Kebahagiaan

Kebahagiaan Letaknya Di mana?

Oleh: Gie

“Terkadang untuk menemukan kebahagiaan, maka mustilah membunuh kebahagiaan itu sendiri,”
Begitu suatu kali status saya di FB. Ada yang setuju, ada pula yang tidak. Ya, terserah. Bagi negara yang mulai tumbuh dan berkembang demokrasinya, semuanya hal yang lumrah. Bagi yang menerima karena paham itu hal yang sangat biasa, tapi bagi yang tak bisa menerimanya, “Bagaimana mungkin kebahagiaan itu bisa dibunuh? Itu sesuatu yang mustahil. Sedangkan kebahagiaan itu bersumber dari Tuhan. Itupun munculnya dari hati, bukan dari hasil apa-apa yang diusahakan manusia, kita hanya menerima.” Tulis mereka yang tersulut emosinya. Seperti yang sudah-sudah, saya menulis status di FB bukanlah sumpah sampah serapah. Bagi saya media sosial apa pun bentuknya; twiter, instagram, fb, BBM dll, adalah sebuah identitas.
Kalau ada yang mengeluh, memaki bahkan menghina si anu dan si itu, itu terserah. Tergantung siapa yang membuat. Bearti demikianlah bodohnya ia menggunakan aplikasi yang dimudahkan itu. Bukankah teknologi diciptakan untuk memudahkan kita dalam berkomunikasi? Bukankah teknologi dibuat untuk bersilaturahmi; yang jauh terasa dekat, yang dekat makin akrab. Tapi sayangnya teknologi dimanfaatkan orang-orang yang salah kaprah menjadi semacam “nilai”. Begitulah kenyataan yang ada, alhasil di beranda kita bisa melihat, siapa dan siapa. Lalu kita pun seakan hapal dengan watak si orang tersebut.
Ada yang gak percaya? Mulai sekarang perhatikanlah sambil sesekali membuka mata hati: benarkah demikian? Kembali ke topik. Saya akan menjelaskan apa maksud di balik status yang sederhana itu. Kebahagiaan… yups, mungkin cumalah kata sifat yang berawalan ke dan berakhiran an. Jika ada yang mengatakan kebahagiaan itu tak bisa dimanupulasi mungkin benar mungkin juga tidak. Toh kebahagiaan itu bersumber dari hati kita yang paling dalam. Siapapun dia, tentu setuju jika kebahagiaan itu adalah anugerah terindah yang diciptakan Tuhan buat kita. Tapi, sayang tak semua orang bisa menikmati kebahagiaannya. Bahkan membuang percuma.
Lantas, apa sebenarnya yang menjadi kebahagiaan itu? Tidak mudah memang menjelaskan kebahagiaan itu. Toh, tiap orang punya tingkat yang berbeda, tergantung bagaimana orang tersebut bisa menikmatinya. Saking pentingnya kebahagiaan ini, nabi pernah berujar dalam hadis-nya, bahwa,”kebahagiaan itu seperti kita melihat pelangi.” Maksudnya apa? Sekarang coba Anda liat seseorang yang sudah dikatakan sukses. Takarannya dia punya mobil dan pekerjaan yang bagus, lalu tanya. Apakah dia bahagia? Sebagai orang yang dikatakan mujur, mungkin ia akan bergumam,” Tentu kawan, lihatlah semua ini aku peroleh dengan kerja keras.” Tapi sebagai manusia biasa tentu ia akan berkata begini,” lebih enak dirimu ya, tanpa dikejar target.”
Ada sebuah cerita yang sempat saya rekam, tapi sayang saya lupa ini dari blog yang memuat kisah inspirasi siapa. Kalaupun ada yang bisa mengingatkan tolong kabari saya.
 Cerita itu sederhana. “Suatu kali ada seorang berdasi dengan mobil mewahnya melintasi sebuah perempatan jalan. Ia tiba-tiba berhenti sejenak ketika melihat seorang tukang becak yang santai sambil tiduran menunggu sang penumpag. Ia bergumam dalam hati,”ah, enak betul si tukang becak. Siang-siang begini bisa santai sambil tiduran tanpa memikirkan target apa pun. Sementara aku hampir tak bisa memejamkan mata barang sejenak saban malam. Rasanya kepalaku mau pecah dan mataku menumpahkan bah air mata. Pikiranku selalu bercabang-cabang, antara pekerjaan, kantor, rumah, keluarga, teman dan tuntutanku. Itu bukan hanya sebentar, tapi berlarut-larut. Dunia membuat mendatangkan penyakit yang terus menerorku. Rasanya aku ingin kembali saja pada saat aku tak memiliki semua ini. aku jadi iri pada si tukang becak, benar-benar ingin seperti dia: bebas, lepas, plong.” Setelah puas ia berkata-kata dan mengeluarkan uneg-uneg di dada, ia pun turun dari mobil lalu menghampiri si tukang becak. “Ada apa ya Pak?” kata si tukang becak polos.”Tidak apa-apa, hanya saya iri pada Bapak yang hidup terasa tanpa beban. Mengalir saja, tidak seperti saya yang terus-menerus seperti dikejar-kejar,”lelaki berdasi itupun menimpali. Si tukang becak tersenyum, tak lama keduanya saling bertukar cerita.
Cerita di atas mungkin banyak perubahan dari saya, tanpa maksud mengurangi atau melebih-lebihkannya. Tapi bagi saya cerita di atas sangat menarik dan penuh renungan. Artinya kebahagiaan itu tak diukur oleh harta duniawi. Karena kebahagiaan itu bersumber dari hati. Jika kita mensyukuri tiap nikmat yang diperoleh maka sebenarnya itulah yang menjadi kebahagiaan yang sesungguhnya.
Lha? Apa hubungannya dengan kebahagiaan itu dibunuh? Bagi yang tak mengenal si lelaki berdasi, mungkin akan mengatakan bahwa dia adalah orang yang beruntung. Tapi tahukah engkau bahwa di masa lalu si lelaki berdasi harus berjuang sekuat tenaga untuk menggapai semua itu. Di saat teman-teman sebayanya menhabiskan waktu remajanya dengan bermain, ia musti belajar. Ketika orang-orang sibuk dengan menghamburkan uang, ia justru harus menyisihkan uang bahkan menabung demi studinya, bahkan bekerja paruh waktu. Orang-orang tak pernah tahu, tapi ia lah yang sangat paham bahwa ada kebahagiaan yang musti dibunuh demi kebahagiaan yang lebih baik di hari depan.
Sungguh begitu menyentuhnya di hati saya, bahkan saya pun harus merenungkan makna di balik cerita yang sederhana ini. semoga bermanfaat, salam!





Komentar

Postingan populer dari blog ini

OM TELOLET OM...!!!

Mentor

Mental Anak Rantau