata, “Ini
keponakanmu, ia sudah bisa mengucapkan nama-nama hewan loh,” katanya. Aku hanya
tersenyum sambil membalas ucapannya, “ wah... kau pasti ayah yang hebat.”
Kemudian ia berseloroh,”Kamu kapan? Jangan sampai keduluan aku punya anak dua
loh...” kami tertawa hebat.
Sebenarnya
itu motivasi buat saya agar segera menikah dan punya momongan. Seperti layaknya
manusia biasa punya kebahagian yang tiada tara: sebuah keluarga utuh ada ayah,
ibu dan anak. Namun apa daya, kadang-kadang apa yang kita upayakan tak
semestinya. Jalan pun demikian, ada yang tak rata. Jika ada yang bertanya
‘apakah saya tidak pacaran?’ atau ‘kenapa di antara bayaknya perempuan saya
betah menyendiri?’ temans... saya punya pandangan sendiri dan cara berpikir
tentang hidup itu sendiri bukannya saya tidak mau ambil resiko ‘mengenal diri’
bahasa bekennya ‘pacaran’. Nyatanya saya pernah merasakan betapa hancurnya
ditinggal kekasih yang menikah dengan orang lain. Kami waktu itu merajut
hubungan cinta hampir empat tahun. Jika kaupunya kendaraan maka dipastikan
lunas dan punya BPKB.
Saya
tertawa sendiri mengingatnya, bukannya menyesali diri. Bahkan si perempuan
sendiri yang memberi sebuah kertas tipis berwarna merah jambu. Di antara
keindahannya itu ada tawa di wajahnya, “datang ya Bang,” katanya sambil
menyerahkan sebuah surat undangan. Terbayaglah sudah ... tak ada nama indah
dulu yang bersarang dalam benak. Tak ada takdirku untuk menikahinya. Dan tak
juga menjabat tangan penghulu sambil menyebut namanya sebagai pendamping hidup.
Saya juga bisa merasakan bagaimana perasaan itu sesungguhnya ketika melihatnya
duduk di pelaminan. Saya juga tak mungkin bisa merelakan hati sebegitu hancur
ketika ia benar-benar pergi. Ah, bodohnya saya jika meratap dalam kenangan
ketika melewati hari-hari bersamanya. Mungkin saja si pria yang menjadi suami
ketika menjabat tangannya berkata,”terima kasih telah mejaga jodohku.” Bisa
juga si ayah-ibunya yang baik itu justru merasakan betapa baiknya saya. Menjaganya
hingga si anaknya menemukan pendamping hidup. Ya Allah... Saya ini salah apa?
Apa
itu belum cukup dikatakan saya tak mengenal perempuan dengan berpacaran? Setelah
mengevaluasi diri, ternyata di umur yang sudah berkepala tiga, saya sudah
melewati dengan banyak perempuan, mungkin puluhan bahkan ratusan. Jangan ditanya
kenapa itu hanya menyisakan kehancuran? Saya pernah bertanya ini pada diri
ketika betapa berlikunya menemukan perempuan. Apa diri ini kurang ganteng? Apa
kurang modis? Apa kurang bersikap jentelmen? Atau mungkin tak mampu menjaga
perasaan itu sendiri? Satu hal yang saya perlu garis bawahi, diri ini terlalu
baik untuk mereka. Kau tahu menjadi orang baik ketika berpacaran itu sangat
haram. Perempuan manapun akan berkata, “lelaki baik hanya untuk perempuan
baik.” Lantas yang jadi petanyaan adalah ‘baik yang bagaimana hingga ungkapan
itu ada? Setelah ditelisik, ‘baik-baik’ secara harfiah adalah bersikap sopan.
Artinya tidak melukai siapapun. Maka ‘lelaki baik’ tadi adalah sikap seorang
suami kepada isterinya. Ia mampu menjaga harkat, martabat dan kedudukan wanita
itu sendiri.
Jika
ia masih tahap ‘pedekate’ alias pengenalan dalam arti ‘pacaran’ maka sebaiknya
tak bersikap ‘baik-baik’ tadi. Toh... hukumnya jelas: PERCUMA. Sebab dalam
kamus pengenalan diri di luar pernikahan menjadi ‘orang baik’ adalah untuk diperalat,
diperolok dan dibodohi. Kenapa demikian? Sebabnya mencintai sesuatu tak
bolehlah berlebihan sebab ia belum tentu menjadi hak kita.
Kembali
ke kisah si kawan tadi. Ia memang telah menjadi suami yang baik bagi isterinya,
ayah yang baik juga bagi anaknya. Itu terlihat ketika ia membawa keluarganya ke
lingkungan tetangga, ke tengah masyarakat. Maka bisa disimpulkan ia berhasil
menjadi orang yang paling bahagia menurut agama: berkeluarga lengkap. Dalam
istilah Ippo Santosa adalah sepasang bidadari. Apa itu? Jika yang pertama
adalah ibu maka yang kedua adalah isterinya. Jika seseorang sudah lengkap maka
kebahagian mana lagi yang dicari. Kebahagian ada dua hal: pertama lahir dan kedua
batin.
Namun
sayangnya, kadang taklah mudah membalik telapak tangan. Kisah cinta yang
sesungguhnya adalah dalam pernikahan. Di sana kesungguhan kata ‘cinta’ itu diuji.
Orang bijak pernah berkata, “mendapatkan sesuatu itu lebih mudah ketimbang
mempertahankannya.” Ada juga begini, “pelaut yang tangguh bukanlah ketika
berada di air yang tenang. Tapi ketika mampu melewati ombak dan badai.” Jelas
bukan? Bahwa cinta yang sesungguhnya ketika dua anak manusia (tentu lelaki dan
perempuan) mampu mempertahankan bahtera rumah tangganya dengan dan dalam
kondisi apapun. Kau tahu artinya apa dan mengapa disebut rumah tangga?
Sederhanya adalah seperti tangga itu sendiri; menaikinya perlahan untuk sampai
ke atas. Tidak terburu-buru kalau kau tak mau tergelincir. Itu juga kenapa
ketika mendengar kebahagiaan sesorang, nabi mengajarkan untuk berkata ‘barakallahu’
artinya semoga berkah. “barakklahu fii umrik” ketika sesorang berulang tahun yang
artinya semoga berkah umurmu. Maka ketika kita berdoa untuk pernikahan
pengantin baru yang lebih baik itu adalah, doa ini adalah hadits yang
diriwayatkan oleh Abu hurairah,
بَارَكَ اللهُ لَكَ
وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ
“Barakallahu laka, wa baraka
‘alayka wa jama’a baynakuma fii khayr.”
Artinya: “Mudah-mudahan Allah
memberkahimu, baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kamu
berdua pada kebaikan.” (HR. Abu Dawud)
Bahwa
dia berkata, “isteri kupulangkan ke orang tuanya.” Saya terdiam sejenak.
Kemudian berkata, “lha... mudik?” ia menyangkal, “Ya... aku pulangkan bersama
si anakku. Kira-kira 10 bulan yang lalu.” Saya terdiam mendengar penuturannya.
Mulanya ia tak ingin bercerita seperti aib yang harus ditanggungnya sendiri.
Tapi... kawan tetaplah bagaimanapun rapat menutupnya, ia pasti bercerita dari
awal hingga akhir.
“Ya,
aku berpisah. Mulanya ingin ‘sekali’ saja seumur hidup. Namun apa mau dikata,
keinginannya sudah begitu.” Ia terus berceloteh.
“kan
harusnya enak ya punya anak dan isteri,” tuturku.
“Itu
katamu,” sanggahnya.
Aku
tak mau mengusiknya, ia sepertinya terluka sangat dalam.
Begitulah.
Pasang surut dalam biduk rumah tangga selalu ada. Untuk diri ini pun bukan
orang yang pernah menikah. Tapi orang yang belajar banyak sebelum menikah. Maka
doa pun selalu tercurah untuk menjadi imam yang baik bagi isri dan anak-anaknya
kelak. Membesarkan hati bahwa jodoh, maut dan rejeki selalu berada di
genggaman-Nya. Manusia berencana Tuhan yang menentukan.
NB: Gambar diambil dai google :-)

Komentar
Posting Komentar