Agustusan
Agustusan
Apa yang terpikir tentang Agustusan di benakmu? Apa yang kau bayangkan
tentang lomba yang ada? Sampai detik ini, tepatnya seminggu setelah hari
kemerdekaan negara ini 17 agustus. Tentu sederet angka yang tak lagi muda.
Hampir seabad, 73 tahun usia kemerdekaan negara yang terjalin dari
Sabang-samapi Maureuke. Kita atas segenap selalu bangga pada negara ini, pada
merah putih, pada jati diri, pada ideologi, pada semua unsur yang membangun
Indonesia. Seperti kata komentator sepak bola tersohor Vallen, “Siapa kita?”
“Indonesia” “Siapa kita?” “Indonesia”
Sedemikian cintanya kita pada bangsa ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Maka ketika lagu “Indonesia Raya” dikumandangkan serentak bulu kuduk pun
merinding. Air mata juga meleleh. Jiwa ini pun bersatu menyebut ‘Indonesia’. Bayangkan
ketika suporter bola yang nota bene fanatik itu. Bayangkan ketika di sebuah
stadion bola, Persipura bertemu Persija. Maka ‘yel yel’ dari dua club itu
saling beradu. Mereka—suporter itu—kadang saling ejek bahkan saling serang,
bukan hanya argumen. Tapi di luar lapangan pun kadang berlanjut menjadi brutal
dan sadis.
Itu adalah segelintir ‘ngeri’nya kita ketika mendukung kesebelasan di negeri
ini. Dan betapa fanatiknya mereka hingga kadang rela darah harus bercucuran. Namun
betapa mencengangkan ketika Timnas kita bertanding. Katakanlah melawan
Malaysia. Maka Indonesia pun bersatu. Dari
Sabang samapi Merauke. Berjejer pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu.
Itulah Indonesia. Rasanya tak salah jika NKRI adalah harga mati. Sebuah
semboyan yang menyatukan seluruh rakyat Indonesia. Bagaimanapun keadaan negara
ini maka itulah yang kita sanjung puji di hadapan negara lain. Karena betapa
menggeloranya dulu Bung Karno mengikrarkan kemerdekaan ini. Bagaimana keinginan
Bung Tomo menyatukan ‘Yong’ dalam Sumpah Pemuda.
Cintanya kita terhadap tanah air adalah cintanya kita pada keutuhan negara
sebesar ini. Terdiri dari 17 ribu pulau. Jika saja keinginan sang presiden
mengunjunggi tiap pulau itu maka berapa tahun? Sedangkan dalam hitungan hari
hanya 365 hari. Dari berbagai suku bangsa dan aneka ragam bahasa, orang sebesar
Gajah Mada rela tak makan ‘buah pala’ untuk menyatukannya—nusantara. Betapa
kayanya bangsa yang bernama Indonesia.
Dan ... di awal tulisan saya menyinggung tentang lomba. Ada apa? Adakah yang
salah? Di satu sisi rasanya terkesan membuang waktu dan kurangnya kreatifitas.
Ada juga pendapat dari seorang tokoh yang berkata ‘terbelakang’ dan monoton. Coba
kau bandingkan dengan negara Jepang, Amerika, Jerman, Rusia, Cina dsb. Tentu
rasanya mustahil mereka—negara itu—mengikuti setidaknya mendekati cara kita
merayakannya. Memang rasanya lucu dan menyenangkan. Lihat saja di berbagai
negara jika ditemukan orang Indonesia, maka tanpa sungkan mereka merayakan.
Meski di ujung dunia. Agustusan terus dilestarikan dengan semangatnya, dengan
segala kemeriahannya dan dengan segala cinta yang ditanamkan pendiri negeri ini
pada anak cucu. Bahwa Indonesia punya harga diri yang tak boleh diinjak-injak.
Tapi ... sejenak, adakah yang tahu tentang makan lomba-lomba Agustusan itu?
Ada sederet lomba: panjat pinang, lomba karung, enggrang, memasukkan paku ke
botol, makan kerupuk dsb. Dari berbagai sumber yang dihimpun. Sebenarnya ada
hal pilu dan menyakitkan memang ketika lomba itu diadakan. Misalnya ‘panjat
pinang’. Di masa penjajahan, Belanda menamakannya ‘de kalimas’ yang artinya
panjat tiang. Mereka membuatnya dengan tujuan melecehkan. Betapa jijiknya
mereka ketika melihat orang—kita—diperolok. Posisi orang di bawah yang
dinjak-injak, artinya sama dengan kondisi rakyat saat itu yang morat-marit
memperjuangkan kemerdekaan. Nah, di puncak tiang itulah digantung beras. Rakyat
berebutan dengan saling injak tadi. Dan si penjajah tertawa. Maksudnya mereka
melihat betapa bodohnya rakyat jelata yang memperebutkan sesuatu—beras—yang
bagi si penjajah itu tak bearti.
Kita telah melewati masa-masa sulit terlalu lama dan itu sangat membekas
hingga kini. Tentu kita sebagai generasi penerus tak boleh lupa akan masa
perjuangan mmmempertahankan keutuhan bangsa dan mempertaruhkan jiw raga demi
sebuah kemerdekaan. Tak mudah memang dan sangat menyakitkan jika menilik
sejarah. Bagaimana kita harus merasakan penderitaan menjadi romusha, kerj rodi
dan warisan kolonial yang kadang justru menhancurkan ideologi.
Mungkin kita terus saja mengenang dan melihat kehncuran dan kebangkitan
Indonesia dengan sudut pandang yang berbeda. Tentu saja pro dan kontra tentang
lomba Agustusan itu ada. Boleh saja ada tokoh yang nyinyir sambil membandingkan
dengan tetangga misalnya. Tapi tahukah kau jika filosofi sesungguhnya dibalik
lomba demi lomba itu? Adakah yang meresapinya hingga sampai detik ini seluruh
pelosok negeri merayakannya. Mungkin sepele dan kesannya ‘lucu-lucuan’. Itulah
negeri ini; unik dan berkarakter. Artinya kita tak melulu bodoh dan
terbelakang. Hanya dengan kesederhanaan kita justru bahagia dan rasanya memang
negara di dunia ini tak memiliki itu.
Kita selalu mencoba tersenyum dengan segala penderitaan yang ada. Bahkan
mirisnya mentertawakan diri sendiri. Ya itulah Indonesia. Tak ada yang tahu, dengan adanya lomba Agustusan, tiap
individu menjadi erat dan saling kenal meski dijembatani oleh ras dan bahasa.
Karena suku bangsa yang banyak itu tak akan mungkin bersatu dengan sebuah
‘pesta’ kecil, murah dan terbuka untuk semua umur. Rasa-rasanya memang tak ada
negara manapun di dunia yang melakukan hal remeh itu. Pada kenyataannya dengan
begitu, kita justru memperkuat individu yang terbentang oleh ras tadi. Atas
nama indonesia kita bersatu, bukan hanya suara tapi jiwa ini. Maka jangan
salahkan jika ada yang menyebut, “Siapa kita?” maka serentaklah menjawab,
“Indonesia.”
Jambi, 22 Agustus 2018
Komentar
Posting Komentar