Buku Muhidin M. Dahlan
Kajian Kritis Muhidin M. Dahlan “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur”
Aku sebenarnya sudah lama memiliki buku Muhidin M.
Dahalan ini. Kira-kira setahun yang lalu. Kalau ditanya niat apa nddak punya
dan baca buku itu? Jawabannya ya nddak. Karena sebetulnya itu pesanan pelanggan
(pada tahu kan ya kalau aku jualan buku di FB dan IG ... hihi). Tapi setelah
hari yang ditentukan gak juga diambil. Alasannya klasik, “Gak punya duit, Mas!”
sama orang kayak gini rasanya pengen ngegetok kepalanya. Ngejitak sampe benjol
dan nyubit sampe bentol-bentol. Tapi apa mau dikata, lagi-lagi jadi pelapak
online, terlebih komoditasnya buku. Jadi kudu sabar, hiks hiks ...
.... Padahal jual buku gak kayak jualan kacang goreng
yang cepet lakuknya dan modal cepet juga berputar. Jualan buku di negeri ini
mustilah orang-orang yang berhati lapang dan tabah. Jika tidak, mana ada yang
bertahan dengan tumpukan buku yang menggunung tapi nyusutnya lama. Kadang
berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan belum tentu laku keras.
Sekedar info ya guys. Di kota Jambi dulu, tepatnya tahun
1990 an (aku masih SD lah. Ih, keliatan kan betapa tuanya aku) toko buku yang
paling terkenal sebelum adanya Gramedia adalah toko-toko buku kecil. Nah ... yang
paling besar seingatku ya Toko Buku Gloria dan Elison. Ada beberapa yang menghambur
di sepanjang jalanan dekat Toko Buku Tropi. Tapi itu gak seterkenal dua toko
yang aku sebutkan di atas. Dulu seneng banget bisa ke sana. Selain lengkap, bisa
cuci mata juga loh. Sebab, di toko Buku Gloria fungsinya bukan hanya sekedar
menjajaja buku, tapi juga sebagai minimarket. Ya meski di tahun 1990 an
minimarket belum begitu pepoler apalagi menjamur di setiap kecamatan.
Sayangnya, sekarang kedua toko itu sudah tutup alias
bangkrut. Bangunannya sih masih berdiri kokoh. Namun sayangnya diisi oleh
penjual martabak dan sebelahnya Toko Roti Saimen. Padahal dulu saking ketatnya
jualan buku-buku bermutu kedua toko ini saling berhadapan layaknya konter hape
di era milenial. Yah ... apa boleh buat guys. Zaman sudah berganti, tentu gaya
hidup, tren dan pemikiran anak muda sekarang tentu berbeda dengan era sepuluh
tahun lampau. Di era ini semua era digital, bahkan aku pernah diundang Kompas
(Kebetulan kayaknya, soale aku cuma kirim naskah ke sana sekali. Tapi ama redakturnya
beneran dicatet alamat bahkan nopeku. Keren atau beruntung yah? Padahal gak
pernah dimuat loh. Haha).
Back to topic ...
Di era Gramedia, nyaman sih. Berjam-jam di sana kamu akan
dibikin betah dan gak kerasa aja kalo kamu itu berada di toko buku. Eh, bukan
promo loh. Tapi beneran. Kamu akan diservis dengan pelayanan full AC, tempat
baca yang nyaman (asal jangan sambil tiduran aja hihi). Toko buku yang
berlambang G itu juga terkadang kasih diskon gila-gilaan. Bukan 20 atao 30 %
loh. Tapi sampe 80% padahal bukunya masih layak baca dan gak jauh beda dengan
apa yang mereka tawarkan di etalase utama. Bedanya Cuma kaver lama dan terbitan
lawas. Tapi ya itu, kudu sering-sering maen ke sana buat dapet momen langka dan
diserbu book lovers ya guys.
Eh, ... aku bahas apa yah? Kok ngelantur gak karuan gini
nih.
Aku harusnya fokus ke bukunya Muhidin ya. Gini guys,
sebelum aku rampungi kisah aku dan si buku (cie cie). Ada kata-kata bijak yang
bilang, “Jangan menilai isi biku dari kavernya. Maksudnya pa? Ini sama halnya
dengan ketika kau menilai seseorang dari penampilannya semata. Toh, terkadang
tak melulu yang berjubah dan bersorban itu adlah pemuka agama yang hatinya
bersih dan santun. Tak melulu ‘wakil terhormat’ itu adalah orang berdasi yang
melulu memikirkan rakyatnya dengen fasilitas yang ‘wah’. Malu gak ya mereka
ketika gratifikasi itu termasuk layanan plus-plus, yang notabene itu adalah
uang rakyat. Kalau malu mereka ya gak mungkin ngelakuin itu ya.
Tapi memang benar ketika seseorang di atas, kadang ia lupa
ketika mereka pernah juga merasakan di bawah dan nelangsa. Kemewahan membutakan
hati seorang anak manusia. Itu kenapa dalam Islam hikmah puasa adalah mengekang
hawa nafsu. Nafsu bukan masalah sex semata, tapi lebih kepada keinginan duniawi
yang rasanya tak perlu dipenuhi. Waduh ... aku bahas buku tadinya.
Buku Muhidin ini pasti gelora tentang pelacur semata.
Rupanya tidak. Malah lebih dari itu. Ketika dicari tahu tentang memoar yang
biasanya berupa kisah nyata. Maka penulis pun menjawab ini adalah fiksi yang
didata dari kisah di sekitar kita. Tak semua orang berani menyatakan sikap
dalam kebenaran. Tak semua orang juga berani mengatakan yang benar adalah benar
dan yang salah adalah salah. Pergulatan dalam buku setebala hampir 300 halaman
ini seolah membuka tabir, menyibak tirai yang selama ini tertutup rapat dan
menyukil borok di kaum elit tadi. Hasilnya sungguh mengejutkan. Nidah Kirani
sebagai tokoh utama dalam buku ini bukanlah orang biasa yang terjebak dalam
prostitusi. Bukan juga orang yang frustasi akibat pergaulan bebas. Nyatanya dia
adalah aktivis Islam yang taat dan kritis.
Ketika berdakwah bahkan ia harus membuat doktrin yang
radikal. Bukan hanya kepada orang yang menjadi target. Tapi juga kepada dirinya
sendiri agar senatiasa istiqomah. Di ‘ruang terbuka’ ternyata itu sungguh di
luar nalar dan prasangkanya selama ini. Ada banyak ‘pernak-pernik’ duniawi yang
membuat Kirani semakin bertanya-tanya banyak hal. Bukan hanya seputar Islam itu
saja, tapi lebih kepada apa yang dipelajari terkadang sungguh bertolak
belakang. Ia bertemu dengan banyak wajah, nama, lingkungan dan sederet profesi
yang tak melulu dalam lingkungan universitas. Ia seperti menembus batas dan
menyusuri lorong-lorong berliku.
Wajar saja jika di awal kemunculannya buku ini dianggap
sebagai ahli bid’ah, berbahaya, atheis dan liberal. Ada banyak kalangan yang
khawatir bahkan mengecam tindakan penulis yang melahirkan karya ini. Namun di
satu sisi kita belajar dari Kinan. Ia bukan hanya membuka borok tapi juga
menjadi brutal akibat pikirannya yang seperti tak menemukan wadah dalam
menumpahkannya. Maka jadilah ia dengan seabrek pengetahuan itu dibutakan
pemikirannya sendiri. Ia seakan tak kuat memikul bebannya sendiri. Ia bukan
bermasalah finansial hingga harus menjajakan tubuhnya. Bukan pula rasa penasaran
berlebih terhadap pornografi dan semacamnya. Tapi karena ia tersesat oleh
pemikirannya sendiri dan menanggap sesuatu yang tabu menjadi hal yang wajar dan
masuk diakal.
Pada akhirnya mengutip pesan si penulis, “Toh, Seandainya
saja ada yang tersesat setelah membaca buku ini, jangan melulu menyalahkan buku
ini. Yang kita pertanyakan justru iman pembaca yang bersangkutan: betapa
tipisnya iman mereka yang tersesat hanya dengan membaca isi buku kecil ini”. Alangkaah
piciknya jika ini menjadi tolak ukur kadar keimanan seseorang. Ada baiknya bagi
siapapun yang tak terbiasa dengan nalar kritis, sebaiknya kesampingkan buku
yang mendebarkan dan menciutkan nyali tentang eksisitensi hidup manusia. Karena
bagi aku pribadi sebaiknya buku ini memang patut diwaspadai—bagi kadar iman dan
pengetahuan yang minim, rendah. Dan betapa tidak mudahnya kau setelah bertarung
dengan diri sendiri karena membaca kajian filsafat dan psikologi yang akut.
Dibumbui dengan dialog yang menohok, maka buku ini wajar jika dicetak
betkali-kali layaknya tetraloginya Pramoedya Anmanta Toer.
Biklah sidang pembaca yang budiman, aku akan kutib
sebagian halaman yang pasti menarik untuk dikaji. Saranku, belilah buku ini
agar tahu isi keseluruhan. Soalnya jariku pasti keriting kalo suruh reploud ini
buku. Hehe ...
......
Hlm 163
“Midas, manusia itu sebenarnya bisa menjadi Tuhan.”
“Bercanda kamu, mana bisa manusia yang makhluk itu bisa
menjadi Tuhan yang notabenekeduanya berada dalam lokus yang berbeda.”
“Aku serius. Sangat Serius. Iblis sendiri yang mengatakan
itu.”
“Iblis kok dipercaya.”
“Justru iblis kupercaya. Sekian lama ia dicaci, diimaki,
dimarjinalkan tanpa ada yang mau mendengarkannya. Sekali-kali bolehlah kita
mendengarkan suara dari kelompok yang
disingkirkan, kelompok ynag dimarginalkan supaya ada keseimbangan informasi.”
“Kamu baca ide itu dari mana, Kiran?”
“Yang jelas bukan pemikir yang berotak kerdil.”
“kutanya Midas, “Kamu kenal konsep imito dei?”
“Tidak!”
“Dengarkan! Konsep itu berasal dari kata-kat iblis ‘’eritis sicut Dei’. Kamu bisa seperti
Tuhan.’ Kata-kata seperti itu diucapkan iblis takala melihat Adam disingkirkan
oleh Tuhan setelah dibekali kemampuan menyebut nama-nama yang kemudian kita
istilah-istilahkan sekarang dengan wacan atau ilmu pengetahuan.”
“Tapi manusia bukan Tuhan, kamu tahu itu kan?”
“Aku katakan menjadi
bukan sama dengan kedua kata itu
berbeda. Kata menjadi menunjuk pada proses dan bukan hasil jadi.
Jadi, manusia berprosesmenjadi Tuhan. Dengan syarat: ia mau dan mencari.”
“Kkutegasksn padamu Das bahwa manusia itu punya kekuatan
untuk itu. Ia sudah dibekali dengan
pengetahusan tentang nama-nama. Aku
tidak sepakat dengan kejatuhan Adam yang disebut-sebut sebagai kejtuhan
diakibatkan peselingkuhannya dengan Hsawa. Menurutku, kejatuhannya disebakan
kecemburuan Tuhan.”
.....
Selanjutnya carialh buku ini di toko buku terdekat yah
.... makasi udah mampir ke blog yang sederhana ini.
Salam.

Komentar
Posting Komentar