Sungai Batanghari

DI SEPANJANG SUNGAI NEGERI JAMBI

asap bersungut memerahmarunkan rembulan,
cakrawala menggurun di kota beradat.
Gentala Arasy bersitegap menekuri embun--sekiranya hujan turun.
ampun!
luruh Batanghari menyeka air mata
genangan sampah; serupa sampan pelanpelan merayapi di sepanjang sungai negeri Jambi
alamak!

01/09/15
Gie Dua



Puisi yang sederhana bukan?  Ya begitulah aku sebagai orang Jambi meratapi dan betapa meresahkan semua persoalan ‘klise’ yang cenderung berlarut-larut itu. Setiap hari aku merasakan pemandangan yang tak sedap dan terasa mengenaskan. Menurut pengamatanku, itu bukanlah kesalahan penuh sang pemerintah. Itu adalah hasil perbuatan si masyarakatnya. Tengoklah sejenak ke Angso Duo—sebuah pasar tradisional yang berada di dekat sungai Batanghari. Keadaannya sekarang sebenar dan seharusnya lebih baik dari tiga tahun lalu—misalkan. Tapi pada kenyataannya begitu kumuh dan memprihatinkan. Bukan dari struktur jalan yang sudah banyak dibenahi pada pemerintahan HBA.
Dari lantai yang dulunya kotor, licin, becek dan berbau itu, sekarang lihatlah perubahan yang signifikan. Selain pasar yang ditata sedemikian rupa, para pedagang dan kantor dinas pasar pun berjejer rapi. Terlebih dipasang pembatas jalan yang notabene terbuat dari beton. Itu sudah langkah yang baik dipersiapkan pemerintah guna—setidaknya mengurai kemacetan—terlebih di pagi hari, hari raya dan hari minggu khususnya. Aku jujur cinta Jambi, cinta negeri ini, cinta kebersihan dan indahnya panorama yang menghampar sepanjang Sungai Batanghari. Tapi sayangnya justru masyarakanyalah yang kurang peka terhadap lingkungan itu sendiri. Puluhan, ratusan bahkan ribuan dan mungkin jutaan kali aku melintasi pasar Angso Dua itu. Jalan menuju tiap gang yang memadati ratusan lapak pedagang begitu rapi; setelah di konblok. Tapi yang disesalkan adalah pedagang itu sendiri yang justru buang sampah seenaknya. Alhasil drainase yang tadinya—setelah diperbaiki—bagus pun kini disumbati sampah. Limbah itu berupa plastik, sisa minuman, sisa makanan, sisa sayuran dan sisa dari berbagai warung nasi yang berjejalan di dalamnya. Aih, alih-alih kota BERADAT: Bersih Aman Dan Tertib. Mengatur kebersihan saja begitu memprihatinkan.
Padahal sejak Fasha menjabat walikota maka perubahan di sudut kota ini terasa begitu pesat dan bearti. Jalan-jalan bukan hanya jalanan protokol yang tampak mulus, tapi pun lorong-lorong tiap perkampungan terasa begitu bersih dan rapi. Semuanya diaspal ada juga sebagian yang mengalami pengecoran seperti yang terjadi di pasar baru—sebuah pasar tradisional juga yang terletak sekitar 5km dari Pasar Angso Duo. Pun pasar ini masih seperti layaknya pasar lainnya; pasar tumpah. Selain macet dan kumuh maka yang terasa adalah bau yang menyengat. Aduh… warga pasar—pedagangnya yang bersih dunk…
Dalam Islam rasanya sudah dibekali sejak orok slogan yang berbunyi, “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” Nah lo! Tapi hingga saat ini masyarakat yang Indonesia yang mayoritas muslim rasanya tak mengindahkan ‘wasiat’ itu!??! Miris banget yah… L
Kalau saja kita bisa menerapkannya. Maka pemerintah tak perlu menggalakkan pemisahan sampah organik dan unorganik seperti yang terjadi pada beberapa sudut yang di kota ini. Contohnya depan Ancol sendiri. Ada banyak kesadaran yang harusnya dipelihara kita agar tak selalu alpa dan percuma kita yakini bahwa kita adalah muslim: ini yang perlu dicatat dan digarisbawahi. Entah kenapa aku pribadi mersa geli bin ngeri dengan prilaku masyarakat yang katanya berbudaya itu. Buang sampah sembarangannya itu loh yang tak pantas ditiru apalagi dilestarikan.
Ah… bagaimana  mungkin punya sungai-sungai yang indah dan kota tersusun rapi seperti Belanda, Australia , Jepang, Perancis, Italia. Itu adalah negara yang muslim adalah minoritas. Tapi lihatlah betapa rasanya udaranya begitu bersih dan aroma asri berada di sana-sini. Kesadaran membuang sampah pada tempatnya membuat mereka menjadi kiblat Indonesia sebagai proyek percontohan. Duh… kenapa dari hari ke hari negeri ini seakan tak peka. Padahal kita punya pulau-pulau yang indah dan sederet panorama yang belum tentu negara-negara itu mampu menandingi. Dengan catatan bahwa kita begitu dalamnya mencintai kebersihan itu sendiri.
Jika demikian sebuah menara yang menjadi ikon Jambi akan terlihat makin kokoh jika dialiri sungai yang jernih. Belakang Ramayana itu, tepatnya ketika seseorang turun naik ketek—perahu penumpang—tak perlu miris melihat gunungan sampah. Uft… bagaimana bisa ikan-ikan kecil berenang ke tepiannya dan kita memandang dari sebelah Ancol. Padahal ini adalah aset yang semestinya terpelihara dengan baik.
Ingin rasanya melihat air yang begitu hijau menawan bak Zamrud atau biru menghampar serupa lautan lepas. Lalu sesekali ikan Tapa muncul memamerkan tubuhnya yang gepeng, itu hanya andai-andai dari seorang pemimpi sepertiku. Berharap besar negeri ini tumbuh dari orang-orang yang mencintai lingkungannya. Tapi lagi-lagi itu hanya mimpi. Dari lubuk hatiku yang paling dalam selalu mendoakan tulus: Semoga Jambi menjadi sebuah provinsi yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang tercamtum dalam kota BERADAT. Aamiinnn.


Jambi, 13/11/15 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OM TELOLET OM...!!!

Mentor

Mental Anak Rantau