Resensi Buku
Jambi, 23 september 2016
Kegelisahan Anak Daerah
Judul: Gunung Melukis Memorinya
Penulis: Andang Ridwan dkk
Penerbit: SalimMedia
Tebal: xiv, 252 halaman
ISBN: 978-602-6785-27-5
Cetakan: Pertama, Mei 2016
Setiap penulis
akan selalu bertanya, “Siapa teman saya?” selalu begitu. Bahkan penulis
sekaliber DEE pun demikian—menanyakan sebuah sebab kenapa dia ada di dunia ini.
Bukan bearti rasa egonya menuntut dengan siapa dan harus berteman. Tidak! Ini
adalah sebuah simbol bahwa sebagai makhluk sosial ia cenderung bersosialisasi.
Toh, penulis pun tak akan pernah bisa menyentuh hal-ihwal yang mendasar tanpa
sebuah jalinan persahabatan. Dalam diri setiap penulis senantiasa
bertanya-tanya tentang apa yang ia tuliskan, sebagai bentuk dari rasa tanggung
jawabnya, mencatat sesuatu hal yang bersifat maknawi. Itulah sebabnya ia terus
mencari keberadaan ‘makhluk tuhan’ yang bernasib sama dengannya: penulis.
Begitupun ia
berkarya, dengan legawa ia menyambut baik setiap pemikiran seprofesinya. Baik
dalam bentuk soft atau hard. Ketika seseorang membaca karya
lain, dalam hati kecilnya ia bisa menyanding-bandingkan antara satu dan
lainnya. Ia tak berhak menjudge
dirinya adalah terbaik atau dirinya tak mengalami sebuah kevakuman. Tapi itu
adalah bentuk dari sebuah rasa kemanusiaan, artinya ia peduli sebagai
lingkungan di sekitarnya.
Warna merah muda
Sekilas
mungkin pembaca tak percaya pada sebuah kesimpulan? Tapi pada kenyataannya,
setiap penulis mengawali karirnya dalam sebuah kegelisahan. Mereka menyebutnya
cinta. Atau dalam sekumpulan warna, maka seseorang menyebutnya dengan merah
muda. Warna yang unik dan berkarakter. Ini tak akan ditemukan jika tanpa ada
itu semua. Dalam sebuah karya pun, warna ini bukanlah tabu dan senantiasa
fleksibel. Dalam sebuah buku apik ini pun dilabeli dengan aneka warna dari ping
itu sendiri.
Kisah-kisah
sederhana namun membekas dalam ingatan, itulah cinta—sebuah dunia yang tak
mengenal usia—tapi bermekaran ketika remaja. Apa yang terjadi pada Andang
Ridwan mungkin juga terjadi pada Asmarita. Pun pada Kinan, Deni dan Yuliana
sebagai cerpenis muda yang tak pernah bisa membohongi diri.
Lalu adakah
yang membedakan antara kumpulan cerpen ini
dengan buku lainnya? Tentu dan ini yang membuat penulis tertarik
menggeluti dunia tulis-menulis. Ini pula yang menentukan sebuah identitas—dari
mana ia berasal. Seperti tertulis di biodata narasi, mereka adalah mahasiswa-mahasiswi
IAIN. Siapapun tahu jika mengacu pada lembaga itu adalah simbol dari perguruan
agama Islam. Sudah sepatutnya mereka bersyi’ar dalam sya’ir. Tepatlah kiranya
cerpen menjadi media paling mudah ‘ceramah’ yang jauh dai rasa bosan. Ada nilai
dakwah terkandung di dalamnya.
Coba perhatikan
ketika Kinan membuka cerpen “Bukan Dia Tapi Aku”. Di kalimat pertama ada kata
‘bismillah’, dari sana sudah tergambar jelas sebuah nilai religius. Demikian
ketika Asmarita pada “hijrah Cinta” ia tak pupus harapan ketika menggapai cinta
itu sendiri. Sebuah kisah manis, menderai air mata sekaligus membuat hati geram
pada sikap Diki. Di sana tersemat rindu dan harapan. Tapi sayangnya tak seperti
yang senantiasa ia panjatkan dalam doa. Semuanya berbelok, dengan tabahnya ia
menulis, ‘’Ketenangan itu kudapat ketika aku mendekatkan diri pada Ilahi.”
Ketika membuka
lembaran berikutnya. Mereka bukanlah seperti kacang lupa pada kulitnya. Mereka
tetaplah anak-anak yang santun dan cerdas. Disispinya ‘iklan’ kecil tentang
danau bening yang berada di puncak gunung. Tak ada yang menyangkal jika Jambi memiliki
potensi alam tak kalah indahnya, sebagai bagian dari negeri yang kaya akan
panorama alamnya. Tengoklah cerpen “Salah Paham” membuat pembaca gregetan pada
khayalan tentang ngarai-ngarai dan beningnya air yang turun dari sana. Melucuti
‘anak Jambi’ itu sendiri tentang sebuah objek wisata nan elok. Di manakah
gerangan Danau Deputi?
Hal menarik yang
tak bisa dipungkiri dari kumcer ini adalah “Kincai” dan “Padusi rancak”. Jika
buku ini berada di tangan pembaca yang berada di luar provinsi, tentu
bertanya-tanyalah mereka? apa benar bahasa di daerah ini sebegitu rumit dan
beranekaragam? Apa mungkin kota beriklim tropis memiliki sebuah gunung yang
berhawa dingin? Apa pula yang membuat Bangko sebegitu bermakna? Hingga kesan
mendalam itu ia seakan mengajak pembaca untuk sampai ke sana—Jangkat.
Kincai adalah
sebuah sebutan bagi orang Kerinci. Memang ia tak terlalu muluk tentangnya tapi di sana pun kita dibuat terkagum pada keragaman
bahasa, sebagai ciri dari sebuah daerah. Begitupun “Padusi Rancak” yang
dituliskan Kinan menjadi tolak ukur tersendiri. Ia bukan hanya bertutur tentang
hangatnya sebuah keluarga Inun dan Ira. Tapi ia mencoba menggali ranah Minang
lewat tutur katanya. Karena bagaimanapun, terkadang ada hal-hal yang sulit
dijelaskan menggunakan bahasa Indonesia tapi indah dilafalkan dalam bahasa
daerah. Ini juga sebagai bentuk dari rasa cintanya kepada asal-usul nenek
moyang.
Kegelisahan-kegelisahan
sebagai jiwa muda terpapar di sini. Dalam cerpen “Bunga Desa Layu di Kota” bisa
dikatakan berhasil memetakan sebuah pergaulan di kota kecil ini. Bisa jadi
terjebak dalam sebuah arus ‘kaum urban’, membuat seseorang harus berjibaku
dengan sebuah gengsi. Betapa mirisnya itu. Di lain sisi sebuah cerpen dikatakan
berjalan tak mulus. Ketika ia tak berpihak pada karakter tokoh rekaannya, maka
keegoan pengarang yang masuk dalam cerita. Ini mungkin dikatakan lemah
menampilan dalam ‘tersirat yang tersurat’. Karena sebuah karya sastra bukanlah
sebuah kegamblangan semata, tapi simbol yang disematkan pun seringkali menjadi
sebuah nilai tersendiri.
Jika sebuah
gunung adalah lambang dari kebesaran, maka patutlah mereka berbagga diri.
Karena dengan terbitnya kumcer ini setidaknya studi yang ditempuhnya bukanlah
sebuah kebohongan. Seperti dikutip seorang dosen, adalah ‘real’ dari karya sastra itu sendiri. Dan dalam sebuah gunung
terdapat sebuah ingatan yang membuatnya menjadi kian kokoh. Itu kenapa nyiur
dan lautan menjadi perpaduan manis ketika bersandingan. Lantas stalistika
adalah sebuah gaya bahasa yang ‘keluar’ dari studi. Tak melulu cerpen “Who Is Me” menjadi kalimat panjang yang
disusun dalam pakem bahasa Inggris. Dan siapa sangka persahabatan yang berada
di dunia nyata itu pun terjadi di dunia ‘imaji’. Tak ada yang mengira juga jika
mereka adalah utusan daerah yang bertutur pada kegelisahan ‘orang kota’.
Jika saja
penulis lebih jeli memperhatikan ejaan yang disempurnakan, maka layaklah buku
ini menjadi tolak ukur sebuah seberapa jauh dan besarnya mahasiswa Jambi dalam
berliterasi. Begitulah kiranya, anak-anak muda di Jambi perlu mengasah
kreatifitas dalam karya tulis.

Komentar
Posting Komentar