I Am A Writer
Jambi, 22 Sep. 18
I Am A Writer
Aku pernah menulis sebuah status yang isinya tulisan
melulu, maksudnya apa? Artinya mengindikasikan bahwa aku suka dalam kegiatan
tulis-menulis, literasi. Dan untuk menguatkan itu aku pun membuat bio begini: I
am a writer. Mungkin aku terbawa arus ‘ikut-ikutan’ alias mengekor kepada orang
yang terlebih dulu dari membuat bio demikian.
Ada yang salah? Rasanya tidak. Sepintas mungkin begini,
(sebagai awam dan pembaca timeline) pendapatku ketika membacanya maka akan
mengira itu adalah akun seorang penulis. Jika demikian maka tentulah ia sudah
mempunyai karya yang apik. Atau setidaknya diakui bahwa ia seorang yang
bergerak di bidang tulis menulis. Wah ... alangkah senangnya dia. Berkecimpung
di dunia yang ‘aku banget’. Pasti setiap harinya ia akan melakukakan kegiatan
yanng tak jauh atau boleh dikatakan terus menulis.
Pada kenyataannya, tidaklah demikian seorang yang ‘’a
writer’ itu. Seorang (yang profesinya) menulis tidaklah selalu menulis;
artikel’ novel, berita, cerpen, puisi dll. Ia mungkin saja seorang buruh kasar,
karyawan swasta, pegawai negeri atau jangan-jangan presiden! Siapa tahu kan?
Nah ... inilah yang jadi pertimbangan dan mengubah persepsi ku tentang
kedudukan penulis mulai berubah. Bahwa penulis pun harus berinteraksi pada dunia di sekitarnya. semisal ia pekerja kasar, maka ia akan 'sesuatu' tentang pekerjaannya. atau pandangannya tentang pekerjaan yang dijalaninya. Tak melulu penulis bearada di depan komputer, ia bisa saja berkelana. Sebagai contoh, mungkin kita bisa liat Fiersa Beshari.
Pria yang dipanggil 'Bung' itu dengan lugas bercerita di antara kegiatan alam--di luar ruangan. Ia mengisahkan suka-dukanya dengan balutan keindahan sekaligus keterjalan sebuah gunung. Di lain waktu ia menerjemahkan perasaannya yang hancur itu dengan memilih sebagai seorang traveler. tentu bukan sebagai traveler 'berduit'. Ia murni sebagai lebih tepatnya petualang. Bagaimana kisahnya bisa semacam kiblat untuk setiap individu yang tertarik di dunia tulis menulis. Bagaimana memulainya? tentu saja dengan melakukan kegiatan 'out of the box'. artinya seorang penulis adalah seorang yang paling banyak melakukan sebuah eksplorasi terhadap dunia ini. Salah satunya adalah cinta.
Nyatanya benar, “Profesi penulis tidak tercamtum dalam
sebuah profesi di KTP-mu,” tulis Tasaro GK dalam sebuah novelnya. Aku lupa
judulnya apa? Kalau tak salah itu buku yang mengulas tsunami di Aceh tahun 2004
silam. Jadi, kesimpulannya penulis bukanlah sebuah profesi yang menjanjikan di
mata masyarakat, katakanlah Indonesia. Eh, wartawan penulis bukan ya? Rasanya
kata ‘penulis’ sudah mengalami penyempitan makna. Sebab di mata orang awam,
seorang yang melakukan kegiatan tulis menulis adalah wartawan. Ya hanya profesi
itu yang mongorek peristiwa; ada yang mendramatisir dan ada pula yang seutuhnya
berdasarkan fakta sebenarnya—bukan hoaks.
Jika kau menjadi juru ketik itu pun belum tentu disebut
penulis. Mungkin di era sekarang profesi ini tak ada. Sekarang dihaluskan
menjadi sekretaris atau admin. Ya mungkin kata admin menyangkut banyak hal.
Bisa jadi seseorang yang mengurus sebuah akun media sosial, atau bisa jadi ia
seorang yang tugasnya mendata dan membuat sebuah laporan yang akurat. Lantas.
Siapakah penulis dan apa yang ia kerjakan? Sementara seorang guru yang membuat
surat-menyurat kebutuhan dinas pun bisa dikatakan penulis. Pada akhirnya seorang
penulis ‘diarahkan’ menjadi seorang yang mengisahkan dunia fiksi ke dalam dunia
nyata. Dengan beragam pemikiran, akhirnya seorang penulis memang tak pernah
lepas dari kegiatan ‘dunia khayal’ atau berada di dunia imajinatif tentu
seorang yang pandai mengimajinasi.
Pada suatu kali ada yang berkomentar, “Mana tulisanmu?
Ngakunya seorang penulis!” sebenarnya ini tamparan pedas bagiku. Namun apa daya
setelah bertahun-tahun lamanya, memang aku tak menghasilkan sebuah tulisan yang
mahadasyat. Artinya aku belum menjadi panutan ketika disebut sebagai seorang
penulis tadi. Semestinya seorang penulis memang (mau tak mau) harus membuahkan
pemikirannya dalam sebuah karya. Katakanlah itu cerpen, puisi atau novel.
Paling keren jika ia bisa memunculkannya di sebuah media massa.
Ada kalanya media massa menjadi tolak ukur seorang
penulis. Jika berhasil dimuat di sebuah media cetak, maka berhasilah ia menjadi
seorang penulis. Tapi sayangnya seorang yang harusnya disematkan kata penulis
tadi, tak sertamerta menjadi penulis sejati. Setelah beberapa karyanya muncul
maka terkadang entah berapa lam ia vakum. Kemudian tak menghasilkan apapun
kecuali celoteh yang tak terlalu perlu. Malah sambil berteriak, “akulah
penulis!”
Betapa kerasnya berjuang untuk menjadi seorang penulis
itu. Menghasilakn karya yang bagus itu tidaklah mudah. Kau harus konsisten pada
apa yang kauterapkan. Pada apa yang kaucita-citakan. Pada apa yang kauimpikan. Menjadi
penulis nyatanya harus mengalami patah arang dan penolakan yang entah berapa
kali. Artinya itu sama dengan ketika kau menawarkan sebuah pemikiran dan orang
lain menolaknya mentah-mentah. Bisa jadi dalam kasus ini, karyamu yang dikirim
media itu justru ditolaknya. Kau mendapat email balasan, bisa juga tidak.
Kau harus bertarung dengan lautan manusia dari penuru
negeri bahwa tulisanmu dimuat di sebuah media massa. Surat kabar selevel KOMPAS
misalnya. Tentu akan kebanjiran tulisan setiap harinya. Dan ... sebagai
redaktur, rasanya tak begitu saja memuatnya. Misal ada 100 orang pengirim
cerpen setiap harinya. Apakah semuanya dimuat? Rasanya tak mungkin. Sebab dalam
setiap kali edar, maka hanya hari minggu cerpen itu muncul. Ya tentu saja itu
membutuhkan ketelitian dan kesabaran si redaktur memilih sebuah karya apik
untuk menjadi terbaik di antara yang terbaik. Nah ... bisa dibayangkan bukan
ketika seorang penulis harus menyingkirkan ribuan orang pengirim setiap
edisinya.
Kesimpulannya ... sebuah bio ‘i am a writer’ ternyata tak
melulu aku adalah seorang penulis TOP. Tapi lebih kepada agar aku menjadi seorang
penulis. Itu adalah doa. Toh, dalam agama kita selalu diajarkan untuk berbuat dalam kebaikan, termasuk dalam bermedia sosial. Lantas, siapa seseorang yang dikatakan penulis? Sebagai orang yang 'doyan' ilmu, maka aku tak segan bertanya kepada senior. "Seseorang yang menulis adalah orang yang mampu mencurahkan pikirannya. Jika ia menulis puisi, maka ia ddisebut penyair. Jika ia rajin menulis cerpen maka ia disebut cerpenis. pun begitu jika ia getol menelurkan novel, maka orang menyebutnya novelis. Jadi kesimpulannya baik penyair, cerpenis atau novelis mereka adalah penulis."
Ciri seorang penulis adalah seseorang yang berdebat dengan dirinya sendiri bahwa ada sesuatu dalam
dirinya ingin keluar; oncat. Lantas bisakah seseorang yang membuat status di media sosial dikatakan penulis. Ya, bisa kenapa tidak? Sebab mereka pun mengeluarkan idenya dalam sebuah wadah. Yang membedakan adalah jika penulis sejati mampu menyihir pembaca dengan pemikirannya. Sementara penulis 'seenak hati' belum berkontribusi secara baik ke khalayak. Menulis adalah pekerjaan berat. Menulis bearti memikirkan sesuatu, menelaahnya, memilahnya dan menerjemahkan bahasa kalbu dengan sesantun mungkin.
Komentar
Posting Komentar