Menulislah
Awal-muasal ku menulis
Aku
bergelut dalam tulis-menulis sejak SMU. Yang ditulis saat itu adalah puisi dan
sampai sekarang pun, puisi masih jadi pengobat di kala jenuh dan batin
menghimpit. Jika ditanya kenapa aku menulis? Jawabannya adalah bisa berbagi dan
menginspirasi melalui karya yang aku buat. Meskipun pada dasarnya aku tidak
tahu tujuan menulis itu apa dan ke mana? Tapi seiring waktu berjalan,
pengalaman dan pergaulan yang kian bertambah maka tujuan pasti tetap ada.
Lantas bagaimana aku bisa tahu bahwa ini adalah karya tulis? Ah, sederhana.
Karena aku cukup menuliskan keresahan-demi keresahan yang melanda di jiwa.
Sebelum
menjelajah lebih jauh, maka bolehlah aku memperkenalkan diri. Aku terlahir di
Jambi pada 20 Oktober 1984 dengan nama lengkap Sugianto. Dalam keseharian
dipanggil “Gi” maka nama pena yang sering bertebaran di beberapa Antologi
adalah “Gie”. Nama ini aku bubuhkan dalam jejaring sosial, terutama FB. Dari
media inilah cikal bakal kelahiran tulisan-tulisanku, tapi nanti akan
kuceritakan. Perihal nama pena selalu berganti-ganti sesuai mood. Kadang aku suka tapi suatu kali aku tersiksa karenanya. Lha,
kenapa? Kalian mungkin sudah mengenal nama besar itu “Soe Hok Gie” yang kemudian
dikenal dengan “Gie”. Nah, di sinilah aku memulai dengan nama pena ini.
Seiring
waktu berlalu, nama ini aku ubah menjadi “Gig” dan sesuai dengan nama asliku
dan gak ada penjiplakan nama besar di sini. Ya sekilas. Tapi rupanya adapula
yang teringat pada “Ryan Gigs”, yups itu adalah pemain bola asal Inggris yang
popular tahun 2000-an. Tapi toh itu tak terlalu menyiksa ketika aku memakai
nama “Gie”. Memilih nama pena memang gampang-gampang susah. Ada yang sesuai
dengan nama asli, ada pula yang berdasar pada daerah asal, ada juga yang
terinspirasi pada tokoh besar. Ya, itu suka-suka selama membawa kebaikan dan
manfaat yang banyak. Tentang nama ini aku rasanya sudah berganti-ganti sampai
aku menemukan yang pas dan enak diucapkan bukan hanya di dunia nyata, tapi
dalam dunia maya.
Dulu,
ketika SMU yang kuingat adalah “Al-Muhtada” yang artinya orang-orang yang
diberi petunjuk. Kata-kata ini aku temui setelah membaca “Sang Nabi-nya Kahlil
Gibran”, aku rekakan menjadi “Sugianto Al-Muhtada”. Ini aku dapat ketika pertama
kali “gila” baca merasukiku. Buku yang pertama kali kubaca adalah Komik
Shinchan, pada tahun 2000-an, komik ini meledak dipasaran, dan aku pun menjadi
korban dari prilaku si tokoh yang usil dan aneh alias tak biasa. Lantas, apa
yang istimewa? Nah, dari sini aku mulai mengetahui bahwa membaca itu asik dan
menyenangkan. Karena semakin aku membaca, kian kecil diri ini dan sangat haus
ilmu. Selalu dan selalu ada pengetahuan dan pergulatan batin ketika membaca
sebuah buku yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Maka,
aku pun berburu apa saja yang bisa dibaca dan dijadikan sebagai bahan menu
pokok. Mulai dai koran, majalah, tabloid dan buku. Aku lebih sering menyisihkan
uang jajanku guna membeli buku-buku yang selalu menjadi semacam teman yang tak
pernah bosan diajak cerita apapun. Maka setelah beraneka komik kulahap, rasanya
ada gejolak batin yang merasa tak puas. Beruntungnya aku waktu itu punya teman
yang sama hobinya. Dia menyarankan aku membeli buku Kahlil Gibran. Dan ketika
“Sayap-Sayap Patah” itu menjadi novel favorit sepanjang masa, maka aku pun
tergerak sendiri menulis puisi.
Rasanya
begitu deras mengalir kata demi kata dalam Diary-ku. Sampai-sampai ketika
kutunjukkan pada teman sekelas, mereka tersentuh dan tanggapannya pun luar
biasa. “Kirim ke Koran saja,” kata temanku waktu itu. Maka dengan pede aku pun
bersama dua orang teman meluncur ke salah satu harian lokal yaitu Jambi
Independent. Seminggu berlalu tiba-tiba guruku berdecak kagum ketika namaku ada
di koran, lalu di bawahnya tertulis nama sekolah: SMUS AL-Progo 1. Wah …
senangnya tiada terbilang. Sekolahku ini bisa dikatakan uji coba, banyak yang
mencibir keberadaannya. Statusnya aja masih “Terdaftar”. Tapi dengan tembusnya
puisiku di berbagai koran lokal, otomatis ada peningkatan dari nilai bahasa
Indonesia. Sejak itulah aku mengenal bahwa sastra itu memang indah.
Aku
juga mulai rajin menulis apa saja termasuk artikel, karikatur, curhatan,
cerpen, opini di berbagai media masa di nasional. Yang paling aku harapkan
adalah majalah sastra high class
Horison. Berkali-kali aku mengirimkan namun sayang tak satu pun yang muncul,
meskipun berharap naskahku kembali. Tapi sayang tak pernah jua berada dalam
genggamanku. Tak apalah toh itu tak
menyurutkan semangatku. Puisiku mungkin masih bergenre remaja maka munculah di
Tabloid Fantasi. Meski bingkisannya berupa kaos tapi ini yang membuat
semangatku kian membara.
Dan jadilah aku
yang lebih doyan memilih belanja buku ketimbang baju, hehe.
Tapi
ketika mulai memasuki dunia kerja, ternyata kesibukan demi kesibukan sering
menelantarkan tulisan demi tulisanku. Ada yang jadi separuh, ada yang jadi tapi
belum mateng, ada pula yang terbuang entah ke mana. Sebenarnya semangat menulis
tetap ada dan makin meletup-letup. Hanya saja, menyesalnya ketika waktu SMU tak
mengikuti program khursus komputer. Maka gapteklah di era yang serba canggih
dan aku benar-benar tertinggal. Sampai umurku 25 tahun, mimpi menjadi penulis
tetap hidup dalam jiwa.
Aku terus membayangkan suatu saat bercerita
banyak hal kepada orang-orang. Mengadakan seminar kepenulisan, agenda-agenda
yang padat, keliling Indonesia bahkan keliling dunia hanya dengan menulis. Itu
menakjubkan dan luar biasa. Di kepala ini terus bersarang mimpi-mimpi itu dan
sangat nyata. Sampai suatu ketika aku berucap: Aku Penulis. Maka meski rasanya
telat, pada tahun 2008 aku memutuskan kursus komputer. Beruntungnya ada kelas
malam dan akulah siswa ter tua dan agak lama nangkepnya. Maklumlah teman-teman
sekelas ABG semua. Tapi mungkin karena wajahku baby face, maka aku merasa tak terlalu tua berada di lingkungan
mereka.
Mimpi-mipi
itu pun kian hidup: Aku penulis. Baru pada awal tahun 2014 aku memiliki laptop
yang sudah sangat diimpikan. Maka dengan terbata-bata aku mengetik huruf per
huruf. Pelajaran yang enam tahun yang lalu itu pun pudar. Saat ini aku bekerja
sebagai sopir mobil boks. Logikanya mana ada sopir yang bekerja di depan komputer,
kecuali sopir mobil PS—plystation, hehe. Tapi, aku mengubah mindseatnya. Dan jadilah
Gig sopir yang aneh, karena tiap ke kantor selalu membawa laptop.
Media
sosial seperti FB jika penggunaanya secara benar maka akan menghasilkan sesuatu
yang bermanfaat pula. Aku memang orang yang aktif di media ini. Terlebih ketika
mengenal Grup kepenulisan. Rasanya waktu terasa kurang jika hanya 24 jam.
Banyak yang aku dapat, selain berinteraksi di sini ilmu yang tiada habis dari
penulis yang sudah malang-melintang pun berbagai hal.
Dan
… lagi, lagi puisi yang tak sengaja kuposting di Grup Komunitas Bisa Menulis
yang didirikan Pak Isa Alamsyah. Beliau ini suaminya Asma Nadia sekaligus
penulis professional yang uda best seller. Beruntungnya aku diasuh hingga kini
berupa motivasi tiada henti. “Gie, teruslah berkarya.” Beliau selalu demikian
memberiku suntikan semangat. Dari beliau inilah aku menyerap banyak ilmu mulai
dari tata bahasa, ide, penerbitan hingga prosa yang menawan. Dari maya ke
nyata. Istilah ini dulu rasanya mustahil, tapi sekarang? Kenapa tidak. Aku
ingin mengenal dan belajar banyak dari penulis senior yang lebih dulu menjajaki
dunia literasi. Maka aku pun berkenalan dengan Pak Dimas Arikarya Mihardja yang
lebih dikenal dengan DAM. Beliau ini penyair kenamaan Jambi yang tulisan demi
tulisannya sudah dikenal sampai ke negeri tetangga. “Menulislah.” Semangatnya
yang selalu berkobar padaku.
Aku
selalu percaya bahwa Tuhan menciptakan sesuatu di dunia ini memang tak ada yang
sia-sia. Selama manusianya berusaha semaksimal mungkin, maka ia pun memberikan
pada kemampuan demi kemampuan atas usaha ketekunan itu. Dari yang tampaknya sepele
berupa beberapa bait kata yang disebut puisi, aku mempunyai beberapa Antologi
bersama. Sekarang aku disibukkan dengan menulis puisi dan cerpen di koran. Dan
sedang menggarap novel kolaborasi yang
diadakan sebuah publisher.
Salam Hangat,
Jambi, 06/01/14
Komentar
Posting Komentar