Resensi Novel M. AAN MANSYUR Pustaka Penulis Adalah kesepiannya Oleh: Gie JUDUL : Lelaki Terakhir Yang Menangis Di Bumi PENULIS : M. Aan Mansyur PENERBIT : GagasMedia KOTA TERBIT : Jakarta Selatan TAHUN TERBIT : 2015 CETAKAN : Pertama DESKIPSI FISIK : 260 Halaman ISBN : 979-780-816-5 Penulis manapun rasanya tak memungkiri ungkapan Tan Malaka dalam Mandilog bahwa “Sudah tentu seorang pengarang atau penulis manapun juga adalah murid dari pemikir lain dari dalam masyarakatnya sendiri atau masyarakat lainnya. Sedikit ia dipengaruhi oleh guru, kawan sepaham, bahkan oleh musuhnya sendiri.” Sadar dan sesadar-sadarnya seringkali ia mengutip nama dan quote dari ‘gurunya’ itu. Dan begitulah yang terjadi pada novel M. Aan Mansyur yang berjudul “Lelaki Terakhir Yang Menangis Di Bumi”. Ia seakan tak habis-habisnya mengutip dan menerapkan dalam setiap literatur tulisannya. Serupa Desaingner handal, ia mempercantik rancangannya dengan aneka rupa, warna dan asesoris yang mengagumkan. Tak terlepas dari dirinya seorang pustakawan dan predator buku sejati maka terbitlah novel ini dan bukannya ‘yang terakhir’. Rasanya pun aneh jika menyaksikan rekam jejak seorang penulis sekaliber Aan Mansyur jika tak memiliki quote. Mungkin ini kebiasaan yang terjadi pada setiap pengarang—selalu mengutip untuk diterapkan—maka ia pun menjadi golongannya (pengarang juga). Novel inipun ceritanya sederhana dengan bumbu-bumbu percintaan dan pergulatannya yang hebat. Dan betapa bukan menjadi rahasia umum jika Indonesia adalah masyarakat yang budaya bacanya ‘payah’. Itu yang sejatinya ingin disampaikan penulis dari Makasar ini. Meski banyak hal yang tersirat di sana-sini yang begitu berceceran. Dengan cerdasnya ia membuat pembaca terkadang bingung dan kecele sambil menarik nafas panjang. Bukan hanya ngos-ngosan tapi pun garuk-garuk kepala yang tak gatal. Aneh bukan? itu kenapa buku ini berada di tangan penggemarnya. Siapapun mungkin akan berkata pada dirinya sendiri tentang apa yang dilakukannya atau apa yang sedang ia kerjakan ini berguna atau tidak? Atau kenapa ia berada pada situasi yang tak menjanjikan dalam hidupnya. Bahkan mungkin keadaan yang seperti titik nadir terjadi sebuah loncatan yang disebut ‘Keajaiban”. ketika membuka halaman pertama mungkin pembaca akan menilai ini adalah novel yang berat sekaligus menjemukan. terlebih bagi seseorang yang tak terbiasa pada lompatan alur; maju mundur. pembaca akan dibawa pada percakapan aku dan si jiwa. tanpa perlu menampilkan sosok Wisran dan mencari kea rah mana ia membimbing pembacanya memasuki labirin pikirannya. Akan terlihat ia adalah gen yang berbeda dari kebnayakan, dan itulah yang terasa pada karya Aan Mansyur. Pertama membuka halaman, pembaca yang sedang bergiat mencari tokoh panutan atau buah pikiran yang didapati penulis akan kentra di sini. Berupa catatan-catatan kaki yang berjumlah sangat banyak, ini cukup merepotkan. Ini kenapa ia mencoba memasukkan dirinya “cerdas” dan pegungkapan yang banyak. seperti ungkapan Tan Malaka, ia menjadi banyak tahu. Tapi sayangnya pembaca yang tak jail atau tak terlalu suka dengan catatan kaki akan terasa melelahkan. Biasanya pembaca akan secepat mungkin mengaahabiskan bab per bab dari sebuah novel, dengan tujuan ia tahu jalan cerita dan ending dari yang dibacanya. Seseorang bisa saja terjebak pada situasi yang ‘melelahkan’ tadi. Namun sayangnya pembaca akan disuguhi itu sampai pada halaman yang ke seratus sekian. Sedikit mengelus dada bahwa ia bisa melewati ‘njlimetnya’ novel romantik idealis ini. Proses yang tak sebentar menggarap sebuah cerita akan membuatnya terasa hidup dan membawanya menjadi mimpi terbaik. Pertama ia membawa kita pada persoalan masa kecil dan kampung halaman. Terus dibawa pada sebuah makna persahabatan, kasih sayang, toleransi bahkan mitos yang hidup di belahan bumi nusantara. Bahwa jimat adalah seringkali menjadi benteng bagi seseorang. Mungkin ini pengaruh dari kepercayaan nenek moyang tentang animisme dan dinamisme. Sampai di jaman modern ini pun anak cucu tak lepas darinya. Menarik untuk diikuti pengembaraan dalam setiap kata yang dituturkannya. Berhasil pula ia bercakap-cakap dengan pembaca sambil mengenalkan dirinya. cukup halus ia tuliskan nama Aan mansyur dengan segala kelihaiannya itu. Sekedar harapan bahwa ia cukup piawai menorehkan namanya dalam sederet nama penyair Indonesia sekarang. Bahkan ia tak bisa menyembunyikannya lewat puisi yang diulisnya sendiri, sambil mencangkokkan segepok penyair dunia yang dianggapnya sebagai ‘Ibu atau kekasih’ dalam khayalannya. Nama seperti Silvia Plath, Anne Sexton, Naomi Shihab Nye, Mary Oliver adalah beberapa dari banyaknya penyair yang mempengaruhinya. Dan itulah yang terjadi pada buku ini. Ia mengajak pembaca pada ‘guru-guru’nya dan membredeli kelakuan pemuda masa kini—yang tak bisa dipungkiri dari rasa haus kepada cinta, cita-cita dan kehanacuranya sendiri. Bisa dikatakan satire bagi mahasiswa yang kritis namun tak berimbang dengan apa yang diperjuangkan. Apa yang diharapkannya pada Nanti pada akhirnya berujung pada ‘kesepian-kesepiannya’. Ia bertutur melalui bibir Rahman, “Lihatlah bintang, bahkan ketika jatuh ia terlihat indah. Kadang-kadang dalam hidup ini, kita hrus seperti bintang, jatuh demi membuat seseorag tersenyum dan berdoa.” Seiring dengan berlalunya waktu maka semua cinta akan musnah oleh waktu. Itu yang terjadi. betapa Jiwa menuliskan begitu dalam dan menyakitkannya. Segala kecerobohannya tentang harapan dan perempuannya itu. Ketika si ibu bertanya tentang kisah cintanya maka di sanalah ia mencoba menjadi ‘lelaki terakhir yang menangis di bumi’ setidaknya itu yang ingin diluapkan kepada cinta. Ia terus memikirkan Nanti bahkan ketika sudah menjadi janda sekalipun—harapannya timbul tenggelam. Mirisnya ia terjebak pada percintaan demi percintaan yang pernah ia lakoni. Seperti priode hidup manusia; lahir, balita, remaja, dewasa, tua dan mati. Maka seperti itu pula cinta itu, bermula dari pandangan mata, perkenalan, percintaan yang dibumbui adegan-adegan dewasa—meski seseorang belumlah dewasa, pertengkaran, perpisahan dan permusuhan. Oh cinta… dimanakah? Sampai pada akhir kisah di buku ini pembaca akan masih terjebak pada kebingungan-kebingungan. Itu yang terjadi. Setiap orang berhak menfsirkan cinta ittu sendiri dalam khayalan dan realita. Semuanya kembali ke diri si pembaca. Jambi, 08/11/15 Diposkan 8th November oleh Sugianto Jhonson Lihat komentar Memuat
Pustaka Penulis Adalah kesepiannya
Oleh: Gie
JUDUL : Lelaki
Terakhir Yang Menangis Di Bumi
PENULIS : M. Aan Mansyur
PENERBIT : GagasMedia
KOTA TERBIT : Jakarta
Selatan
TAHUN TERBIT : 2015
CETAKAN :
Pertama
DESKIPSI FISIK : 260 Halaman
ISBN : 979-780-816-5
Penulis
manapun rasanya tak memungkiri ungkapan Tan Malaka dalam Mandilog bahwa “Sudah tentu seorang pengarang atau penulis
manapun juga adalah murid dari pemikir lain dari dalam masyarakatnya sendiri
atau masyarakat lainnya. Sedikit ia dipengaruhi oleh guru, kawan sepaham,
bahkan oleh musuhnya sendiri.” Sadar dan sesadar-sadarnya seringkali ia
mengutip nama dan quote dari ‘gurunya’
itu. Dan begitulah yang terjadi pada novel M. Aan Mansyur yang berjudul “Lelaki
Terakhir Yang Menangis Di Bumi”. Ia seakan tak habis-habisnya mengutip dan
menerapkan dalam setiap literatur tulisannya. Serupa Desaingner handal, ia
mempercantik rancangannya dengan aneka rupa, warna dan asesoris yang mengagumkan.
Tak terlepas dari dirinya seorang pustakawan dan predator buku sejati maka terbitlah
novel ini dan bukannya ‘yang terakhir’.
Rasanya pun
aneh jika menyaksikan rekam jejak seorang penulis sekaliber Aan Mansyur jika
tak memiliki quote. Mungkin ini
kebiasaan yang terjadi pada setiap pengarang—selalu mengutip untuk diterapkan—maka
ia pun menjadi golongannya (pengarang juga). Novel inipun ceritanya sederhana
dengan bumbu-bumbu percintaan dan pergulatannya yang hebat. Dan betapa bukan
menjadi rahasia umum jika Indonesia adalah masyarakat yang budaya bacanya ‘payah’.
Itu yang sejatinya ingin disampaikan penulis dari Makasar ini. Meski banyak hal
yang tersirat di sana-sini yang begitu berceceran. Dengan cerdasnya ia membuat
pembaca terkadang bingung dan kecele sambil menarik nafas panjang. Bukan hanya
ngos-ngosan tapi pun garuk-garuk kepala yang tak gatal. Aneh bukan? itu kenapa
buku ini berada di tangan penggemarnya. Siapapun mungkin akan berkata pada
dirinya sendiri tentang apa yang dilakukannya atau apa yang sedang ia kerjakan
ini berguna atau tidak? Atau kenapa ia berada pada situasi yang tak menjanjikan
dalam hidupnya. Bahkan mungkin keadaan yang seperti titik nadir terjadi sebuah
loncatan yang disebut ‘Keajaiban”.
ketika membuka
halaman pertama mungkin pembaca akan menilai ini adalah novel yang berat
sekaligus menjemukan. terlebih bagi seseorang yang tak terbiasa pada lompatan
alur; maju mundur. pembaca akan dibawa pada percakapan aku dan si jiwa. tanpa
perlu menampilkan sosok Wisran dan mencari kea rah mana ia membimbing
pembacanya memasuki labirin pikirannya. Akan terlihat ia adalah gen yang
berbeda dari kebnayakan, dan itulah yang terasa pada karya Aan Mansyur. Pertama
membuka halaman, pembaca yang sedang bergiat mencari tokoh panutan atau buah
pikiran yang didapati penulis akan kentra di sini. Berupa catatan-catatan kaki
yang berjumlah sangat banyak, ini cukup merepotkan. Ini kenapa ia mencoba
memasukkan dirinya “cerdas” dan pegungkapan yang banyak. seperti ungkapan Tan
Malaka, ia menjadi banyak tahu. Tapi sayangnya pembaca yang tak jail atau tak
terlalu suka dengan catatan kaki akan terasa melelahkan. Biasanya pembaca akan
secepat mungkin mengaahabiskan bab per bab dari sebuah novel, dengan tujuan ia
tahu jalan cerita dan ending dari yang dibacanya. Seseorang bisa saja terjebak
pada situasi yang ‘melelahkan’ tadi.
Namun sayangnya
pembaca akan disuguhi itu sampai pada halaman yang ke seratus sekian. Sedikit
mengelus dada bahwa ia bisa melewati ‘njlimetnya’ novel romantik idealis ini.
Proses yang tak sebentar menggarap sebuah cerita akan membuatnya terasa hidup
dan membawanya menjadi mimpi terbaik. Pertama ia membawa kita pada persoalan masa
kecil dan kampung halaman. Terus dibawa pada sebuah makna persahabatan, kasih
sayang, toleransi bahkan mitos yang hidup di belahan bumi nusantara. Bahwa
jimat adalah seringkali menjadi benteng bagi seseorang. Mungkin ini pengaruh
dari kepercayaan nenek moyang tentang animisme dan dinamisme. Sampai di jaman modern
ini pun anak cucu tak lepas darinya. Menarik untuk diikuti pengembaraan dalam
setiap kata yang dituturkannya. Berhasil pula ia bercakap-cakap dengan pembaca
sambil mengenalkan dirinya. cukup halus ia tuliskan nama Aan mansyur dengan
segala kelihaiannya itu.
Sekedar
harapan bahwa ia cukup piawai menorehkan namanya dalam sederet nama penyair
Indonesia sekarang. Bahkan ia tak bisa menyembunyikannya lewat puisi yang
diulisnya sendiri, sambil mencangkokkan segepok penyair dunia yang dianggapnya
sebagai ‘Ibu atau kekasih’ dalam khayalannya. Nama seperti Silvia Plath, Anne
Sexton, Naomi Shihab Nye, Mary Oliver adalah beberapa dari banyaknya penyair
yang mempengaruhinya. Dan itulah yang terjadi pada buku ini. Ia mengajak
pembaca pada ‘guru-guru’nya dan membredeli kelakuan pemuda masa kini—yang tak
bisa dipungkiri dari rasa haus kepada cinta, cita-cita dan kehanacuranya
sendiri. Bisa dikatakan satire bagi mahasiswa yang kritis namun tak berimbang
dengan apa yang diperjuangkan. Apa yang diharapkannya pada Nanti pada akhirnya
berujung pada ‘kesepian-kesepiannya’. Ia bertutur melalui bibir Rahman, “Lihatlah
bintang, bahkan ketika jatuh ia terlihat indah. Kadang-kadang dalam hidup ini,
kita hrus seperti bintang, jatuh demi membuat seseorag tersenyum dan berdoa.”
Seiring dengan
berlalunya waktu maka semua cinta akan musnah oleh waktu. Itu yang terjadi.
betapa Jiwa menuliskan begitu dalam dan menyakitkannya. Segala kecerobohannya
tentang harapan dan perempuannya itu. Ketika si ibu bertanya tentang kisah cintanya
maka di sanalah ia mencoba menjadi ‘lelaki terakhir yang menangis di bumi’ setidaknya itu
yang ingin diluapkan kepada cinta. Ia terus memikirkan Nanti bahkan ketika
sudah menjadi janda sekalipun—harapannya timbul tenggelam. Mirisnya ia terjebak
pada percintaan demi percintaan yang pernah ia lakoni. Seperti priode hidup
manusia; lahir, balita, remaja, dewasa, tua dan mati. Maka seperti itu pula
cinta itu, bermula dari pandangan mata, perkenalan, percintaan yang dibumbui
adegan-adegan dewasa—meski seseorang belumlah dewasa, pertengkaran, perpisahan
dan permusuhan.
Oh cinta…
dimanakah? Sampai pada akhir kisah di buku ini pembaca akan masih terjebak pada
kebingungan-kebingungan. Itu yang terjadi. Setiap orang berhak menfsirkan cinta
ittu sendiri dalam khayalan dan realita. Semuanya kembali ke diri si pembaca.
Jambi, 08/11/15
Komentar
Posting Komentar