Pesan Buat Adik

Pesan Untuk Adik
Dik, sesungguhnya aku heran padamu. Ketika banyak perempuan seumurmu sibuk mencari kekasih yang rupawan dan keren. Kau justru melupakan sejenak, lalu datang padaku. "Buku apa yang bagus buatku, Kak?" Tanyamu membuatku sedikit mengerutkan kening. Sungguhkah, batinku.
Dik, aku tak pernah memaksa kau harus membeli setumpuk buku. Aku tahu, berat bagimu yang terbiasa konsumtif. Terlebih buku adalah kebutuhan tersier--menurutku. Tapi apadaya kau seperti tergerak sendiri melahapnya dengan rakus. "Sebulan kau merampungkan satu buku itu sudah baik. Ada kemajuan dan nilai plus di sana. Tak mudah membaca itu, aku tahu. Apalagi kau mendalami agama kita: Islam." Ungkapku. "Tak mengapa, Kakak. Ini juga sebuah perjuangan kan?" Ujarmu memantapkan kau benar-benar menyukai buku terbaik.
Dik, ingatlah baik-baik pesanku ini. Bahwa buku mungkin cuma sekumpulan kertas dan kata. Tak penting bagi orang-orang yang tak mencintai ilmu. Namun siapa sangka jika disematkan di lubuk hatimu, ia akan menjadi kado terbaik. Sifatnya tentu bukan temporal semata. Kelak ia akan menentukan dirimu siapa dan bagaimana kau membimbing diri juga keturunanmu kelak. "Iya, Kakak, ini juga aku mulai berbenah diri," ungkapmu sembari mengedarkan pandangan matamu. Ya ... kau semestinya demikian. Menutup rapat kemilau rambutmu di antara kulit sawo matang itu. Meminimalisir lekuk tubuhmu dengan hijab syar'i itu.
Dik, percayalah kecantikan fisik ini cuma sementara. Aku menemui mereka setiap hari. Yang elok layaknya artis ibukota atau yang manis dan menggoda seperti biduan. Saking banyaknya, aku bingung sendiri mana di antara mereka yang memiliki hati yang lembut. Pun rela memperjuangkan agamanya sampai pada cinta nan hakiki.
Januari, 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OM TELOLET OM...!!!

Mentor

Mental Anak Rantau