Resensi Buku Puisi Rina Heryani


Jejak Cinta Seorang Pendidik
Oleh: Sugianto (Gie)

JUDUL                  : Beranda Cinta Ibu
PENULIS              : Rina Heryani
PENERBIT           : Gambang Buku Budaya
KOTA TERBIT    : Yogyakarta
TAHUN TERBIT : 2015
CETAKAN           : Pertama
DESKIPSI FISIK  : 153 halaman
ISBN                     : 978-602-6776-00-6


Cinta
Rasanya itu ungkapan yang sesungguhnya di balik cover coklat muda antologi puisi terbaru Ibu Rina Heryani. Jika buku pertama dipersembahkan untuk Putri sulungnya, (yang sekarang) sedang menempuh pra studi di Jerman. Maka di antologi kedua ini pun tak lepas dari rasa rindu yang berlapis itu. Dibalut hijab sewarna kenanga sambil menjereng senyumnya si ibu yang berprofesi sebagai pengajar—menerbitkan sekumpulan puisi—menjadi sebuah cerita di balik rasa suka-dukanya bukan sebagai seorang guru, tapi sebagai anak manusia. Ia tak hanya jujur, tapi lugas dan santun dalam mengemban tugas demi tugas itu. Lantas adakah semua itu tanpa rasa cinta? rasanya tidak. Setiap tindakan yang dibekali cinta selalu punya nilai lebih dan karakter kuat dalam membangunnya. Ini berbeda ketika seseorang melakukan tanpa didasari rasa cinta. Dan itu pula alasan beliau menerbitkan sekumpulan puisi yang berlabel cinta pula. Sapardi Djoko Damono sebagai penyair sepuh pun selalu menuliskan sajak cinta. komunikasi paling mendasar adalah cinta anak manusia. Itu membuktikan cinta tak akan pernah lekang oleh waktu.
Sekiranya itu yang diharap ibu yang memiliki sepasang anak yang kasihnya pun tak luntur dimakan usia. Lelah… tentu, seperti perjalanan hidup ini betapa itu sebuah cerita yang panjang jika musti diuraikan. Sama halnya dengan menulis, itu sebuah pertarungan yang menguras tenaga, pikiran dan air mata. Pujangga besar Gibran pernah mengatakan “Setinggi apapun pujangga menggapai, dirinya terselubung air mata.” Rasanya tidak salah jika puisi dikatakan sebagai bahasa yang sederhana mengungkap rahasia-rahasia yang tak bisa dijelaskan dengan apapun, kecuali dengan kata-kata yang dipilah-pilih. Toh, hanya dengan itu seseorang mampu menerjemahkan bahasa kalbunya. Dalam dirinya ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan bahasa ilmiah yang kaku. Tapi sebuah ruang yang bernama sastra.
Puisi sebagai karya sastra tertua, sifatnya sebenarnya cenderung simple namun tertutup tapi tak semena-mena. Ini pun tertuang dalam barisan sajak-sajak yang bertajuk “Engkaulah Puisi” di sini sebenarnya ia telah mengungkap jati dirinya pada larik
//engkau mulai kucintai//teka-teki//diafan//kudus//bergelora selalu//
Tentu hal ini mengisyaratkan betapa luar biasa semangatnya dalam berkarya. Karyanya tidak hanya puisi, ada juga artikel pendidikan dimuat diberbagai media cetak; koran dan majalah. Kebiasaan inilah yang menciptakan habbits, sebuah keterampilan yang tercipta karena pembiasaan. Lambat laun hatinya pun tergerak menggubah menerbitkan ‘teka-teki yang menggelora’. Dan bagaimana baktinya selama sepuluh tahun terakhir dengan penuh perjuangan. Namun seperti rekah senyumnya ia pun berkata puisi “Belenggu, Sajak sekuntum Senyum, Filosofi Senyum” ketiganya adalah beberapa di antara keseluruhan dari dirinya yang utuh. Ia mencoba menuliskan dirinya sendiri. Lantas bagaimana dengan sifat puisi yang ditulisnya? Berulangkali rasanya ia menjawab dengan ‘’estetika Sederhananya” bahwa puisi tidaklah musti membuat kening berkerut dan diksi yang njelimet. Tapi dengan ke-vulgarannya ia semakin luwes menyampaikan maksud hatinya. Ia jejakkan kesan yang dalam di hati pembaca. Seperti siluet senja, ia menginginkan ada sesuatu yang harus diigat meski hanya sebentar: saban sore. Karena kenangan adalah sebuah ingatan yang tak bisa diingat setiap saat. Mungkin disaat semua orang mulai kembali keperaduannya, ingin sebentar hadir dalam ingatan. Dalam kediafannya ia hanya ingin mencoba dimegerti bahwa yang dilakukan adalah sebuah kebenaran.

 Sang Pendidik…
Menjadi seorang guru adalah sebuah pekerjaan yang mulia. Tak mudah menjalani sebuah profesi yang berfungsi ganda: pengajar dan pendidik. Dua hal yang tak pernah lepas dari seseorang yang disebut guru. Seorang pakar pendidikan dari Brasil Paulo friere pernah mengatakan, “Mereka yang disebut pendidik pertama-tam harus belajar bagaimanamelanjutkan proses belajarnya sendiri ketika mereka mulai mengajar dan lebih banyak mendengar daripada bicara.” Di sinilah ia mencoba merekam jejak dari seorang Kartini dan meneladani Tut Wuri Handayani. Beliau cinta pada dunianya sendiri—sebenarnya, tanpa sadar—meski ia tak mau disebut sebagai seorang penyair. Katakanlah beberapa kali ia kerap menjadi moderator dalam sebuah acara yang paling berkesan dan populer ‘Siswa bicara Sastrawan menjawab”. Mungkin ribuan orang penasaran bagaimana rupa sastrawan yang hanya dibaca karyanya lewat puisi, cerpen, essai dan novel. Di sinilah benang merahnya. Ia yang pernah merasakan aura seorang besar, melihat, melamati, mengurai pemikiran si tokoh. Lambat laun pun cinta kembali tumbuh. Tengoklah pada sajak´”Pena Kartini, pada jejak Ibu, Senyum kartini, Isak kartini Emansipasi dan Bunga Pembatas Buku”
Kata-katanya cenderung sederhana dan mengalir. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Seperti lingkaran; berputar dan menarik dirinya pada situasi yang tak jauh berbeda.
//setiap membaca puisimu, kutandai lembarannya dengan aneka bunga//
Bukankah demikian? Jika boleh saya kutipkan ungkapan Darwin “Siapa sangka dari awal yang begitu bersahaja, jalan kita untuk memahami kehidupan di bumi akan mengarah pada ke penemuan bahwa segenap sejarah kita tertulis dan tersalin dalam tiap sel darah kita,” pernyataan Darwin tentang  teori asal-usul spesies mungkin sudah ratusan tahun yang lalu. Tapi nyatanya relevan dengan manusia yang cenderung merekam dan pada akhirnya “Tertulis dan tersalin”. Itu membuktikan rekam jejaknya bergaul dalam lingkungan sastra menggerakkan hatinya untuk menjadi (golongan) sastrawan pula.
Dan paling mendasari itu semua lihatlah betapa piawainya ia dalam sajak “Reposisi 1,2,3”. Dan mungkin sebagai seorang penndidik ia pun gerah pada penulisan “Di” yang sering salah kaprah. Lagi dan lagi itu semua karena cintanya pada dunia pendidikan itu sendiri. Pesan yang disampaikannya terang bahwa kesalahan sering terjadi di sana sini dari hal yang kecil. Cinta sifatnya universal.  Tak sebatas sepasang kekasih yang tersulut rindu.
Berbeda dengan buku pertama yang cenderung tertuju pada si anak. Karena ke-universalan cinta itu si ibu  memilah milihnya dengan rapi. Ia tempatkan beranda. Lalu si anak disuruhnya menunggu, sebelum memasuki sebuah bilik, kemudian setelah dirasa pas, maka ia berharap ke semuanya itu membuat nyaman. Dan dalam dirinya ia tetap saja menjadi penyair yang memang adalah pemikir. Ia sadar bahwa ia musti berkiblat. Pada sajak “Tesaurus dan Akrostik” terlihat manis menuturkan proses kreatif seorang “Rina Heryani” sebuah hasil haruslah melalui proses yang panjang dan melelahkan.
Meski sampai saat ini tak ada yang menjelaskan apa itu puisi yang sesungguhnya. Para tokoh dan pakar di bidangnya pun selalu mengatakan puisi mempunyai maknanya sendiri yang multitafsir. Ia seperti pengntar Pak DAM “Sederhana” tapi toh setiap penyairnya-lah ‘tahu’ apa yang sebenarnya terjadi. Karena si pembaca hanya membaca teks. Intinya puisi yang disampaikan cendrung menyentuh tanpa berharap pembaca merasa digurui.

 Catatan kecil…
Ini mungkin yang dimaksud Tagore dengan Gintayali, Soe Hok Gie dengan CSD atau Anna Frank dengan Kitty nya. Mula-mula itu semuanya hanyalah selintas pikiran yang bisa membuat seseorang menjadi gila. Tapi di tangan seorang penyair tentu semua itu senantiasa tertata rapi dalam benaknya. ia mampu menerjemahkan bahasa yang tak mampu ditangkap oleh indera. Tapi sayang dalam beberapa kasus, ia musti bekerja keras dengan ‘’catatan kecil’’ yang memuasi sebagai puisi. Beberapa puisinya cenderung lemah dan kurang nutrisi. Alhasil ia menjadi sebuah fragmen yang terpisah dari sebuah cerita yang sesungguhnya. Hingga akhirnya ia musti bertarung lagi menjadi seorang yang tak pernah puas pada apa yang ditulisnya.
“Jika seorang penyair puas dengan karya yang ditulisnya, maka selesailah riwayat si penyair,” tulis DAM dalam sebuah essai.
Bagaimanapun jika beliau teliti dan hati-hati dengan intuisinya, saya yakin puisi-puisinya sarat aforisma, militan dan kotemplasi. Sejenak lirik pada sajak “Empat Puluh Tiga Lilin, Introspeksi diri, Menapak Jejak, Saat 43 Usia Nyala”. Karena apalah artinya sebuah puisi jika ‘kesan dan pesan’ yang dituturkannya tak ‘kena’. Setiap antologi tunggal selalu ‘tersirat dan tersurat’. Bukan hanya dalam puisi, tapi cover buku pun hampir tak menonjolkan diri. Jika pun ada biasanya berupa sketsa, logo dan blur. Maksudnya saya percaya, apapun yang dilakukan seorang seniman adalah indah. Ia selalu punya cara melihat sudut ‘indah’ dengan kepekaan jiwanya. Maksudnya citra diri si penyairlah yang melekat di benak pembaca bahwa itu adalah dia. Tapi… foto diri ini pun bisa diartikan Ini dilakukan bukan semata-mata beliau menonjolkan diri, tapi lebih kepada si pembaca lekat dengan dua buah antologi yang terbit dalam kurun waktu setahun. Semangat yang semestinya tumbuh dari setiap seseorang yang sedang berkarya dan terus berjuang di dunia literasi. Selamat berkarya dan memasuki dunia puisi Bu Rina, salam santun.

Jambi, 16/10/15


Komentar

Postingan populer dari blog ini

OM TELOLET OM...!!!

Mentor

Mental Anak Rantau