Resensi Novel Rini Ristianti

Jambi, 201015

Gugur Tumbuh Sakura Muda

Oleh: Gie Sugianto

Judul                : Wajah Sakura Di Cermin Dila
Penulis             : NR. Ristianti
Penerbit           : AE Publishing
Kota Terbit      : Jakarta
Tahun Terbit    : 2015
Cetakan            : Ke-1
Deskripsi Fisik : 226 hlm
ISBN                : 978-602-1189-55-9



Seketika hatiku terbang ke bunga sakura, Jepang… yaps ingatanku mengarah ke sana. Begitu setidaknya kesan pembaca ketika melihat cover di Novel NR. Ristianti ini. Pembaca akan terpedaya ketika memasuki awal bab yang nyatanya berada di sekitaran pulau Jawa tepatnya Bandung. Adalah Dilla seorang remaja yang beranjak dewasa; cerdas dan keras kepala. Ia punya seorang ibu yang bisa dikatakan super sibuk namun tetap keibuan—pancaran kasih sayangnya dirasakan ketika berharap anaknya menjadi yang terbaik. Single parents itulah yang membuat novel ini terasa berada di sebuah keluarga pekerja keras; tanpa kenal lelah dan penuh kredibilitas. Itulah yang terjadi ikatan anak-ibu yang menawan. Ibu—Nadia, punya seorang teman setia sekaligus boss-nya yang cendrung ngemong, namanya Wina. Rasanya dia perempuan yang paling beruntung di sini. Ia punya segala hal yang didambakan setiap orang.
Persahabatan ini pula yang membuat ikatan batin di antara ketiganya begitu kuat dan menjadi seperti keluarga utuh. Di mana ada ibu maka di sana ada Wina, maka di sana pula Dilla disebut-sebut namanya. Dilla punya segudang prestasi yang bagus di sekolah. Ini DNA dari si ibu yang brilian pula. Bekerja di sebuah perusahaan besar yang punya punya semangat luar biasa. Ini pun terbaca ketika tanpa sepengetahuan Dilla, ibunya punya pekerjaan ganda. Wah… scene ini menjadi mengharukan ketika terjadi salah paham yang sering terjadi antar ibu-anak yang jarang bertemu. Terkadang ada hal yang tak perlu diungkapkan dengan kata-kata, itulah cinta, ia punya bahasa dan caranya sendiri ketika berbicara dan kadang bahkan seseorang tak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Itulah yang ingin disiratkan oleh si penulis dari Sukabumi ini.
Adegan pun bergulir dengan adanya penyakit yang menjangkiti si ibu, lupus. Lihatlah bagaimana si penulis pintar menyisipkan istilah kedokteran yang masih awam di telinga. Ia mengemukakan secara halus dan detail. Membuat pembaca tak perlu berurat kening menanyakan apa dan bagaimana—sebuah pertanyaan yang lazim bagi pembaca awam—karena di sana tertulis mendalam, dengan lincahnya ia bertutur. Kondisi si ibu yang keras dalam artian tak menyerah pada keadaan yang sejatinya rapuh. Beberapa kali si ibu harus drop dan keluar-masuk rumah sakit, ini menandakan ada semangat juang luar biasa dari seorang single parents. Ia tak mengeluh apalagi meratapi nasibnya yang sunyi setelah kehilangan ayah Dilla. 
Yang paling menarik pada novel ini adalah perpindahan POV yang begitu luwes. Seperti pengantarnya oleh sang editor,”Dengan keputusan ‘klik dan twing’! memilih multi POV” alhasil cerita tak monoton apalagi kaku. Biasanya penulis yang melesat ‘serba tahu’ akan terasa kecerdasannya dalam menyampaikan misinya. Beberapa kali saya temukan penulis demikian. Tapi yang paling berhasil adalah penulis “Galaksi Kinanti terlahir kembali” Tasaro GK. Dia dengan liarnya berlompatan dari satu peristiawa ke peristiwa lain, kemudian berceloteh tentang ragam sudut pandangnya dia. Aduhai menariknya dan senangnya aku menyelsaikan sampai tuntas barisan novel perdana penulisnya.
Tunggu… ini belum selesai. Ternyata jebakan batman itu terjadi pada bab pertengahan ketika si Dilla mempertanyakan jati dirinya. Jepang yang dicari dan ditunggu itupun ternyata mula dari hubungan ayah-anak. Penulis cendrung ringan dan tak bertele-tele dalam menyelsaikan hingga akhir bab. Nah, justru di sini kelemahannya. Ia seperti kehilangan kendali ketika harus mempertemukan si ayah-anak. Seperti ada pemaksaan yang signifikan. Ketika Dilla mencari ayahnya hingga ke Jepang, inilah dimulai kegaringan dari konflik yang ada. Sayang sungguh sayang. Search and research pun menjadi fatal dan dipertanyakan, benarkah demikian mudahnya. Seperti mudahnya menaiki kereta listrik yang super cepat dan nyaman? Rasanya ini adalah pe-er bagi si penulis agar mempertahankan temponya. Agar di antara kemulusan alur cerita selalu ada jeda; tempat di mana pembaca diajak bercakap-cakap dengan logikanya sendiri.
Jepang? Sebagaimana bayangan yang berkelebat di awal melirik cover. Itu pun musti menjadi titik balik. Pelukisan yang terjadi terasa hambar dan membuatnya terasa sia-sia. Seperti berada di ruang kotak-kotak alias perkantoran yang super padat. Pun di sini si penulis seperti kurang mamaparkan benturan budaya dan latar belakang apa dan mengapa si ayah sampai bersikukuh mengibaratkan dirinya menjadi serupa pion yang diatur oleh kehendak si ayah—kakek Dilla. Mungkin akan terasa hawa Jepang  ketika ia melukiskan bagaimana Jepang hidup dengan Hirikarinya atau bagaimana ia menerapakan sistem rodi yang berada di abad lampau. filosofi seperti ini yang agak tersa masih perlu digali oleh si penulis.

Sampai pada halaman terakhir saya sebagai pembaca mendapatkan sebuah kesimpulan tentang ruang di hati. Ia punya tempat yang bernama ‘kepuasan batin’. Beberapa kali saya berpikir standing aplaus buat kerja keras si penulis yang mengeksplorasi Jepang-Indonesia. Lalu percakapan diri si Dila yang cenderung labil—cukup relevan dengan ABG yang masih mencari jati diri. Sementara ia pun cukup behasil menerapkan hubungan cinta dalam sebuah ikatan emosional antara ibu-anak-ayah dan kerabat jauh. Dengan ending yang bisa dikatakan sadness, bisa dibilang dia berhasil karakter si kakek yang bersikukuh dengan ‘aturan’nya pun dibuat dramatis. Hanya beberapa penggalan dialog si nenek yang kurang ‘jleb’ membuat sedikit ketimpangan—antara percakapan diri si nenek atau si penulis atau justru si Dila. Mungkin itu sebagian rekahan sakura yang berserak di sana-sini membuat novel young-adult ini terasa asik dibaca disaat santai. Tulisannya ringan dan cocok bagi para pembaca yang doyan genre ‘cinta-cinta-an’. Tentu ini akan membawa perubahan angin segar bagi geliat penerbitan buku yang kian gencar. Dan bagi penulis pemula akan banyak belajar dari penggarapan tema yang sedikit berbeda dari biasannya. Karena memasukkan unsur budaya ‘luar’ ke ‘dalam’ akan sangat tidak mudah dan riset yang melelahkan….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OM TELOLET OM...!!!

Mentor

Mental Anak Rantau