Puisi
Keriap-Kerlap
Bintang-Gemintang
(I)
aku ingin melihatmu, yang cahaya.
berpendaran kilau-kilauan yang membuat
hatiku berdecak. seakan-akan ingin kukatakan, “hei, dari mana kau dapatkan
semuanya?” atau,”hah, aku aku tak yakin jika itu semata-mata alamiah.” engkau
yang diam mendengarnya: tersenyum masygul. aku penuh harap-cemas, menduganya.
(II)
lagi,lagi ya lagi dan lagi. arus
mebawa gelombang yang memercikkan cahaya. meski sebenarnya aku terus berlayar
dan mengarungi rinduku,”sampai kapan engkau bersembunyi dariku?” aku tak harus bertapa menggeriapmu, bintangku. kebekuan bernyali meruntuhkan
beranda, gelap. kaucari pelita yang
bersitahan dari gerus tsunami dan gemuruh badai? kausampaikan pada semesta
tentang lautnya yang beku.
(III)
seberkas cahayamu matamu, aneh. tergolek
menjumputi sisa-sisa tenaga di sebuah telaga. meratapi kengerian yang mulai merongrong
ditelan prahara—silih berganti pada sepasang musim. kemarilah engkau, duduklah
bersamaku sambil mengurai pertikaian yang terjadi dari segumpalan meteorid di
sepucuk senja. ah, bukan! ya, bukan yang berlarian di antara lembayung, tapi
yang bersiteru kala engkau timbul-tenggelam.
(IV)
hujan deras meyusuri lembah dan
sungai—pertemuan yang singkat bintangku.
sungguh, ini sungguhan. dan aku mohon jangan kaupertanyakan dan mendebatnya. aku berada pada kitaran yang sama. seperti pola
biduk yang melingkari sepanjang tahun, agar aku tak mudah rontok atau gigir
diberangus musim hujan. direkatkan filosof tua yang melambungkan namamu di
jagad raya. sebagaimana kau yang tersenyum ketika kelopak bunga merekah.
berjejalan pada riak-riak angkasa yang mulai rapuh.
(V)
seduhi saja dengan hujatan
gerimis. atau iris seutas benang yang kusulam di sepanjang malam. Biar
seluruhnya punah dan buncah, dan tak kukenali kerlingan mata yang merebahkan
bumi. sudahlah yang kita bicarakan itu. Adam-Hawa ‘lah melahirkan Qabil dan
Habil: petir menyambarnya. lihat, lihatlahlah burung gagak itu bertarung dan
mengubur potongan bangkai yang terburai.
(VI)
pemangku tahun bersikukuh
mempertahankanmu dari serangan benda-benda langit. membuyarkan halimun dari sudut matamu yang
lebam akibat hantaman badai. pada hari-hari yang membosankan aku tergeletak mengitari
tubuhmu yang lusuh. meminta agar kekuatanmu pulih dan benderang seperti sedia
kala. pada-Nya aku memohon penangguhanmu hingga semuanya usai—pertempuran yang
melarung cahayamu. wujudmu yang berbinar itu, bersitahan. aku menatap lekat
tubuhku yang mulai dirajam mangkus.
Jambi, 15/01/15
Komentar
Posting Komentar